"My Little Angel"

"My Little Angel"
Sixty Five



Ruangan ini terasa mencekam, ku dengar suara bariton milik Daddy yang terasa menggema di ruangan ini dan pria itu hanya meringis sambil memegangi kedua pipinya dan sesekali menjawab pertanyaan Daddy.


"Maaf kan anak saya Nak yang sudah mebuatmu seperti ini" ucap Daddy padanya dengan tatapan ibanya.


"Dan Hana, apa yang sebenarnya terjadi, jelaskan pada Daddy?" tanyanya kembali pada Hana. Seperti biasa Hana pun hanya terdiam, bahkan raut wajah ketakutannya pun kembali muncul, sesekali dia menengok ke arah pria itu dan mereka pun saling beradu pandang seketika itu juga Hana membuang pandangannya.


Semakin emosi saja aku melihatnya, apa pria itu mengancam Hana? pikiran itu sempat terlintas di otakku tetapi aku hanya bisa membuang nafasku panjang-panjang untuk meluapkan emosi ini. Dan tiba-tiba ku dengar suara miliknya.


"Maaf kalau tindakan saya tadi membuat kalian semua salah paham, saya sudah memperhatikan Hana beberapa kali terakhir ini sikapnya seperti tadi, seperti merasa ada yang sedang mengikutinya. Setelah saya amati memang benar sepertinya ada yang selalu mengikutinya. Alasan tadi saya mengejar Hana karena tadi orang itu sepertinya menunggu Hana dihalaman parkir, karena saya takut terjadi sesuatu dengannya saya pun reflex mengikutinya dan setelah saya tahu itu mobil anda, saya pun berhenti mengejarnya" jelasnya pada kami, seketika itu juga perasaan menyesal dan malu hinggap di diriku, ku lihat tatapan Daddy seperti ribuan jarum yang sedang menuju kepadaku.


Kami semua terkejut atas penuturannya. Aku bahkan sebagai kakaknya tidak menyadari hal itu dan kami pun bertanya pada Hana untuk memastikan cerita orang itu benar atau tidak. Hana pun mengiyakan pertanyaan kami. Tapi siapa orang itu?


"Hana, kamu tahu siapa orang itu?" tanya Daddy padanya, tapi dia malah semakin ketakutan saat mendengar itu.


"Maaf Tuan, alangkah baiknya kalau kalian membawa Hana pulang terlebih dahulu dan selesaikan masalah ini di rumah saja biar Hana menjadi lebih tenang" pintanya kembali pada kami. Dan kami pun setuju dengan pendapatnya.


Akhirnya kami pun semua undur diri dan tak lupa aku sebagai biang onar di sini membuat pernyataan diri untuk tidak akan mengulangi hal seperti tadi, syukurlah pria itu tidak memperpanjang kejadian ini. Sedikitnya aku bisa bernafas lega.


aaaarrggghhh


Erangan frustrasi terdengar dari mulutku, untuk menjadi kakak yang peduli dengannya pun aku gagal karena lebih memilih wanita itu.


Tak lama kemudian kami pun tiba di rumah. Daddy langsung meminta kami untuk berkumpul di ruang keluarga.


"Hana jelaskan pada Daddy sekarang!" ucap Daddy secara tegas padanya dan Mommy berusaha untuk menguatkan Hana dengan memeluknya. Ku lihat Hana menatap ke arahku.


Kenapa dia malah melihatku?


"Cepat katakan!" seru Daddy kembali karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Hana. Seketika iu juga ku lihat tubuhnya tersentak mendengar suara Daddy dan Mommy pun semakin berusaha untuk menenangkannya.


"Kak Dika" jawabnya singkat.


Apa Dika? apa hubungannya dengan Dika? ku putar memori otakku akan peristiwa-peristiwa yang lalu, jangan-jangan benda itu memang miliknya sampai Hana sangat takut ketika aku menunjukkan itu padanya.