"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fourty Four



"Sakit"


Kata itu seperti silet yang sedang mengiri-iris hatiku.


"Jangan disentuh sakit" rintihnya kembali. Oh Tuhan apa yang harus kulakukan, jujur saja disaat seperti ini gelar dokter ku tidak terpakai bahkan ilmu kedokteranku pun seperti terhapus begitu saja melihat kondisinya yang seperti ini.


"Mana yang sakit coba kakak lihat?" tanyaku padanya tetapi tidaka ada jawaban darinya.


" Jangan digigit bibirnya nanti luka akan menambah rasa sakitnya" apa yang harus aku lakukan, aku pun menemukan sebuah handuk kecil di atas nakasnya ku letakkan handuk kecil itu diantara mulutnya agar dia menggigit ini saja ku lihat wajahnya yang semakin memucat dengan bulir keringat yang terus mengalir deras, kurasakan selimut hampir basah dengan keringatnya kalau dilihat dari sini sudah kupastikan dia seperti ini sudah lebih dari beberapa jam yang lalu kondisinya yang seperti ini, atau jangan-jangan sejak aku tinggalkan. Oh tidak, jangan sampai kau benarkan pikiranku ini Tuhan.


"Mba, mba Sri?" teriakku dari dalam kamar. Tak lama mba Sri pun datang ke sini.


"Apa Hana tadi sudah makan siang?" tanya ku padanya untuk memastikan semua pemikiranku.


"Maaf Den, saya kurang tahu tadi kan saya sama Asih ijin untuk belanja bulanan. Sebelum saya berangkat kata nyonya Non Hana akan keluar bersama Den Brian jadi saya tidak memasak untuk makan siang" jawaban itu seperti petir yang langsung menyambar tubuhku. Tanpa ku dengarkan lagi penjelasan dari mba Sri, aku langsung membawa Hana dalam gendonganku.


"Mba Asih cepat ambilkan kunci mobil Hana sekarang" teriakku lagi memanggil mba Asih. Pikiranku buntu, apa aku bisa membawa Hana ke rumah sakit dengan keadaan ku yang seperti ini. Ku lihat ada seseorang yang sedang berjalan ke arahku. Pria itu, kenapa bisa dia ada disini.


Dari yang ku lihat diapun sama terkejutnya denganku melihat Hana yang seperti ini.


"Boleh saya saja yang mengantar" pintanya padaku. aku pun tidak ingin berdebat yang penting sekarang bagaimana caranya supaya kami sampai di rumah sakit sesegera mungkin.


Beruntunglah jalanan malam ini lebih lengang dibanding sore tadi, kami pun tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai disini.


Setibanya kami di ruang UGD sudah ada beberapa dokter yang sudah standby karena tadi sebelum berangkat ke sini aku sempat menghubungi Daddy terlebih dahulu yang kemudian Daddy teruskan menghubungi rumah sakit. Mereka pun memutuskan untuk tidak jadi menginap dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang.


Ku ikuti mereka membawa Hana kemanapun sampai tibanya kami berhenti di ruang UGD. Aku pun tidak henti-hentinya berdoa berharap Hana akan baik-baik saja, kalau ada sesuatu dengan Hana mungkin akulah orang yang paling bersalah disini. Harusnya tadi aku pastikan dulu ada orang apa tidak, apa Hana sudah makan atau belum. Itulah penyesalanku yang amat mendalam saat ini. Untuk menghubungi Fika, pikiran itu sama sekali tidak bersarang di kepalaku yang saat ini aku pikirkan hanya Hana, Hana dan Hana.