"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fourty Five



Malam semakin larut detik jam pun terus berlalu, tapi tidak dengan lampu itu kenapa tidak berhenti. Aku semakin kalut karena sudah beberapa jam kami disini tapi belum ada yang bisa menunjukkan kalau Hana baik-baik saja.


"Minumlah dulu" seseorang menyodorkan sebotol minuman padaku, orang itu adalah pria itu. Kenapa aku menyebutnya dengan sebutan "pria itu", karena aku memang tidak tahu nama orang itu.


"Maaf sepertinya saya harus kembali terlebih dahulu" pamitnya padaku, akupun sudah kehabisan kata-kata bahkan pembendaharaan kataku ikut terhapus oleh situasi ini. Aku hanya mengangguk kecil menanggapi pamitnya itu.


Ku dengar suara derap kaki yang begitu cepat, ku lihat dari kejauhan, itu orang-orang yang ku kenal. Itu Mommy dan Daddy. Dengan cepat mereka menghampiriku.


"Apa yang terjadi Brian? saat kami meninggalkannya tadi dia baik-baik saja" Daddy pun bertanya dengan suara lantang padaku. Saat ini aku hanya bisa mengatakan yang sebenarnya walaupun aku tahu jawabanku merupakan bomerang untukku. Dan benar saja.


PLAAAKKKKK


Tamparan itu mendarat kedua kalinya dipipiku, rasanya memang sakit tetapi rasanya tidak sesakit perasaan Daddy dan Mommy padaku. Mommy yang biasanya membelaku pun hanya diam mematung, sepertinya kali ini Mommy benar-benar kecewa padaku.


Kulihat sudah tidak ada bayangan lampu itu, yang bisa ku pastikan tindakan di dalam ruangan itu sudah selesai. Dan benar saja saat ini mereka keluar bersama Hana, ku telusuri wajah pucatnya dengan Infus dan peralatan medis ditubuhnya. Seketika itu airmataku mengalir deras akibat kebodohanku.


Mommy yang biasanya menangis meraung-raung melihat putrinya seperti ini kali ini terlihat tegar. walaupun aku tahu dalam hatinya sungguh lemah mungkin hatinya sudah menangis.


Syukurlah kondisi Hana sudah membaik dia pun sekarang sudah berada di ruang inap, ku lihat raut wajah ke dua orangtuaku yang terlihat sendu. Ku hampiri mereka.


"Maafkan aku, aku akan menerima apapun hukumanmu Dad, tapi tolong kalian jangan mendiamkan aku seperti ini" aku pun meminta permohonan maaf dari mereka.


"Brian, Daddy hanya cuma minta satu darimu, Daddy hanya ingin kamu menjaga adikmu, sekarang kamu sudah dewasa tidak selamanya Daddy bisa menjaga Hana seperti sekarang" ucap Daddy padaku.


"Oh tidak Dad, jangan bicara seperti itu selagi Hana masih ada itu tugas Daddy, jangan berani-beraninya Daddy bilang seperti itu, untuk saat ini aku memang belum menjadi kakak yang baik untuk Hana, tapi percayalah Dad, aku pasti bisa melakukan itu.


"Kamu tahu kenapa kali ini kami terlihat lebih tenang melihat kondisi Hana yang seperti itu, karena kami sudah terbiasa dan harus terbiasa bahkan saat waktunya itu tiba kami pun harus bisa, karena kami harus siap kapan saja kami bisa kehilangan Hana" seketika itu juga ku peluk erat tubuh Mommy dengan erat, ku rasakan tubuhnya yang sudah mulai menua.


Oh tidak jangan katakan itu, aku masih belum siap untuk menerima itu, Tuhan berikanlah aku satu kesempatan. Kesempatan membahagiakan orangtuaku dengan menjadi kakak yang baik untuk Hana.


Setelah keadaan telah membaik, aku ompun memilih istirahat sejenak, sedari tadi ku lihat ponsel ku terus berbunyi tapi tidak ku hiraukan karena aku tahu siapa yang menghubungiku saat ini. Itu adalah Fika.