
Sepertinya bau masakan ini sungguh familiar dihidungku
Aku pun bergegas masuk ke dalam rumah. Benar saja, yang selalu ku tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya juga.
"Mommy" teriakku memanggilnya, ku peluk erat tubuh Mommy untuk ku hempaskan seluruh rasa rinduku. Tiba-tiba
Ceklek
Ku lihat seorang gadis dari pintu yang terbuka.
Seketika aku gagal fokus
Itu adikku, iya itu adikku. Anak kecil dengan pipi tembam dan mata sipit kini menjelma menjadi gadis ayu. Walaupun parasnya tidak secantik boneka barbie tapi sungguh khas Indonesia sekali wajahnya. Dengan rambut panjang tergerai semakin menambah ayu paras wajahnya. Andaikan dia terlahir dari rahim Mommy sudah pasti dia akan menyaingiku dalam mendapatkan hati para penggemarnya.
"Kakak" panggilnya yang membuyarkan lamunanku.
Gadis itu masih pemalu seperti dulu atau mungkin masih takut padaku. Entahlah sepertinya memang sikapnya dari dulu sampai sekarang dia selalu seperti itu. Gadis irit dalam berbicara.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku padanya untuk menghilangkan kecanggungan ini.
"Aku baik-baik saja sekarang" jawabnya singkat.
Ku dengar lagi suara langkah kaki menuruni anak tangga, itu pawangnya adikku yang sekaligus sebagai Daddyku.
"Oh begitu ya, mentang-mentang orangtua tidak di rumah sudah bisa pulang malam?" sarkas Daddy padaku.
Ya Tuhan, baru kali ini aku pulang malam sudah dibilang yang tidak-tidak, sia-sia sudah usahaku selama ini menjadi anak baik.
Mereka?
Ya mereka itu Mommy dan mba Sri yang selaku mata-mata Mommy di rumah.
Setelah sekian lama akhirnya aku merasakan kembali kehangatan keluarga ini, kami pun makan malam bersama, masakan Mommy yang selalu ku rindukan ku lahap sampai tak tersisa. Mommy pun hanya tersenyum bahagia melihat anaknya tidak melupakan masakannya. Dan seperti biasa, setelah selesai makan malam kami berkumpul di ruang keluarga, selama mereka tidak ada aku bahkan tidak pernah menyentuhnya karena setiap aku ke sini, bayangan mereka selalu ada, membuatku sangat merindukan mereka.
"Brian, kami akan kembali menetap di sini" ucap Daddy padaku. Oh, bahagianya hatiku, aku sudah tidak kesepian lagi.
"Benarkah Dad?" jawabku dengan antusias dan Daddy pun membenarkan itu.
"Rencananya besok Daddy akan mengurus administrasi sekolah Hana" terang Daddy kembali.
"Apakah Hana sudah baik-baik saja untuk mengikuti sekolah formal Dad?" tanyaku padanya untuk mengetahui keputusannya itu salah atau tidak
"Hana di sana juga bersekolah Nak karena sekarang adikmu sudah jauh lebih baik, dia akan baik-baik saja kalau kamu menjaganya. Lagipula rumah sakit Daddy sedang bermasalah sekarang karena terlalu lama Daddy tinggalkan jadinya kami memutuskan untuk kembali kesini" terangnya lagi.
Semenjak Hana di bawa ke Jerman ku dengar di sana dia melakukan transplantasi Jantung, beruntunglah dia karena jantung itu cocok dengannya dan tidak ada penolakkan dari tubuhnya tetapi tetap saja kondisi dia berbeda dengan yang lainnya.
"Oh begitu jadi kalau tidak ada masalah dengan rumah sakit, Daddy tidak akan melihat anak Daddy ini lagi?" jawabku dengan raut wajah sendu karena ku pikir mereka benar-benar ingin kembali karena ingin berkumpul lagi denganku.
Seketika itu juga ku dengar tawa mereka serentak. Ternyata mereka mengerjaiku. Awas saja mereka.
Karena malam telah larut kami pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
My Little Angel is come back