"My Little Angel"

"My Little Angel"
Thirty Six



Dengan seorang wanita.


Kenapa hatiku panas saat melihat mereka, ku ingat kembali bagaimana raut wajahnya saat aku menggoda Hana, raut wajah itu adalah raut wajah kecemburuan seorang kekasih. Kalau memang dia menyukai Hana tapi kenapa juga dia bersama orang lain saat ini. Aku pun penasaran, apa lebih baik aku menanyakan langsung ke Hana? atau aku selidiku dulu saja siapa orang ini.


Setibanya aku di rumah


"Spada" teriakku dari luar rumah


"Hei sudah lupakah mulutmu untuk mengucapkan salam?" sarkas Mommy padaku, beruntungnya aku tidak dilempar spatula olehnya. Karena saat ini Mommy menghampiriku dengan pakaian khas seorang koki beserta peralatan perangnya.


"Maaf" jawabku dengan nada yang sedikit pelan. Aku pun segera berlari menuju kamarku tetapi sebelumnya ku tengok terlebih dahulu kamar Hana dan ku lihat dia sedang mengerjakan tugasnya.


Aku dan Hana memang bertolak belakang dari segi paras maupun kemampuan dalam berpikir. Kemampuan Hana memang sedikit berada di belakangku, mungkin karena kami berbeda. Tapi karena perbedaan itu juga yang menyatukan kami. Karena keterbatasan Hana, dia sering memintaku untuk mengajarinya. Itulah yang membuat kami menjadi lebih dekat.


"Hei anak kecil, kenapa kamu tidak menghubungiku?" dia yang sedang fokus mengerjakan tugasnya terkejut mendengar pertanyaanku.


"Astaga, kamu menganggetkanku Kak, oh tadi aku pulang bersama temanku, kebetulan kami searah. Daripada aku merepotkanmu lebih baik aku pulang bersamanya." terangnya padaku, akupun hanya ber oh ria mendengarnya. Aku pun berlalu menuju kamarku untuk membersihkan diri. Setelah beberapa saat aku menghampiri Mommy dan bertanya perihal kepulangan Hana, aku pun sedikit lega mendengar ucapan Mommy, ternyata Hana diantar teman wanitanya, bukan pria itu.


---------------------------------------------------


Pagi ini aku sudah berada di kampus dan sekalian bertemu Fika, karena semenjak kembalinya Hana, aku memang jarang menghabiskan waktu bersamanya, selama ini kami menghabiskan waktu hanya sekedar bertanya kabar lewat ponsel saja.


"Kau tidak merindukkanku?" tanyanya padaku dengan wajah memelasnya.


"Hei, siapa bilang aku tidak merindukkanmu, aku sangat merindukanmu" sautku padanya tapi tatapannya seakan tidak menyukai perkataanku.


"Kalau kau merindukkanku kenapa kamu tidak ingin menemuiku" tanyanya kembali dengan wajah sendunya.


Astaga apa semua wanita itu seperti ini, tidak cukup hanya Mommy saja yang seperti ini?


Setelah bujuk rayu ku lakukan padanya, akhirnya dia luluh juga. Sesuai dengan rencana kami hari ini, kami pun bergegas untuk menjalani kencan kami yang tertunda, ku manjakan dia dengan menuruti semua keinginannya hari ini. Tapi dalam masih koridor yang wajar menurutku. Setelah lelah berkeliling kami pun memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu.


Akhirnya kami tiba di restoran sunda. Sepertinya tubuhku sudah sangat terasa lelah hanya dia yang masih sangat bersemangat bahkan celotehannya pun sudah tidak masuk di indera pendengaranku. Ku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan ini,


Seketika ku hentikan, ku lihat pria itu bersama lagi dengan wanita yang ku lihat kemarin tapi kenapa harus dengan wanita-wanita paruh baya itu.


Aku menyebutnya wanita-wanita karena ada lebih dari satu wanita disana, yang ku yakini wanita itu adalah orang tua mereka masing-masing.


'ternyata masih ada jaman siti nurbaya di era modern sekarang ini'