"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fifty One



Cahaya mentari terasa menusuk kedua mataku. Ku buka perlahan mata ini untuk menutup kembali gorden itu.


Hari ini weekend, beberapa waktu ini kenapa terasa berat sekali saat mendengar kata weekend, itu semua karena Fika. Ya, sekarang setiap weekend aku harus wajib menemaninya. Sedangkan adikku saja selalu mengurung diri di rumah karena dia sangat menyayangi kakak tercintanya ini, dia tahu kalau aku mempunyai tugas setiap weekend sekarang.


Asal kalian tahu semenjak aku dan Hana menjadi dekat bahkan sudah bisa dibilang adik dan kakak yang sesungguhnya, Hana lah salah satu tempat pelarian curhatku, walau kadang aku memperoleh kata-kata tajamnya akibat perkataanku. Dia sangat cocok untuk dijadikan tempat curhat apalagi mengenai percintaan karena dia adalah sesama wanita yang mengerti hati wanita yang lainnya.


"Hana, sarapan dulu" panggilku dari luar kamarnya, karena menurut mba Sri, Hana belum turun untuk sarapan. Tak lama kemudian pintu pun terbuka, ku lihat mata sembabnya.


Kenapa dia menangis, apa karena marah padaku?


Hana bukanlah termasuk orang yang pemarah karena salah satu cara melupakan emosinya yaitu dengan cara menangis.


Beberapa hari ini Hana terlihat murung bahkan untuk kesehariannya saja hanya dilakukan di dalam kamar dan saat pagi ini pun kami saling diam entah karena apa.


"Cepatlah habiskan sarapanmu, kakak akan antar kamu, tadi mang Soleh ijin katanya mau antar istrinya berobat" aku pun memecah keheningan pagi ini.


Saat sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya dia pun berkata "Berarti nanti kakak jemput aku juga kan?" tanyanya padaku, terus kalau bukan aku siapa lagi coba. Aku pun mengiyakan pertanyaannya.


Tibalah kami di sekolah Hana, dia pun bergegas masuk dengan terburu-buru padahal waktu bel masih terbilang lama. Aku pun melanjutkan perjalananku untuk menjemput Fika, tetapi saat aku menjemputnya dia sudah berangkat dengan temannya. Ya begitulah Fika yang sekarang, apa karena aku yang baru tahu sifat aslinya atau memang sifat dia yang berubah. Entahlah.


Aku pun melanjutkan kembali perjalananku untuk ke kampus karena hari ini aku ada ujian dan selang waktu tiga puluh menit aku sudah sampai di sini.


"Baik" jawabku singkat karena aku sedang tergesa-gesa untuk sampai kelas. Ku lihat wajah Dika yang tidak puas dengan jawabanku. Aku pun tak peduli itu urusannya.


Akhirnya ujian pun selesai dan aku pun keluar dari ruanganku, ku lihat Fika sudah di depan kelasku. Entah apa yang akan dilakukannya.


"Brian, temani aku ya hari ini soalnya orangtuaku pergi lagi, jadi aku sendiri di rumah" pinta padaku. Astaga masalah ini lagi kemarin aku mengorbankan Hana, masa sekarang harus adikku lagi yang dikorbankan, bahkan sikapnya saja masih acuh padaku.


Atau aku meminta Dika lagi ya?


Tapi sebelumnya lebih baik ku hubungi Hana terlebih dahulu.


"Hana, maaf sepertinya aku tidak bisa menjemputmu, bagaimana kalau Dika saja ya yang menjemputmu?" tanyaku padanya


"Aku akan menunggu kakak saja di sini sampai kakak datang " jawabnya dari seberang sana


Aduh bagaimana ini?


"Sayang jangan menunggu kakak, kakak tidak tahu akan selesai jam berapa, mau ya?" paksaku padanya, lama tak ku dengar jawabannya dan aku mengartikan bahwa dia setuju seperti biasanya.


Aku pun kembali menghubungi Dika, seperti biasa dia pun sangat senang mendengarnya bahkan saat ini dia sudah bersiap untuk menjemput Hana.