"My Little Angel"

"My Little Angel"
Thirty



Seandainya burung merpati masih dapat menjalankan tugasnya, bisakah ku titip satu pesanku? Tolong sampaikan pesanku pada seseorang di sana, sampaikan bahwa aku merindukannya, merindukan seorang Hana, adikku.


-------------------------------------------------


Tahun ini, tahun ke enam kepergiannya. Walaupun terasa berat untukku tinggal seorang diri disini. Aku sudah merelakan ke dua orangtuaku untuk pergi bersamanya, Daddy pernah mengajakku untuk tinggal bersama mereka di sana, di kampung halaman Daddy. Tapi memang karena tekad awalku untuk melanjutkan pendidikan di sini, di universitas favoritku. Awalnya Daddy bersikeras agar aku ikut bersamanya tetapi dengan keyakinanku aku bisa meyakinkan mereka untuk percaya kepadaku.


Flashback on


Ku dengar suara tangis Mommy menggema dari dalam kamar, Daddy pun berusaha untuk menyelamatkan seseorang di kamar itu. Seseorang itu adalah Hana, kondisi Hana memburuk setelah beberapa hari kepulangannya dari rumah sakit.


Tak lama terdengar suara ambulance tiba di rumahku, aku yang kebingungan pun mencari tahu apa yang terjadi. Ku dengar dari luar kamar suara Daddy berbicara dengan petugas ambulance itu, entah apa yang dibicarakan Daddy. Ku lihat Daddy sibuk memasang beberapa alat di tubuh Hana yang ku tahu alat-alat itu penopang hidup Hana. Tak berselang lama Daddy keluar dengan ambu di kedua tangannya. Ku dekap tubuh Mommy yang terasa dingin, mungkin sudah sejak tadi Mommy menangis.


Daddy pun pergi menggunakan mobil ambulance itu sedangkan aku dan Mommy menyusul memakai kendaraan kami.


'Ya Tuhan apa yang terjadi dengan Hana, ku harap dia baik-baik saja'


"Mom percayalah Hana akan baik-baik saja, ada Daddy yang menanganinya" ucapku pada Mommy tapi Mommy tidak merespon apapun yang aku katakan pandangan Mommy kosong.


Tidak lama kemudian kami pun tiba di rumah sakit. kami pun bergegas ke ruang ICU, hampir dua jam kami menunggunya dan akhirnya Daddy keluar dari ruangan itu dan menghampiri kami.


"Kenapa harus ke Jerman, Dad?" tanyaku pada Daddy


"Maaf nak, kalau keputusan Daddy bertentangan dengan keinginanmu tapi Daddy tidak bisa berbuat apa-apa disini. Tadi Daddy sempat menanyakan beberapa sahabat Daddy di Jerman dan mereka menyuruhku untuk membawa Hana ke sana" jawab Daddy dengan tangisannya.


Bayangkan, seumur hidupku baru kali ini aku melihat Daddy mengeluarkan airmatanya, bahkan saat aku lulus dengan hasil cum laude Daddy sama sekali tidak menitikkan airmata walaupun itu airmata bahagia seperti orangtua teman-temanku, tetapi saat ini yang ku lihat adalah airmata kesedihan, kesedihan orangtua yang tidak bisa berusaha lebih untuk menyelamatkan anaknya.


"Nak, sebaiknya kamu ikut kami ya, kami tidak mungkin meninggalkan mu sendiri disini, Daddy akan carikan sekolah terbaik sesuai keinginanmu" pinta Daddy padaku.


Aku dilema di satu sisi aku tidak ingin berjauhan dengan mereka dan di sisi lain aku sangat ingin melanjutkan pendidikanku di sini. Dengan berat hati aku putuskan keputusanku saat ini.


"Dad, apa Daddy percaya padaku?" tanyaku padanya dan ia pun menganggukkan kepalanya.


"Kalau Daddy percaya padaku, jangan khawatir meninggalkan ku sendiri di sini, aku janji aku tidak akan mengecewakan kalian" ucapku dengan berat hati. Daddy pun memelukku erat dan Momny, aku hanya mendengar suara tangisannya saja. Aku tahu Mommy pun sebenarnya berat memutuskan ini semua. Tetapi ini memang pilihan yang harus dipilih.


Akhirnya hari kepergiannya pun tiba. Dan disinilah sekarang aku, sendiri di negara ini tanpa orangtuaku bahkan saat aku baru menginjakkan kaki di universitas favoritku tanpa ada orangtua disampingku.


Flashback off