"My Little Angel"

"My Little Angel"
Sixty Eight



"Sebenarnya saya pernah menyelamatkan Hana, saat-?" ucapnya terputus seperti sedang menimbang sesuatu yang akan diucapkannya.


"Saat Hana hendak dilecehkan saat diparkiran mall X, kebetulan saat itu saya sedang berkumpul dengan sahabat saya di sana" lanjutnya lagi.


Ya Tuhan, jadi itu alasan kenapa Hana menangis setelah dia kembali dari mall itu, malah aku berkata yang tidak-tidak padanya sampai dia pingsan. Saat itu memang aku meminta bantuan Dika untuk menjemputnya. Kenapa baru terjawab sekarang.


Daddy yang mendengar penjelasan itu pun sudah terduduk lemas dengan mengusap wajah frustasi dengan kedua tangannya. Perasaan Daddy mungkin sudah hancur mungkin dia merasa gagal untuk menjaga anaknya terutama putrinya kesayangannya.


"Beruntungnya waktu itu kami datang tepat waktu setelah mendengar seseorang berteriak minta tolong, saya pun terkejut karena wanita itu Hana. Saat itu kondisi Hana pun sama seperti sekarang, karena salah satu teman saya seorang psikiater, akhirnya dia bisa menenangkan Hana dan setelah Hana lebih tenang kemudian saya mengantarnya pulang, sebab itu saya tahu rumah ini adalah rumah Hana dan waktu itu saya mengantar kalian itu kedua kalinya saya datang ke rumah ini.


" tegasnya lagi.


Jadi waktu itu Dika tidak mengantarnya pulang melainkan Li yang mengantarnya. Selama ini yang aku kira orang jahat ternyata adalah orang baik dan orang baik yang selama ini ku sebut baik adalah penjahat yang sesungguhnya.


Terdengar helaan nafas panjang dari Daddy, sepertinya dia bisa sedikit lega karena tidak terjadi apa-apa dengan putrinya walaupun itu tidak mengurangi rasa khawatirnya pada Hana.


"Jadi, beberapa waktu lalu ketika aku melihatmu dengan Hana di lorong sekolah, itu salah paham?" tanyaku lagi menegaskan masalah itu


"Ya itu salah paham, waktu itu saya memang sengaja menunggunya di lain tempat tanpa dia tahu karena kedatangan orang itu, dia bersembunyi disalah satu lorong tapi aku salah, ternyata dia menyadari keberadaan saya yang sedang memperhatikan dia. Sebab itu dia menegur saya dan sedikit menceramahi saya, sampai anda datang untuk menjemputnya dia baru berhenti mengoceh pada saya." terangnya dia kembali menjelaskan kejadian waktu itu. Lagi-lagi aku salah paham padanya.


"Hana menceramahimu?" tanyaku padanya dengan keheranan, sejak kapan Hana bisa bicara panjang lebar, apa dia kursus dengan orang ini.


Wah, perlu diapresiasi usaha orang ini untuk meluluhkan seorang Hana, aku saja sebagai kakaknya hanya bisa mendengar satu dua kata darinya.


"Apa kamu menyukai Hana?" tanyaku terang-terangan padanya tanpa peduli perasaannya. Tapi kata itu langsung terucap dari bibirnya.


"Tidak" jawabnya singkat padat dan jelas.


Sepertinya aku kecewa.


Sekilas ku lihat wajah Daddy tampak tersenyum mendengar ucapannya. Sepertinya kau gagal mendapatkan seorang calon mantu Dad.


"Jadi selama ini apa yang kamu lakukan Brian, selama ini Daddy mempercayaimu untuk menjaga Hana, apa kamu sibuk dengan pacarmu itu?" tanya Daddy menekan padaku, aku tahu dia marah tapi aku sedikit beruntung marahnya tidak seperti tadi. Aku yang memang mengakui kesalahan itu pun tidak berani membantah kata-katanya.


"Daddy tenang saja aku sudah putus dengan Fika beberapa hari yang lalu, cukup aku saja yang tahu alasanku putus dengannya, ku harap Daddy dan Mommy tidak memaksaku" terangku padanya. Aku pun menjelaskan itu dengan penuh keyakinan.


Tak berselang lama kami mendengar suara Mommy memanggil Daddy untuk memberitahukan kalau Hana sudah siuman.


"Syukurlah" batin Li