
Sepanjang hari, aku sudah menghabiskan waktuku menyusuri jalan panjang ini. Tidak ada kabar terbaru mengenai Dika dan aku memutuskan untuk kembali ke rumah.
Baru saja aku memasuki ruang tengah, aku sudah mendengar suara Daddy memukul-mukul pintu sambil berteriak.
"Hana buka pintunya nak, kami hanya ingin melihatmu" pinta Daddy dari luar kamar itu. Kami pun segera menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi Dad?" tanyaku pada Daddy. Daddy menjelaskan keadaan yang sedang terjadi dan tak lama datang mba Sri sambil membawa beberapa anak kunci di tangannya, dengan cepat Daddy membuka pintu itu.
Astaga, apa yang kau lakukan Hana.
"Apa yang kau lakukan HAH?" seru Daddy pada Hana yang saat itu sedang gelap mata.
"Jangan mendekat, menjauh dariku tidak akan ada yang bisa menyentuh tubuhku, kalau kalian berani mendekat, aku tidak akan segan melakukan ini" ucapnya dengan raut wajah ketakukan dan tubuhnya yang gemetar sambil memegang serpihan kaca yang sudah ada di tangannya, entah dari mana dia mendapatkannya, ku lihat telapak tangannya pun sudah mengeluarkan darah. Matanya pun menerawang seluruh ruangan ini. Isak tangisnya semakin kencang, mungkin dia tidak mengetahui keberadaannya sekarang karena kamar ini pun belum lama di renovasi Mommy.
"Kau ingin mati? kalau kau ingin mati lebih aku yang membunuhmu, aku puas kalau aku sendiri yang membunuhmu, jangan harap kamu bisa pergi terlebih dahulu sebelum kami mendahuluimu" ucap Daddy dengan segala emosi di tubuhnya, kami pun berusaha menahan tubuh Daddy yang saat ini sedang mendekati Hana dengan kalut.
"Daddy jangan seperti Dad, kalau Daddy seperti ini bagaimana dengan Mommy nanti" ucapku pada Daddy sambil berusaha menenangkannya, kami tarik perlahan tubuhnya agar menjauh dari Hana. Ku lihat Mommy yang menangis tanpa henti melihat kelakuan suami dan putrinya itu.
"Kau ingat saya Hana?" tanya tiba-tiba seseorang kepada Hana. Seketika Hana menatapnya, tatapan yang semula terlihat ketakutan berubah menjadi tatapan sendu yang seakan berusaha meminta pertolongan darinya.
Dia adalah pria itu dan sejak kejadian waktu lalu aku pun sudah mengetahui namanya, nama dia adalah Li. Nama yang simple bukan?
Saat aku merenungi kejadian tadi, pikiranku terlintas tentang Li, sepertinya orang itu mengetahui banyak tentang apa yang terjadi dengan Hana. Aku pun kembali ke sekolah itu untuk meminta bantuannya. Syukurlah dia bersedia untuk membantuku.
Melihat kondisi Hana yang seperti itu akhirnya kami menggunakan obat penenang untuknya. Inilah jalan satu-satunya untuk saat ini. Untuk menghindari kejadian tadi terulang lagi kami pun membawa Hana untuk istirahat di kamarnya.
Karena ini bisa dikatakan hampir menjelang malam, sudah bisa dipastikan setelah Hana menerima efek obat itu kemungkinan Hana baru akan bangun besok pagi dan Mommy pun sedang mengobati tangannya, biarlah Mommy menemaninya di sini. Dan kami mengajak Daddy untuk membicarakan masalah ini.
Ku lihat yang saat ini merasa tertekan bukan Hana saja melainkan Daddy pun sangat tertekannya dengan Hana, apalagi saat putri kesayangannya yang sangat ia jaga ingin mengakhiri hidupnya tanpa tahu apa yang sedang dialami olehnya.
Kami pun tiba di ruang keluarga, ku bawa Daddy untuk duduk di sofa tak lupa mba Sri membawakan kami beberapa minuman.
Hening
Suara keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh Li dengan kata-katanya.
"Sebenarnya saya pernah menyelamatkan Hana"