
Tanpa menunggu pagi, akhirnya kami semua bisa bernapas lega, kesadaran Hana pun sudah hampir pulih walaupun dia sedikit terkejut dengan kehadiran Li.
"Kenapa Bapak bisa ada di sini lagi?" tanyanya pada Li, wah sudah sepanjang itu kalimatnya dan dari nada bicaranya yang ku dengar itu seperti perbincangan teman pada umumnya, apa sudah sedekat itu mereka?
"Kakakmu yang membawa saya kesini" jawab Li. Hana pun kembali terdiam setelah mendengar jawaban dari Li.
"Sekarang sudah ada saya, bisa kau jelaskan semua yang ada diisi kepalamu? sebelumnya maaf saya sudah menceritakan kejadian yang saya tahu pada keluargamu?" pinta Li pada Hana, kenapa harus menunggu dia untuk menjelaskan semuanya.
Akhirnya kunci mulut itu pun sudah ditemukan dan mulai terbuka.
"Waktu itu itu kak Dika mengancamku kalau sampai aku memberitahu Kakak, dia akan menyakiti Kakak" ucapnya pada kami.
"Hanya ancaman itukah?" tanyaku padanya karena tidak ada lagi kata-kata yang terucap dari mulutnya dan iya pun menganggukkan kepalanya.
Astaga Hana sebegitu sayangnya kah kau padaku atau kau yang terlalu bodoh percaya begitu saja padanya.
"Kau lupa sabuk hitamku?" tanyaku lagi padanya, aku memang sudah memegang sabuk hitamku semenjak masa sekolahku.
Setelah berbagai pertanyaan dan jawaban sudah selesai dikatakan. Kami pun berbicang-bincang ringan, Hana pun terlihat lebih nyaman dengan keberadaan kami.
Tiba-tiba dering ponsel ku berbunyi, aku pun terpenjat seketika, saat melihat nama yang tertera di layar ponselku, tak terasa tanganku sudah mengepal bersiap untuk memukul apa saja yang menggangguku. Nama itu adalah Dika. Aku pun keluar dari kamar Hana agar dia tidak mendengar percakapan kami, tetapi Li yang menyadari sikapku, dia pun mengikutiku.
"Sebelumnya maafkan aku Brian, aku khilaf bisakah besok aku berkunjung ke rumahmu, aku ingin meminta maaf atas semua perbuatanku, apalagi setelah aku mendengar kabar Hana hari ini, aku merasa sangat bersalah" ucapnya panjang lebar padaku.
"Darimana kamu tahu kondisi Hana sekarang? apa kau memakai mata-mata untuk mengawasinya. Tidak perlu menunggu besok, aku akan menemuimu sekarang juga, cepat katakan dimana posisimu sekarang?" tanyaku lagi padanya dan aku merasa lenganku seperti ada yang menarik ternyata itu adalah Li, dia memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak sekejam itu untuk menggunakan orang lain untuk memantau Hana. Maaf sekarang aku sedang diluar kota, besok aku janji akan segera menemuimu kalian. Sekarang aku harus segera berangkat" terangnya padaku, dari suara yang ku dengar sepertinya dia memang tulus untuk meminta maaf tapi aku tidak bisa mempercayainya begitu saja, kepercayaanku sudah luntur, seketika Hana menyebutkan namanya.
Panggilan itu pun terputus, aku tak habis pikir semudah itukah Dika mengakui kesalahannya?
Li meninggalkanku untuk kembali ke kamar Hana dan aku pun mengikutinya.
"Maaf, sepertinya saya harus kembali dan saya berharap ini bukan pertemuan terakhir kita, karena saya sudah menyelesaikan masa magang saya di sekolah" pamitnya pada kami. Ku lihat wajah Hana sedikit murung mendengar ucapan Li.
Apa Hana menyukainya?
"Terima kasih nak Li karena sudah banyak membantu kami, oh iya setelah lulus nanti kamu akan jadi gurukah?" tanya Daddy padanya, sepertinya Daddy menyukai kepribadian Li. Karena dia ini satu-satunya pria yang mengenal Hana dengan baik bahkan Hana pun tidak menolaknya.
"Tidak om, saya hanya menjalankan misi dari orangtua saya"