
Hari yang ditunggu-tunggu olehku akhirnya tiba. Hari ini adalah hari wisudaku, setelah sekian lama akhirnya aku mendapat gelar dokterku.
Mereka sudah berkumpul di ruangan ini walaupun kami terpisah tempat, aku dapat melihat raut bahagia dari keluarga ku. Tapi ada yang kurang saat ini, seharusnya Fika menemaniku padahal ini salah satu kesempatannya untuk bertemu dengan keluargaku.
Tepatnya dua hari yang lalu, Fika baru saja mengabariku kalau dia harus ikut orangtuanya ke luar kota untuk peresmian toko roti keluarganya. Padahal kami sudah menyiapkan sepasang baju untuk kami kenakan di hari ini. Tapi apa boleh buat kami masih sebatas pacaran jadi aku pun tidak berhak untuk menuntut Fika berlebihan untuk mengikuti semua keinginanku, sejauh ini Fika terbilang sangat pengertian, dia pun tidak terlalu banyak menuntut padaku tapi kalau aku sudah keterlaluan dia pun tidak segan-segan menegurku. Sifat itulah yang membuatku menyukainya.
Acara ini berlangsung lancar tanpa halangan, seperti harapan kami. Keluargaku pun hadir disini sampai dengan selesainya acara.
Di tengah perjalanan Daddy merubah arah tujuannya, aku pun tidak tahu kita akan kemana.
"Kita mau kemana, Dad?" tanya ku pada Daddy, suasana di dalam mobil kali ini terasa hening tidak ada terdengar suara manusia disini, hanya ada suaraku berarti hanya aku manusia disini?
'apa mereka sudah terlalu lelah bahkan untuk menyebutkan satu kata saja tidak bisa'
Tibalah kami di suatu tempat,
'yang benar saja apa kita mau uji nyali di sini'
Tempat ini sangat sepi
Ddduuuuaaarrrr
Tatapan mata itu menuju ke arah Hana yang terlihat sedang berkumpul dengan Daddy dan Mommy, ku lihat raut wajahnya yang sudah lelah, saat tadi kami mulai masuk ke dalam mobil dia pun hanya bersandar di bahu Mommy. Aku pun tidak tega demi diriku dia harus seperti ini.
Acarapun berlangsung meriah, meriah dengan canda tawa teman-temanku itu sudah cukup bagiku. Waktu pun terus berlanjut. Keluargaku sudah pulang terlebih dahulu, karena aku menghargai usaha teman-temanku jadilah aku masih disini.
"Brian, siapa tadi gadis yang disamping Mommymu?" tanya Dika padaku. Aku tahu maksud anak ini, jangan harap kamu bisa mendekati adikku.
"Dia adikku, kenapa memangnya?" tanyaku pura-pura penasaran.
" Aku ingin lebih dekat dengannya, bolehkan?" jawabnya padaku, wah ini anak terlalu to the point sekali, lupa kah dia kalau aku kakaknya yang mengetahui baik dan buruknya perilaku dia. Tapi memang aku akui Dika terbilang masih lebih baik dari segi pergaulan dibandingkan Hans.
"Boleh saja, itupun kalau adikku mau, tapi aku tidak akan membantumu karena aku mau lihat seberapa keras usahamu" ucapku padanya, ku lihat wajah bahagia terpancar dari wajahnya.
'apa seperti itu rasanya mengejar seorang gadis?'
Selama ini akulah yang dikejar gadis-gadis bahkan yang sekarang menjadi kekasihku itupun bukan karena usahaku tetapi berkat kegigihan dia untuk mendapatkan cintaku. Dan itu pun terjadi.
' apakah saat itu Fika merasakan hal yang sama seperti yang Dika rasakan saat ini?'
Hanya dia yang tahu.