"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fourty Eight



"Fika tunggu" sautku memangggil namanya, tapi dia pun terus berjalan menjauhi ku, aku pun berusaha mengejarnya.


"Kenapa kamu seperti ini?" tanyaku padanya.


"Kamu tanya kenapa aku seperti ini? apa perlu aku jelaskan Hah?" sarkasnya padaku. Aku pun tidak habis pikir kenapa Fika bisa seperti ini kemana Fika yang dulu. Aku sungguh dilema.


"Kamu hanya peduli dengan adikmu, semenjak kedatangan adikmu, kamu bahkan tidak punya waktu untukku, untuk bertemu denganmu pun aku harus mengemis waktu terlebih dahulu dan saat kamu butuh kamu datang padaku tanpa peduli perasaanku" ucapnya dengan amarah yang tertahan.


Memang benar yang diucapkan Fika, aku memang tidak memiliki waktu dengannya. Bahkan hanya untuk menemaninya seperti saat ini. Aku masih saja membuatnya kecewa.


"Baiklah, lantas maumu apa? aku harus bagaimana? kamu tahu kan aku sangat peduli dengan keluargaku. Kamu yang mengerti aku, seharusnya kamu paham itu" pintaku padanya secara egois.


"Hanya kau dan hatimu yang tahu tentang jawaban atas pertanyaanmu" jawabnya dengan senyuman yang sulit diartikan.


Sungguh frustasi aku malam ini. Aku pun terus berusaha mengejar Fika.


"Ok maafkan aku, aku sudah terlalu egois terhadapmu, aku tidak mau kita seperti ini Fika, kita bicarakan baik-baik ya" pintaku padanya, ku harap dia bisa melihat niat tulusku untuk memperbaiki hubungan ini. Perdebatan pun masih terus terjadi tetapi selang beberapa waktu Fika pun luluh kembali.


Ada beberapa hal yang kita sepakati di sini terutama yang berhubungan dengan adikku. Fika memberikan ku pilihan yang menurutku sedikit sulit untuk dijalankan, dia memintaku lebih memperhatikannya dibanding dengan Hana, intinya dia yang pertama dan Hana yang kedua. Untuk saat ini mungkin aku bisa terima karena aku pun tidak ingin kehilangan Fika begitu saja dan untuk ke depannya kita lihat saja apakah keputusanku ini benar atau tidak. Ku harap tidak akan ada yang tersakiti di sini.


Setibanya ku di ruang Hana ku lihat Daddy sudah tertidur di sofa, perasaan bersalahku pun kembali muncul, ku ambil selimut yang berada di atas sofa untuk menyelimuti Daddy, daripada aku membangunkannya dan menyuruhnya kembali ke rumah, itu akan lebih bahaya lagi. Dan untuk Hana dia sepertinya sudah tertidur pulas, ku lihat wajahnya pun sudah terlihat lebih segar dari hari kemarin.


Maafkan aku Hana, bila nanti mungkin aku hanya mempunyai sedikit waktu untukmu tapi percayalah bahwa aku selalu menyayangimu.


Malam kian larut akupun sudah lelah menghadapi hari ini.


--------------------------------------------------


Suara hentakan kaki terdengar nyaring di sampingku, ku hirup aroma maskulin tepat di hidungku.


Pleeettaakk


"Aaaawww" seketika ku buka ke dua mataku, rupanya ada dewa berwujud manusia. Dan orang itu adalah Dika dan Hans.


"Wah sepertinya kamar ini lebih nyaman dibanding kamar hotel ya Dik, buktinya seorang Brian saja bisa tertidur pulas di sini" sarkas Hans padaku dan ku dengar suara tawa menggema di ruangan ini.


Aku pun melihat ke arah jam dinding yang menggantung untuk mengetahui ada angin apa kedua orang ini di sini pagi-pagi, Jam sebelas? selama itukah aku tidur, ku lihat sekeliling sudah sibuk dengan kegiatannya, Mommy yang sedang menyuapi Hana dan Daddy yang sudah mengenakan jas putih kebesarannya. Hanya aku saja yang terlihat seperti cucian kumal di sini.