"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fifty Two



Waktu siang ini pun terasa sangat panjang. Seharian ini aku hanya menemani Fika di rumahnya bahkan aku pun sempat tertidur di sini karena terlalu jenuh.


Dering ponselku pun berbunyi, ku lihat nama Dika yang tertera di layar itu.


"Ya Dik, sudah sampai?"


" apa Hana sudah pulang dengan temannya? soalnya aku dari tadi menunggu dia di sini tapi aku tidak melihatnya keluar sama sekali, aku hubungi ponselnya pun sepertinya mati?" tanya Dika padaku. Tidak mungkin, Hana tidak akan pulang dengan yang lainnya tanpa memberitahuku apalagi aku sudah memberitahunya kalau akan ada yang menjemputnya.


Aku pun penasaran untuk mencoba menghubunginya dan benar saja ponselnya tidak aktif, ku hubungi orang rumah jawaban mereka pun sama, Hana tidak ada, pikiranku pun jadi tidak karuan, aku harus bagaimana? kalau Fika aku tinggal, pasti dia akan marah. Tapi aku harus mencari tahu keberadaan Hana.


Akhirnya ku beranikan diri untuk berbicara dengan Fika dan benar saja perkiraanku. Pernah ku bilang kan kita akan lihat nanti keputusanku benar atau tidak dan sepertinya aku menyesal telah membuat keputusan itu. Tanpa ku pedulikan dia yang sedang marah padaku. Aku pun bergegas untuk mencari Hana. Tempat yang pertama ku cari adalah sekolahnya, karena sinyal terakhir GPSnya berada dalam lingkungan sekolah setidaknya aku bisa bertanya pada penjaga sekolah karena dia sudah pasti mengenalku.


Senja pun sudah menampakkan dirinya, dengan langkah tergesa-gesa aku sudah tiba di depan gerbang sekolahnya. Ku tanyakan langsung pada penjaga itu dan mereka mengatakan bahwa Hana belum terlihat keluar dari sekolah ini. Aku pun meminta ijin untuk memeriksanya di dalam sekolah dan ditemani Bapak ini.


Dari jauh ku lihat bayangan Hana dan seorang laki-laki seperti sedang berdebat, ku perhatikan dengan seksama siapa laki-laki itu dan laki-laki itu ternyata pria itu, sepertinya dia sudah bukan anak sekolah, atau dia seorang guru di sini?


Dan penjaga itu membenarkan pemikiranku tepatnya hanya guru magang di sekolah ini.


Ku hampiri dia dengan langkah cepatku.


"Maaf Mas, bisakah anda sedikit lebih lembut terhadap wanita?" tanyanya padaku, walaupun aku pernah berhutang budi padanya karena mengantarkan Hana ke rumah sakit waktu itu tapi untuk saat ini aku tidak mengingatnya.


"Lebih baik Anda tidak terlalu ikut campur urusan kami, permisi!" jawabku padanya sambil berlalu meninggalkannya.


Sepanjang perjalanan dari lorong sampai dengan parkiran aku tidak melepaskan genggaman tanganku dari lengan Hana, saat ini pikiranku bermacam-macam. Dan tibalah kami di parkiran tepatnya samping mobilku, ku paksa Hana masuk ke dalam. Ku lihat airmatanya sudah mulai menggenang. Ku luapkan segala kata-kata yang sekarang berkecamuk di kepalaku.


"Apa yang sedang kau lakukan di dalam sana Hah?" tanyaku tegas. "Kau tau tadi Dika lama menunggumu di sini, ternyata kamu sedang asyik-asyikkan berduaan dengan pria itu, ada hubungan apa kau dan dia?" sarkas ku padanya. Karena kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa tidak mungkin pria itu datang begitu saja ke rumahku saat itu.


Tidak ada jawaban sama sekali dari mulutnya, mulutnya terkunci, entah kuncinya dibuang dimana.


Dari tadi dia hanya menundukkan pandangannya, apa coba yang dia cari.


Jujur aku bertindak seperti ini karena aku mengkhawatirkannya, tetapi kekhawatiranku ternyata sia-sia, dia mengecewakanku.


Apa yang harus ku jelaskan pada Fika nanti?