"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fifty Nine



Senja pun sudah cukup menampakkan dirinya.


Setelah mendengar perkataan Hans tadi, aku sedikit berpikir tentang Dika, apa dia baik-baik saja.


Sudahlah, kita sudahi saja hari ini, aku pun kembali melanjutkan perjalananku untuk kembali ke rumah yang tadi sempat tertunda. Ku nyalakan musik di dalam mobilku, ku nikmati suasana sore yang cukup indah bagiku tapi tidak dengan hatiku.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, aku pun sampai di halaman rumahku. Aku pun bergegas masuk ke dalam tapi pintu ini terkunci, aku membunyikan bel tapi tak kunjung ada yang membukakannya, lalu ku ketuk pintu berkali-kalj tapi itu pun sama. Pada kemana orang-orang di rumah ini, apa Hana juga pergi tapi dia tidak bilang padaku. Tak lama ku dengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dibelakangku.


"Maaf Den, tadi mba Sri ijin keluar untuk membeli pesanan Non Hana ke depan" ucap mang Soleh padaku, mungkin karena dia melihat wajah kesalku makanya dia menghampiriku untuk memberitahu itu.


"Tapi ada Non Hana ko Den di dalam" ucapnya lagi dan dia pun berlalu setelah aku mengiyakan ucapannya itu.


Sudah berkali-kali aku membunyikan bel dan mengetuk pintu ini tapi tak kunjung terbuka, akhirnya ku ambil ponselku dan aku pun mencoba menghubungi Hana, barangkali dia tertidur.


tuuuutttt...ttuutttt...ttuuutttt...tuuuuttt


Kenapa lama sekali dia angkat, akhirnya aku mendengar suara dari seberang sana.


"Kakak" panggilnya dengan nada yang sedikit serak, benar saja dia sedang tidur, itu pikirku.


"Cepat buka pintunya, kenapa seluruh pintu ini dikunci sih?" tanyaku yang sedikit emosi, karena sudah hampir setengah jam aku berdiri disini.


Tak lama ku lihat mba Sri baru saja kembali sambil membawa beberapa kantung belanjaan.


Huh ternyata isinya kebutuhan perempuan


"Apa kamu sakit?" tanyaku padanya dengan panik dan dia menggelengkan kepalanya.


Aku pun tidak banyak bertanya lagi, segera ku bawa dia menuju kamarnya, ku baringkan dia di kasur empuk miliknya. Saat aku beranjak keluar, seketika itu juga dia menarik tanganku.


"Kenapa kakak lama sekali?" tanyanya padaku dengan raut wajah ketakutannya, padahal aku sudah sering meninggalkannya sendiri bahkan aku juga sering tidak pulang karena mengurus tesisku. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu.


"Oh tadi kakak ada urusan di luar sekalian mengunjungi Hans di kantornya, kenapa memang?" tanyaku kembali padanya. Dia pun kembali menggelengkan kepalanya tapi tatapan yang terpancar dari kedua bola matanya sungguh membuatku berpikir keras, apa yang anak itu sedang pikirkan?


Aku pun berusaha untuk memecah suasana saat ini untuk membuatnya lebih nyaman. Selama ini aku memang sedikit mempelajari ilmu psikologi jadi setidaknya aku sedikit paham apa yang sedang dia sampaikan melalui gerak tubuhnya.


"Tadi Daddy menghubungi kakak katanya dia akan kembali minggu depan sebelum acara kelulusanmu" ucapku padanya dan syukurlah raut wajah bahagia sedikit menggantikan raut wajah ketakutannya itu.


Setelah Hana sedikit lebih tenang, aku pun kembali ke kamarku untuk membersihkan diri. Tak lama aku di sana, ku lihat sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari Fika. Aku un menghubungi kembali dia.


"Kenapa Fika? maaf tadi aku di toilet" tanyaku padanya.


"Brian, acara besok ternyata dibatalkan jadi kita tidak ikut pergi" terangnya padaku.


Sebelumnya aku memang berjanji untuk menemaninya ke acara salah satu temannya, tapi syukurlah kalau acara itu tidak jadi lagipula aku malas basa basi di sana.


Berarti kesempatanku untuk bersamanya besok lebih lama.