"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fifty Seven



Belajarlah menghargai waktu karena bila kita melewatinya, waktu itu tidak akan bisa terulang.


Kata-kata itu selalu terngiang di kepalaku karena saat ini yang ku rasakan hanya rasa penyesalan. kalau saja dulu aku lebih memperhatikan hubunganku dengan Fika, mungkin tidak akan seperti sekarang ini. Selama aku tidak menjalin komunikasi dengan Fika beberapa hari ini, aku sedikit berpikir. Apakah ini layak ku lanjutkan atau tidak, karena akhir-akhir ini aku perhatikan sifat Fika benar-benar berubah.


Walaupun aku tidak bertemu dengannya secara langsung, tapi aku beberapa kali melihat Fika secara tidak sengaja dengan penampilan yang berbeda bahkan sikapnya pun diluar dugaanku. Selama ini Fika yang ku kenal memang sosok yang humble dan humoris, tapi tidak seperti ini juga.


Apa saat bersamaku dia menjadi sosok yang lain dan jangan-jangan kejadian tempo hari di mall itu memang bukan kesalahan adikku.


Sungguh aku dilema. Aku pun menghampiri Hana yang sedang di kamarnya.


"Hana, boleh aku bertanya?" tanyaku padanya dan dia pun menganggukkan kepalanya.


"Kejadian waktu di mall waktu itu-?" aku mencoba bertanya lagi padanya tapi dia sudah menyela perkataanku.


"Maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aku tidak akan mengganggu waktu kakak lagi bersama dengan kak Fika" ucapnya tiba-tiba, kenapa dia berbicara seperti itu, seperti dia mengakui semua kesalahannya. Dan sejak kapan aku pernah bilang kalau dia sebagai pengganggu antara aku dan Fika.


"Bukan maksud itu yang ingin kakak tanyakan Hana, Kakak hanya ingin tahu kenapa kamu tega mendorong Fika waktu itu, memangnya apa yang telah dia perbuat kepadamu?" akhirnya pertanyaan yang selalu ingin ku tanyakan terlontar begitu saja.


Dia tidak bergeming bahkan dia melanjutkan lagi kegiatannya sewaktu aku tiba di kamar ini. Walaupun tangannya bekerja tapi aku tahu dari raut wajahnya menandakan seseorang yang sedang tertekan. Daripada kejadian kemarin terulang kalau aku memaksanya, lebih baik aku sudahi saja pertanyaanku ini.


Seketika aku teringat akan teman-teman Hana, sebelumnya aku pernah meminta nomor ponsel salah satu temannya, mungkin aku masih menyimpannya.


Mungkin sifat itu harus ku ubah, buktinya sekarang walaupun itu hanya iklan tetapi di saat kita butuhkan itu akan berubah menjadi siaran utama.


tuuuuttt....ttuuuttt


Nada terhubung terdengar dari seberang sana dan tidak lama kemudian aku mendengar seseorang berkata padaku.


"Hallo, dengan siapa ini?" tanyanya padaku.


"Apa benar ini dengan Nanda?" tanyaku memastikan apa benar ini temannya Hana atau bukan.


"Benar, maaf aku berbicara dengan siapa ya?" tanyanya lagi.


"Oh maaf, aku Brian kakaknya Hana. Apa aku boleh meminta waktumu sebentar karena ada yang ingin aku tanyakan, tapi aku minta tolong padamu, jangan bilang Hana kalau aku akan menemuimu, aku akan memberikan alamatnya ya" ucapku padanya dan ku kirimkan alamat pertemuan kami, aku memilih tempat yang tidak jauh dari rumahnya, karena aku sudah meminta tolong padanya, aku tidak mau menyusahkannya.


Setelah selesai dengan sambungan telepon itu, kami pun bergegas menuju tempat yang dimaksud. Tak lama kemudian kami pun tiba di lokasi, karena aku memang sudah mengenali Nanda, aku pun segera menghampirinya dan kami pun duduk di salah satu sudut tempat ini.


"Sebelumnya maaf aku memintamu untuk jauh-jauh datang ke tempat ini, tapi sungguh ada yang ingin ku ketahui dari kejadian di mall X waktu itu" ucapku langsung padanya.