
Suara kicauan burung terdengar sangat dekat di telingaku, tidak biasanya suara burung itu terdengar sangat jelas karena posisi jendela ku pun jauh dari pepohonan. Ku buka perlahan ke dua mataku, ku dengarkan dengan seksama dan ku ikuti darimana arah suara itu. Langkah ku tepat berhenti di ambang pintu kamarku yang masih tertutup, ku tempelkan telingaku di daun pintu kamar.
'Wah apa ada burung masuk ke dalam rumah' pikirku
Karena rasa penasaranku, ku buka perlahan daun pintu itu. Dan ternyata, apa yang ku lihat?
"Hei anak kecil, sedang apa kau di depan kamarku, kau tahu kau sudah mengganggu tidurku" tanyaku pada dia lebih tepatnya hampir memarahinya.
Ternyata dia sedang memainkan mainan burung-burungan yang berada dalam sangkarnya. Oh Tuhan, dapat darimana anak ini mainan seperti ini, apa Daddy sudah tidak mempunyai uang untuk membelikannya burung sungguhan.
Seketika itu juga dia terkejut sambil membereskan mainannya itu tanpa aba-aba dia bangun dan berusaha berlari dan tiba-tiba saja.
"Bruuukkk"
Aku pun terkejut melihatnya terjatuh, wajahnya sudah memerah dan terus saja menunduk. Tanpa sadar aku mendekatinya, ku lihat sekujur tubuhnya dengan teliti untuk melihat ada yang terluka atau tidak, untunglah hanya lututnya saja yang memar karena terbentur lantai.
"Kau tidak apa-apa" tanyaku padanya sambil ku putar-putar tubuhnya. Ku lihat wajahnya sudah mulai memucat isakkan tangisnya pun sudah mulai terdengar.
'padahal aku hanya menegurnya kenapa bisa dia sampai sepanik itu, bahkan hampir seluruh tubuhnya gemetar, bisa gawat kalau Daddy sampai tahu melihat dia seperti ini, bisa-bisa aku di telan mentah-mentah' batinku
"Sudah jangan menangis, nanti kalau Daddy lihat aku lagi yang disalahkan" pintaku padanya berusaha menenangkannya. Syukurlah jurus yang ku pakai berhasil, dia pun menghentikan isakkannya perlahan ku lihat tubuhnya sudah mulai tenang kembali.
Ku bantu dia untuk membereskan mainannya yang berserakan, ku coba putar mainan itu.
'Untunglah burung ini masih bisa berkicau '
Lagi-lagi tanpa sadar aku menuntunnya membawa ke dalam kamarnya. Ku dudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ku ambil kotak obat yang ada di lemari kecilnya, ku mulai oleskan obat salep dilututnya berharap memarnya akan segera hilang.
'ternyata beginikah rasanya menjadi seorang kakak ketika melihat sang adik terluka' aku pun tersenyum sendiri memikirkan hal itu.
Aku pun meninggalkannya sendiri di kamar. Kenapa rasanya ada yang sedang memperhatikanku ya, ku lihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada orang. Ketika ku lihat ke bawah ternyata Mommy sedang memperhatikanku sambil tersenyum, pantas saja. Akhirnya aku sadar akan senyuman Mommy padaku, seketika itu juga tubuhku terasa kaku, tanpa pedulikan tatapan Mommy padaku, aku bergegas masuk ke dalam kamar.
'Mommy harap kamu mulai membuka hatimu untuk Hana nak dan jadilah kakak yang bisa melindungi adikmu' batin Mira
Setibanya aku di dalam kamar, aku langsung bersandar di daun pintu, ku putar ulang kejadian tadi dipikiranku. Ada apa dengan perasaanku, kenapa sikapku melembut padanya, kenapa aku khawatir padanya. Semoga saja ini hanya gerakan spontanitas dariku tapi perasaan ini terasa nyata. Nyata aku rasakan kalau aku khawatir padanya.