
Mira dan Irham tahu kenapa Brian bersikap seperti itu, hal itu dikarenakan kehadiran seorang "Hana".
Perubahan sikap yang dialami putra sulungnya dimulai sejak kedatangan Hana di dalam keluarga mereka. Mereka paham bahwa adanya kecemburuan Brian terhadap Hana dari mulai kepekaaan terhadap adiknya yang sama sekali tidak ada, dicarinya perhatian ke dua orangtuanya dari yang baik sampai yang buruk pun sudah pernah Brian lakukan. Berulang kali Mira selaku ibunya yang lebih dekat dengan dirinya pun berusaha untuk menyatukan mereka, tetapi itu hanya usaha yang sia-sia karena sikap Brian malah tambah menjadi-jadi.
Seperti saat ini, semenjak Brian masuk di sekolah menengah pertamanya, dia lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Syukurlah, setidaknya dia tidak masuk ke dalam pergaulan yang tidak baik karena Mira dan Irham selalu menerapkan pola positif ke sang anak.
--------------------------------------------------------
Brian POV
"Brian, anak-anak sudah menunggu kita di lapangan lebih baik kita segera ke sana pertandingan segera dimulai" ajak Hans karena sedari tadi Brian hanya berdiri di belakang pintu kelasnya, Hans adalah salah satu sahabat Brian di sekolah dan satu kelompok basket dengannya.
"Tunggu Hans" panggil Brian sambil menarik lengan Hans.
"Ada apa?" tanya Hans yang bingung kenapa Brian menarik tangannya.
"Bolehkah aku meminta bantuanmu? tolong kau alihkan gadis-gadis itu agar menjauh dari sini, aku risih mereka selalu saja mengikutiku" jawabku sambil menggaruk-garukkan kepala. Hans yang mendengarnya pun tertawa terpingkal-pingkal. Banyak yang mencari perhatian para gadis walaupun hanya bermodal pas-pasan saja. Tapi bagiku, walaupun umurku masih belasan tapi wajahku sangatlah diunggulkan, terbukti dengan kepintaranku yang sudah tidak diragukan, dari kejuaran tingkat sekolah sampai tingkat nasional pun sudah aku menangkan. Tapi untuk kata "wanita", aku sangat alergi mendengarnya. Seketika itu juga aku bergidik ngeri memikirikannya.
Hans masih saja menertawaiku, tapi apa boleh buat berkat dia aku terbebas dari gadis-gadis itu. Nasib-nasib ya beginilah jadi orang tampan.
Pertandinganpun berjalan lancar, keberuntungan masih berpihak padaku. Tim kami baru saja memenangkan pertandingan ini dengan skor kalah telak dipihak lawan. Setelah istirahat beberapa saat kami pun beranjak pulang karena hari sudah mulai sore. Sebenarnya ini yang paling tidak aku suka, ketika sampai di rumah pasti aku akan bertemu dengan dia.
"Ayo saatnya kita pulang, kau dijemput tidak Brian, atau mau pulang bersama denganku?" tanya Hans yang melihat Brian berdiri diparkiran sekolah seorang diri.
"Thank sob sepertinya tidak, Daddy ku sudah bilang akan menjemputku dan aku baru saja mengabarinya mungkin sedang dalam perjalanan ke sini" tolak halus Brian. Sengaja aku baru mengabari Daddy karena aku tidak mau Daddy menungguku lama, kasihan Daddy pasti lelah setelah seharian bertugas. Belum lagi setelah sampai rumah pasti akan direpotkan dengan anak rewel itu.
Tidak perlu waktu lama aku menunggu yang aku tunggu pun sudah tiba tepatnya sudah di depanku.
"Apa kau menunggu lama nak?" tanya ayah pada dirinya."Bagaimana pertandinganmu hari ini, kalau Daddy lihat sepertinya kabar bagus yang akan Daddy dengar, betulkah?" tanya Daddy kembali melihat wajahku dengan senyumnya.
"Wah Dad, sepertinya Daddy memang peramal, bagaimana Daddy tahu aku memenangkan pertandingan ini Dad?" tanya aku yang heran darimana Daddy tahu perihal kemenangannya.
"Apa kau baru tahu kalau Daddy seorang peramal?" balas Daddy seketika itu pun tawa kami pecah. Ternyata Daddy masih ingat percakapanku padanya mengenai pertandingan ini, sebenarnya mereka tidak pernah sedikitpun melupakanku, bahkan hal sekecil apapun Mommy selalu tahu. Ini lah yang membuatku tidak bisa membenci mereka walaupun kadang aku merasa terluka dengan sikap mereka dan itu lagi-lagi karena dia dan selalu dia.
Disepanjang jalan kami tidak henti-hentinya bercerita dan diselingi canda tawa. Seketika Daddy menghentikan kendaraannya.
"Bisakah kita mampir ke kedai es cream?" tanya Daddy padaku.