
Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian di pesta kemarin. Satu minggu juga tidak ku dengar kabar Fika, mungkin dia masih marah padaku. Sebenarnya aku merindukannya, biasanya dia yang selalu mengekori kemanapun ku pergi tetapi saat ini bayangannya pun tidak ku lihat.
Dengan menghilangkan ego ku, ku beranikan diri untuk datang ke kampus. Aku harus meminta maaf padanya terlebih dahulu.
Setibanya aku di kampus, akhirnya setelah sekian lama aku bisa melihatnya kembali. Memang selama satu minggu ini aku tidak ada jadual ke kampus jadi lebih baik aku memanfaatkan waktu luangku untuk ikut Daddy ke rumah sakit.
Aku pun menghampirinya.
"Fika" panggilku, ku lihat dia berbincang sebentar dengan temannya dan kemudian menghampiriku.
"Masih ingat denganku?" sarkas Fika padaku. Aku tahu dia masih malas bicara denganku tapi aku pun tidak patah semangat untuk mengembalikan kepercayaan sang pujaan hati. Sepertinya aku sudah terkena virus bucin.
"Maaf soal kejadian kemarin, bukan maksudku meninggalkanmu hanya saja kamu tahu kan tujuanku datang ke sana karena apa?" ucapku padanya, harusnya dia pun tahu tujuanku datang ke sana untuk apa.
Setelah panjang lebar ku jelaskan dan ku tebarkan bujuk rayuku akhirnya sang pujaan hati luluh juga. Kurang lebih satu jam aku menemaninya di kampus setelah dia kembali ke ruang kelasnya aku pun memutuskan untuk menuju ke sekolah Hana, karena sudah beberapa hari ini dia selalu meminta di jemput tepat waktu walaupun tidak selalu denganku.
Akhirnya aku tiba di sekolahnya, baru saja ku pakirkan kendaraanku.
Toookkkk..ttoookkk..
Selama satu minggu ini aku melihat sikap anak kecil itu sedikit aneh, dari mulai minta diantar jemput sekolahnya, bahkan pernah waktu itu mang Soleh sakit tidak memberikan kabar ke rumah, Hana pun tidak ada yang mengantar karena aku pun sedang di rumah sakit dengan Daddy. Alhasil dia pun tidak mau berangkat sekolah kalau tidak diantar dari rumah dan akhirnya Mommy pun meneleponku untuk segera mengantar Hana ke sekolah. Ya Mommy terpaksa meneleponku karena Hana sedang ada ujian di sekolahnya jadi tidak mungkin kalau dia tidak mengikuti ujian itu.
"Mau ikut ke rumah sakit atau mau langsung pulang?" tanyaku terlebih dahulu sebelum aku menyalakan mobil. Dia pun memutuskan untuk ikut ke rumah sakit terlebih dahulu, begitulah Hana dia tidak akan mau menyusahkan orang lain, kalau dia memilih untuk pulang terlebih dahulu maka aku akan kembali lagi ke rumah sakit ditambah jarak dari rumah ke rumah sakit dua kali lipat dari sekolahnya ke sana.
Saat perjalanan, aku pun singgah terlebih dahulu di tempat makan, karena ini sudah waktunya makan siang, anak kecil ini tidak boleh terlambat makan, terlambat sedikit saja bisa membuatnya pingsan.
Setibanya di tempat makan itu, belum saja kami sempat masuk ke dalam lenganku sudah ditarik olehnya.
"Aku tidak mau makan di sini" pintanya padaku dengan wajah memelasnya. Dasar anak kecil kenapa tidak bilang dari tadi, aku kan tidak usah repot-repot memakirkan kendaaranku.
"Terus mau makan dimana, ini sudah siang Hana nanti kamu terlambat makan?" tanyaku memastikan sebenarnya dia mau makan dimana, tapi sewaktu dia memegang lenganku, ku rasakan lenganku basah. Ku perhatikan raut wajahnya, itu raut wajah gelisah. Ku edarkan pandanganku untuk mencari tahu apa yang membuat dia gelisah seperti ini. Yang ku cari tidak ku temukan. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari tempat lain selain di sini.
Setibanya di dalam mobil, ku lihat raut wajahnya sudah menunjukkan kalau dia sudah baik-baik saja. Syukurlah.
Sebaiknya aku harus lebih cepat mencari tahu apa yang terjadi dengan Hana.