
Deg
Rupanya kamu sudah mulai berbohong padaku sayang. Ku balas kembali pesan itu.
"baiklah, selamat beristirahat sayang"
Saat aku mengetikkan itu rasanya sungguh menggelikan. Dengan cepat aku berjalan menuju tempat parkir, aku pun berpamitan dengan mereka dan berlalu menuju rumah masing-masing
---------------------------------------------------
Dua minggu pun berlalu, akhirnya Daddy dan Mommy memutuskan untuk kembali ke Jerman sesuai dengan perkataan Daddy waktu itu. Tidak lupa Mommy pun memberikan wejangan-wejangan khasnya, mungkin kalau tidak segera ditarik Daddy mungkin mereka bisa saja baru berangkat besok.
Hana pun merasa sedikit berat berpisah dengan orangtuanya, wajar saja karena selama ini Hana sangat dekat dengan mereka, bahkan aku yang anak kandung mereka pun merasa biasa-biasa saja. Mungkin itulah perbedaan perasaan antara wanita dan pria. Aku pun sudah berjanji akan menjaga Hana walaupun sebenarnya aku meragukan itu, mengingat janjiku sebelumnya pada Fika.
Semenjak kejadian waktu itu, aku dan Fika pun merasa semakin jauh. Sekarang malah dia yang berbalik padaku, aku sekarang sulit sekali bertemu dengannya bahkan untuk bertukar kabar pun dia hanya membalasnya singkat.
"Kak, hari ini bolehkah aku pergi dengan teman-temanku. Aku mau mampir ke toko buku di mall X" ijinnya padaku, sebenarnya aku sedikit khawatir memberikannya ijin kalau tidak bersamaku. Tapi aku berusaha untuk mempercayainya.
"Temanmu siapa? berikan dulu kontak temanmu pada kakak, nanti kalau ada apa-apa segera hubungi kakak dan kalau sudah selesai beritahu kakak ya, nanti kakak akan menjemputmu, ayo sekarang bersiaplah nanti kakak antar" jawabku padanya dan dia pun menyetujui permintaanku.
Setelah kami berganti pakaian, kami pun bergegas untuk segera pergi, kurang lebih tiga puluh menit kami sudah tiba di mall X. Ku lihat teman-temannya belum ada yang datang, jadi ku putuskan untuk menemaninya sampai teman-temannya sampai. Lima belas menit telah berlalu, teman-temannya pun satu persatu sudah mulai berdatangan. Syukurlah sekarang Hana sudah mempunyai lebih banyak teman.
Aku pun pamit padanya untuk segera ke kampus karena ada beberapa hal yang harus ku urus di sana, karena aku tahu Fika hari ini tidak datang ke kampus jadi aku bisa bebas berlama-lama di sana karena kalau ada dia, dia selalu saja menempel padaku bak perangko.
"Brian tunggu" sepertinya itu suara kesayanganku. Benar saja Fika sedang berjalan ke arahku. Karena penasaran aku pun bertanya padanya
"Ada apa? bukankah kamu tidak ada kelas hari ini, kenapa ada di sini ?" tanyaku padanya , ku lihat dia sedikit terlihat gugup.
Wah bisa gawat ini, aku tadi meninggalkan Hana di mall dan berjanji akan menjemputnya. Kalau Fika mengajaknya ke butik sudah ku pastikan, tidak sedikit waktu yang dia butuhkan untuk berada di sana. Aku pasti tidak akan bisa menjemput Hana. Bagaimana ini?
Sepertinya aku punya ide,
"Dika, bolehkan aku minta tolong padamu, hari ini aku tidak bisa menjemput Hana, nanti tolong kamu jemput Hana ya di mall X, tadi dia bilangnya hanya ke toko buku dan paling sekedar makan dengan teman-temannya"
- send-
Tidak lama terdengar nada ponselku berbunyi.
-inbox-
"ok sob"
Aku langsung menghubungi Hana kalau aku tidak bisa menjemputnya dan digantikan oleh Dika dan dia pun menyetujuinya.
Masalah kali ini selesai, sekarang tinggal waktu ku saja menemani Fika mencari apa yang dia mau.
Setelah beberapa jam aku pun sudah selesai menemaninya dan sudah kembali ke rumah. Ku lihat pintu kamar Hana yang tertutup rapat bahkan terkunci.
Segera ku datangi mba Sri yang sedang berada dikamarnya untuk menanyakan apa Hana sudah makan atau belum, untunglah kali ini mba Sri memberikanku jawaban terbaiknya.
Tapi aneh sekali Hana kenapa Hana mengunci pintu kamarnya.