"My Little Angel"

"My Little Angel"
Seventy



Pagi yang kami nantikan tiba, sengaja kami tidak memberitahukan Hana perihal kedatangan Dika di rumah ini.


Tepat pukul enam pagi ku dengar suara bel rumah berbunyi dan ku dengar mba Sri berbicara dengan seseorang di luar sana. Karena semalam kami baru bisa tertidur hampir pagi menjelang, jadi saat ini aku tertidur di sofa ruang keluarga.


Ku dengar suara langkah yang begitu pelan. Ku coba untuk membuka kedua mataku yang terasa berat, bayangan orang ini sungguh tidak asing bagiku, ku perhatikan dengan seksama wajah orang itu. Seketika itu juga aku terbangun dengan layangan tanganku yang mengarah ke wajahnya. Tak henti-hentinya aku memberikan dia pukulan bahkan tak ada perlawanan darinya. Dan saat itu juga aku mendengar teriakkan dari arah lain, itu suara Daddy.


"Brian hentikan, apa kau mau jadi pembunuh?" seru Daddy padaku.


Aku pun menghentikan pukulanku, ku pandangi wajah itu.


Padahal aku baru memukulnya dua kali di wajanya tetapi kenapa wajahnya seperti babak belur begitu. Seluas itukah pukulan tanganku.


Memang saat ini yang aku lihat hampir seluruh wajahnya memar dan mulai membiru ditambah dengan penampilannya yang sangat mengenaskan, sudah pasti itu tidak mungkin karena aku.


Tapi siapa yang melakukan itu?


Tak lama ku dengar suara bel pun berbunyi lagi, kali ini Hans yang tiba di rumahku.


"Akhirnya kau masih punya nyali juga untuk datang ke sini" sarkas Hans pada Dika


Ya, Hans dulu memang pernah tertarik dengan Hana tetapi karena dia menyadari akan sikapnya yang seperti itu, dia tidak berani untuk melangkah lebih jauh karena taruhannya adalah persahabatan kami.


"Maaf" satu kata pertama yang ku dengar darinya.


"Kalau kalian ingin melanjutkan hal ini, aku akan siap kapan saja" jawabnya lagi dengan wajah yang tertunduk.


"Kenapa kamu melakukan ini pada putri kami, bahkan aku menganggap mu sama seperti anak kami?" tanya Daddy yang sedari tadi diam padanya.


"Aku mencintai Hana, tapi sepertinya Hana tidak mencintaiku, saat itu aku ingin membuat Hana menjadi milikku seutuhnya. Aku sadar kelakuanku saat itu salah. Aku tidak berpikir akan seperti ini, aku tidak akan mengira bahwa Hana akan semakin menjauh dariku" ucapnya kali ini dengan suara yang tercekat ditenggorokannya.


Buuugghhhh


Kali ini bukan aku yang melakukannya, tetapi Daddy.


"Kau pikir putriku itu barang yang bisa kau miliki semaumu? mungkin kalau aku tidak mengingat hubungan baikmu dengan anakku, aku sudah menghabisimu" kali ini ucapan Daddy benar-benar menyeramkan.


"Jadi apa maksudmu membawa barang itu?" tanyaku lagi. Tapi tidak ada jawaban darinya, aku tahu jawaban itu sama dengan jawaban sebelumnya.


"Dan apa tujuanmu datang ke sekolah Hana kemarin?" kali ini aku benar-benar penasaran dengan hal itu.


"Aku hanya ingin meminta maaf pada Hana sebelum aku pergi, aku tahu perbuatanku salah, aku telah menyakiti raga dan batinnya, aku menyayanginya dan aku tidak mau menyakitinya lebih jauh, maka dari itu aku lebih memilih pergi, tapi aku mohon ijinkan aku bertemu dengan Hana, jujur aku hanya ingin meminta maaf padanya" ucapnya memelas pada kami.


Ternyata dari atas sana ada yang sedang menyimak pembicaraan kami.