
"Aku ingin pulang" pintanya padaku.
Aku terkejut melihat raut wajah adikku dan seluruh tubuhnya. Apa yang terjadi?
Tanpa banyak bicara, ku lepaskan blazer yang melekat pada tubuhku yang kemudian ku lekatkan pada tubuhnya, ku lihat baju yang ia kenakan basah terkena noda minuman belum lagi ku lihat tangannya yang memerah seperti bekas cakaran. Orang-orang melihat ke arahnya dengan tatapan bingung, mungkin mereka sedang menerka-nerka apa yang terjadi pada dirinya.
"Hana, apa yang terjadi apa kau baik-baik saja?" tanya sang tuan rumah yang terkejut melihat kondisi Hana.
"Aku baik-baik saja, maaf aku telah mengacaukan pestamu?" ucap Hana pada sahabatnya. Dan sahabatnya pun tidak mempermasalahkan peristiwa ini, yang penting Hana baik-baik saja sudah membuatnya lega. Tapi yang ku lihat pesta ini berjalan lancar seperti tidak ada masalah sebelumnya. Sungguh aneh.
Setelah sampai di mobil, ku hadapkan Hana ke arahku, ku pandangi wajahnya lekat-lekat.
'Anak ini habis menangis'
"Apa yang terjadi?" tanyaku secara perlahan padanya. Seketika itu aku terkejut.
"Aku tidak apa-apa" jawabnya sambil tersenyum manis.
Ya Tuhan ini anak tidak kenapa-kenapa kan?
Sebelum aku melanjutkan perjalanan menuju rumah, aku memutuskan untuk mampir ke sebuah butik terlebih dahulu. Tidak mungkin aku membawa Hana pulang dalam keadaan seperti ini.
Kami pun tiba disalah satu butik terdekat dengan daerah sini, karena kalau ke butik langganan Mommy tempatnya cukup jauh dari sini, bisa-bisa sebelum sampai rumah dia sudah masuk angin terlebih dahulu.
Ku pilihkan salah satu gaun yang hampir serupa dengan gaun yang tadi Hana pakai agar tidak terlalu menimbulkan kecurigaan Mommy. Dia pun selesai mengenakan pakaiannya.
Aku pun membawa Hana ke salah satu sofa di ruangan ini dan meminta perlengkapan kesehatan pada penjaga toko ini.
"Kenapa bisa seperti ini, kau tidak ingin menjelaskan padaku?" tanyaku padanya, lagi-lagi dia menjelaskan sesuatu yang tidak masuk diakal, ku obati bekas luka cakarnya secara perlahan karena aku tahu ini sangat pedih.
"Tadi sewaktu aku berjalan ke toilet, aku menabrak sebuah meja dan ini terkena ujung meja itu" dia pun menjelaskannya padaku, memangnya aku anak kecil yang dikasih suapan permen akan diam begitu saja, begitupun dengan penjelasannya memangnya aku percaya, mungkin dia lupa kalau kakaknya seorang calon dokter.
"Terus kenapa wajahmu seperti itu?" tanyaku lagi.
Ayo kita lihat apa jawabanmu kali ini.
"Aku malu" jawabnya singkat dan padat.
Aku pun frustasi mendengar jawaban terakhirnya. Ku putuskan untuk berhenti bertanya padanya karena percuma saja aku bertanya padanya kalau jawabannya selalu seperti itu. Sebenarnya bagaimana kejadian itu bisa terjadi dan siapa yang melakukannya. Pertanyaan itu bersarang di otakku.
Karena aku sudah terlalu lelah dengan masalah malam ini. Entah kenapa aku hanya memikirkan alasan apa yang akan ku katakan pada Mommy dan Daddy tentang keadaan anak kesayangannya ini apalagi kalau mereka bertanya tentang lukanya itu. Bahkan aku saja tidak tahu, apa yang harus ku jelaskan. Bisa-bisa aku bisa dipenggal Daddy, aku yang ikut menemaninya saja bisa kecolongan seperti ini apalagi kalau tadi aku tidak ikut. Membayangkannya saja aku sudah bergidik ngeri.
Untuk masalah Fika?
Bukannya aku bermaksud untuk mengabaikannya karena memang saat ini dia tidak ada dipikiranku mengingat perkataannya saja sudah membuatku kecewa.
Sudahlah kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi diantara kami.