"My Little Angel"

"My Little Angel"
Sixty



Siang ini tanpa sepengetahuan Hana, aku mengundang beberapa temannya ke rumah, karena aku ingin mengunjungi Fika, aku pun tidak mau meninggalkan Hana sendiri seperti kemarin.


"Hana, kakak pergi dulu ya, kakak usahakan sebelum malam kakak sudah kembali" ucapku pada Hana dan dia pun mengiyakannya. Dia tahu kalau aku akan mengunjungi Fika makanya dia tidak banyak bertanya.


Sepanjang perjalanan aku tidak henti-hentinya bersenandung mengikuti alunan lagu yang sedang ku dengarkan. Kurang lebih satu jam aku sudah di depan rumah Fika, ku lihat sudah ada satu mobil yang terparkir di halaman rumahnya yang ku ketahui itu bukan mobil miliknya maupun keluarganya.


Karena aku tidak dapat ruang untuk parkir di dalam akhirnya aku pun memarkirkannya di luar gerbang rumahnya, tak lupa aku menitipkannya pada penjaga rumah itu.


"Pak titip ya!" sautku pada penjaga itu dan segera bergegas maksuk ke dalam.


Ku dengar suara tawa bergema dari dalam ruangan itu. Langkahku terhenti sebelum aku memasukinya tepatnya dibalik tembok ini. Ku dengar beberapa perkataan yang membuat harga diriku terinjak-injak.


*Dina : Jadi kamu sudah jarang bertemu dengan Brian?


Fika : Sekarang dia sudah jadi babysitter adiknya, kamu tahu rasanya berpacaran dengan patung seperti dia?


Dina : Tapi kan dia kaya, pintar dan tampan lagi, kalau kamu sudah tidak mau buat aku saja*.


Gelak tawa kembali terdengar dan merekapun melanjutkan percakapan mereka lagi.


*Fika : Kamu kan tahu Dina, dulu aku memang menyukainya secara penampilan bahkan aku memenangkan taruhan itu, tapi setelah aku berpacaran dengannya sungguh tersiksa, bahkan untuk menunggu dia menghubungiku duluan saja rasanya seperti menunggu hujan dari langit yang entah kapan turunnya. Aku sudah lelah harus berpura-pura menjadi wanita baik-baik, apalagi kalau di depan adiknya.


Dina : Tapi kan karena itu juga kelebihannya, ku lihat seperti dia sangat menyukaimu.


Sepertinya bara api di dalam hatiku sudah menyala menjadi api, seketika itu juga aku menghampiri mereka.


"Terima kasih atas dongengnya hari ini, untuk kamu Fika selamat tinggal" ucapku dengan nada santai tapi menekan.


Seketika itu juga aku pergi, ku dengar suara derap kaki berjalan cepat kearahku dan tubuhku pun tertarik, itu Fika yang menarik tanganku.


"Kamu salah paham Brian, aku bisa menjelaskan semua ini" ucapnya padaku dengan nada memohon.


"Jangan harap aku mau mendengar penjelasanmu. Bahkan dari obrolan tadi pun aku sudah menyimpulkan semuanya, sekarang lepaskan tanganmu sebelum aku menyakitimu" ancamku padanya dan seketika itu juga dia melepaskan tanganku dan membiarkanku pergi.


Dengan bodohnya aku selama tiga tahu ini di bohongi olehnya. Bahkan aku sampai tidak menyadarinya karena aku mempercayainya, karena aku mencintainya tapi apa ini balasan dari rasa cintaku?


Sesampainya di dalam mobil, ku pukul-pukul setir yang ada di depanku untuk meluapkan semua emosiku, ku tarik rambut di kepalaku untuk mengurangi rasa sakit ini.


Tapi ini sudah terjadi, apa ini arti dari mimpiku waktu itu?


Apa aku bisa melupakannya begitu saja?


Aku yakin itu akan sulit karena tidak sedikit waktu yang telah aku habiskan bersamanya, tapi luka ini terlalu dalam dia torehkan untukku.


Biarkan aku berpikir saat ini. Aku butuh Hana saat ini.