
Saat ini dilema sedang menguasai hatiku, apalagi semenjak aku menerima sebuah pesan singkat beberapa waktu lalu setelah acara di rumah sakit. Sebuah pesan berisikan foto-foto waktu di mall X.
Sekarang saatnya aku harus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, tidak seharusnya juga aku hanya mendengar dari salah satu pihak. Setelah aku menghubungi Nanda. Di sinilah aku berada.
"Sebelumnya maaf aku memintamu untuk jauh-jauh datang ke tempat ini, tapi sungguh ada yang ingin ku ketahui dari kejadian di mall X waktu itu" ucapku langsung padanya tanpa basa basi lagi. Ku lihat dia sedikit terkejut dan ketakutan dengan perkataanku.
"Maafkan aku atas kelakuanku, aku yang salah tapi aku mohon jangan larang aku untuk berteman dengan Hana, Hana teman baikku" jawabnya dengan raut wajah memelasnya.
Kelakuannya?
Aku memberikan ekspresi yang tidak terbaca karena aku juga tidak paham dengan ucapannya itu. Dia pun melanjutkan ucapannya tanpa ku minta.
"Aku waktu itu refleks kak, waktu kekasih kakak datang secara tiba-tiba dan selalu menyindir Hana. Padahal Hana sudah berbicara baik-baik dengannya tapi tiba-tiba dia mendorong Hana dan aku pun mendorongnya balik sampai dia terjatuh. Saat kakak memarahi Hana aku ingin sekali menjelaskan semua ini tapi Hana melarangku, aku akan minta maaf pada kekasih kakak tapi aku mohon jangan pisahkan aku dengan Hana" ucapnya panjang lebar padaku.
Ucapannya bagaikan hantaman batu besar yang dilempar ke arahku. Sungguh aku tak menyangka, selama ini aku selalu membela Fika, tapi yang ku bela malah dalang dibalik semua kejadian ini. Lagi-lagi adikku yang menjadi korbannya, kenapa juga dia diam saja saat diperlakukan seperti itu, atau jangan-jangan Fika mengancamnya?
"Tenanglah Nanda, malah kakak yang berterima kasih padamu, karena kamu sudah menceritakan tentang kejadian itu padaku" balasku padanya tetapi raut wajahnya terkejut.
Setelah beberapa jam kami di sini akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali dan aku mengantarkan Nanda terlebih dahulu ke rumahnya.
Dalam perjalanan menuju rumah, aku pun tidak henti-hentinya berpikir. Lelah juga seperti ini terus. Sepertinya di rumah tidak membuat pikiranku mereda lebih baik aku mencari angin segar saja dulu. Akhirnya aku mencoba untuk menghubungi Hans saja, sudah lama juga aku tidak bertemu dengannya.
Sampailah aku di kantornya karena tadi dia memberitahukanku kalau saat ini dia sedang di sini. Sekarang Hans yang menggantikan papinya mengelola perusahaan ini, maka dari itu aku pernah bilang kalau kuliah bagi Hans hanya formalitas saja karena apapun jurusan yang Hans ambil, ujung-ujungnya akan kembali ke kantor ini juga.
"Hai bro, aku sangat merindukanmu" ucapnya sambil memeluk tubuhku
"Kalau ada yang lihat kelakuanmu mungkin orang itu akan mengira kalau kita pasangan sejenis" sarkasku padanya.
Lama kami berbincang di sini karena Hans pun sudah tidak terlalu sibuk karena sudah sore hari juga. Tiba-tiba aku mendengar perkataan Hans yang membuatku sedikit merasakan ada yang aneh.
"Brian, apa akhir-akhir ini kamu bertemu dengan Dika, rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya?" tanyanya padaku. Aku pun sama sejak di acara rumah sakit waktu itu aku belum bertemu kembali dengannya. Bahkan biasanya pun dia sering berkunjung ke rumah walaupun sebenarnya tujuannya hanya untuk menemui Hana.
Ada apa dengan anak itu?