
Katakanlah kalau ini hanya mimpi, karena aku terlalu takut untuk bangun.
Saat ini yang aku pikirkan adalah sebisa mungkin aku harus segera sampai rumah, tak ku pedulikan lagi bunyi klakson di sekitarku karena saat ini aku melajukan kendaraanku sungguh diluar batas kendali ku. Sesaat aku memasuki area dekat rumahku, ku lajukan mobil ini dengan perlahan. Ku lihat sepertinya teman-teman Hana masih berada di rumah. Aku pun memasuki halaman rumah dan seketika langkahku dihentikan oleh mang Soleh.
"Den maaf kalau saya lancang, ini sepertinya punya den Brian terjatuh di dekat pintu" ucap mang Soleh dengan tersipu malu sambil menyerahkan bungkusan kecil berwarna merah. Aku pun penasaran dengan benda itu karena sepertinya cukup familiar dengan lambang "F"nya.
Aku ambil bingkisan itu karena aku merasa tidak pernah memiliki benda itu. Setelah aku melihat lebih jelas. Astaga kepunyaan siapa ini.
"Mang ini bukan miliku, mang Soleh menemukan ini kapan?" tanyaku penasaran karena tidak ada lagi laki-laki di rumah ini. Kalau ini punya mang Soleh untuk apa dia menanyakannya padaku.
"Berarti ini bukan punya aden? atau ini punya mas Dika ya den?" ucapnya lagi sambil mengingat keadaan kemarin.
Apa, Dika kesini? dan dia membawa ini?
Kenapa dia tidak bilang padaku kalau dia akan datang ke sini, atau karena aku tidak ada jadinya dia kembali lagi.
"Dia kemarin kemari mang? kenapa dia tidak menungguku?" tanyaku lagi memastikan itu Dika atau bukan.
"Iya den, kemarin juga sepertinya dia buru-buru pulang bahkan saya tanya pun tidak dijawab olehnya" jawabnya lagi padaku.
Aku pun semakin dibuat penasaran dengan benda ini, seorang Dika tidak mungkin melakukan hal-hal menjijikkan seperti ini. Akhirnya aku pun segera menghubunginya. Dan terdengar suara darinya.
"Hei sob, ada apa?" tanyanya padaku
"Sepertinya tidak" jawabnya sedikit gugup, mungkin pikirku dia malu untuk mengakuinya.
"Baiklah, bagaimana kalau besok kita bertemu, kan sudah lama juga kita tidak berkumpul sekalian aku menyerahkan barang milikmu, di tempat biasa ya" ucapku padanya, sepertinya lebih baik hanya aku dan dia saja yang bertemu, kalau Hans sampai tahu bisa jadi bahan olokkan si Dika.
Ketika aku memasuki ruang tamu, ku dengar suara adikku sedang tertawa dengan teman-temannya, sudah lama sekali aku tidak mendengar tawanya yang seperti ini, sudah hampir dua bulan ini dia sedikit murung dan bahkan jarang sekali keluar dari kamarnya kalau tidak ada aku di rumah. Untuk urusanku dengan Fika lebih baik aku saja yang tahu.
----------------------------------------------
Sesuai janjiku kemarin, aku pun menemui Dika di tempat biasa kami berkumpul. Ku lihat sekeliling belum ada penampakkan dirinya. Sambil menunggu dirinya aku pun memesan minuman dan beberapa cemilan, tak lama aku menunggu ku lihat Dika sedang berusaha mencariku.
"Dika, disini" panggilku padanya sambil melambaikan tanganku dan dia pun melihatku kemudian menghampiriku.
"Sudah lama Sob?" tanyanya padaku. Kami pun sedikit berbincang ringan di sini, kadang membahas masalah kampus sampai urusan pribadi tapi aku tetap mengunci rapat masalah putusnya aku dan Fika.
Sekian lama kami bicara aku teringat tujuan awalku untuk bertemu dengannya.
"Nih milikmu" ku serahkan benda itu padanya dan raut wajahnya menunjukkan kepanikan.
"Sudahlah sob, lagipula kita sudah cukup umur untuk mengerti hal itu, tapi sejak kapan?" tanyaku yang berupa ledekkan padanya.
Tapi kenapa raut wajahnya tetap tidak berubah, apa ada yang salah?