
Mira POV
"Mom, apa kakak tidak menyayangiku? Kenapa kakak jahat padaku Mom, aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak sengaja menabrak kakak Mom, aku sudah meminta maaf sama kakak Mom, Mommy yang mengajariku kalau aku minta maaf di saat aku salah kakak akan menyayangiku, aku sudah melakukan itu Mom." ucap panjang lebar Hana padaku dengan isakkan tangisnya yang menyesakkan. Hatiku tidak sanggup mendengar racauan Hana yang begitu memilukan, ku dekap erat tubuhnya, kuciumi pucuk kepala Hana.
"Kakak menyayangimu nak, mungkin saja kakak hanya kesal karena minumannya tumpah dan tidak punya uang untuk membelinya lagi" jawabku sambil menggoda Hana. Hana yang mendengarkan aku bicara tiba-tiba menghentikan tangisannya dan menatapku.
"Benarkah Mom? kakak sudah tidak punya uang?" ternyata Hana memastikan itu. "Tunggu sebentar Mom" pintanya lagi, dia pun berlari menuju kamarnya, tidak lama dia kembali lagi padaku sambil menyodorkan satu buah kotak yang aku yakini itu adalah tabungan miliknya.
"Mom, aku masih mempunyai uang disini, Mommy bisa memberikan ini untuk kakak supaya kakak bisa membeli lagi minumannya dan tidak marah lagi padaku" pintanya dengan wajah polosnya Hana mengatakan itu padaku dan airmataku pun kembali lolos begitu saja melihat sikapnya terhadap sang kakak, walaupun sang kakak tidak pernah bersikap baik padanya, tapi baginya Brian tetaplah kakak yang ia sayangi.
Kaki ini terasa lelah karena sejak tadi kami berdiri. Bekas tumpahan tadi pun sudah dibersihkan oleh mba Sri dibantu dengan mba Asih. Aku pun membawa Hana ke arah sofa, ku dudukkan dia di atas sofa.
"Kamu mengantuk nak?" tanyaku padanya karena biasanya di jam-jam ini waktunya Hana tidur siang, dia pun hanya menggangguk, mungkin karena memang sudah mengantuk dan lelah menangis. Sungguh aku sangat khawatir melihatnya tadi, beruntung aku menuruti permintaan Irham waktu itu untuk membawanya check up, setidaknya mengurangi resiko terulangnya kejadian dulu, dimana tiba-tiba Hana hanya terdiam kaku tanpa merespon apapun setelah lelah menangis.
Akupun hanya bisa menangis dalam diam. Ku sapu airmata yang terus menerus turun ke pipiku. Tanpa kusadari ada yang memperhatikanku.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Irham padaku dan dilihat wajah putrinya yang sedang tertidur, keningnya pun berkerut menandakan kebingungan di wajahnya. "Ada apa, apa yang terjadi?" tanya Irham kembali padaku.
"Tidak apa-apa Mas, aku hanya mengingat Hana sewaktu masih kecil, sekarang dia sudah sebesar ini" jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke Hana, aku sengaja menutupi semua ini karena bila Irham tahu kejadian tadi pagi, entah apa yang akan diperbuatnya. Tiba-tiba Irham menarik daguku dan membawanya untuk menatap dia.
"Apa yang terjadi?" kulihat wajahnya sudah tidak bersahabat, sepertinya dia mengetahui kebohonganku. Kubawa dia menjauh dari sofa seketika itu juga aku peluk tubuhnya, kutumpahkan segala kerisauan yang ku alami dan tangisku pun pecah saat itu juga.
"Mas, Brian anakku, Hana juga anakku Mas. Apa aku sebagai ibu terlalu membedakan mereka Mas, jawab Mas?" pikiran yang selama ini aku pendam, aku tumpahkan semua. "kalau iya, tolong beritahu aku Mas bagaimana caranya supaya aku bersikap adil kepada mereka, tapi tolong jangan suruh aku untuk memilih mereka" ucap Hana dengan suara yang sudah melemah karena tekanan emosi yang tercekat di tenggorokannya. Tanpa banyak bicara Irham meninggalkan ku begitu saja, aku tahu dia akan kemana. Dan benar saja.