"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fifty Five



Ku berlari sekencang mungkin agar cepat sampai ke dalam rumah, ku lihat mba Asih bolak balik di depan pintu kamar Hana dan mba Sri sedang mengetuk pintunya.


"sudah biar aku saja, kalian pergi saja dulu" pintaku pada mereka, mereka pun berlalu dari kamar itu.


"Hana, cepat buka pintumu jangan seperti anak kecil" teriakku dari luar kamarnya dan tidak lama aku memanggilnya dia pun keluar dengan wajah yang sudah basah dengan airmata.


"Aku ingin ikut bersama Daddy, bawa aku menyusul mereka" rengeknya padaku dengan isakkan yang sepertinya dia menangis sudah sejak lama.


"Kamu yang salah kenapa kamu yang menangis seperti ini segala ingin menyusul Daddy, kamu sudah besar jangan selalu menjadi anak manja yang kemana-mana harus bersama mereka" kali ini aku pun terbawa emosi, ku balas ucapannya dengan nada yang lumayan kencang setelah mendengar perkataannya yang menurutku sangat tidak masuk diakal.


Ku dengar isakkannya semakin menghilang, seketika itu juga tubuhnya limbung. Dengan panik aku membawa tubuhnya ke dalam kamar, ku baringkan dia dengan perlahan, ku lihat wajahnya yang semakin memucat.


Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini. Ku periksa seluruh tubuhnya tanpa ada yang terlewat. Syukurlah di hanya kelelahan.


Aku pun meminta ke mba Sri untuk menyiapkan makanan untuknya dan tak lama makanan itu pun sudah siap. Ku letakkan makanan itu di atas nakas tempat tidurnya supaya saat dia terbangun tidak perlu lagi memanggil bantuan mba Sri.


Waktu pun telah berlalu, sudah hampir satu jam Hana terlelap dari tidurnya, aku pun belum meninggalkannya sedikit pun untuk memastikan perkembangannya.


Ketika aku baru saja menoleh ke arahnya, aku melihat dia berusaha membuka kedua matanya dan tatapan itu kosong. Ku hampiri dirinya dengan duduk disampingnya.


"Ayo cepat buka mulutmu, atau aku akan memaksanya" pintaku lagi padanya dan tetap saja dia tidak mau membuka mulutnya. Aku hampir frustasi dibuatnya, harus dengan cara apa aku membujuknya


Apa aku telepon Mommy saja?


Tidak, itu hanya solusi akhir, aku harus bisa membujuknya. Kali ini mungkin akan sedikit lebih ekstrem.


"Kau masih ingin seperti ini? kamu ingin menambah beban pikiran mereka? bahkan sampai sekarang masalah Daddy di sana belum selesai, kamu mau menambah lagi masalahnya? kalau kamu mau seperti itu aku akan hubungi Daddy sekarang supaya dia cepat pulang" ancamku padanya, sepertinya ancamanku berhasil kali ini.


"Tapi aku merindukan mereka" jawabnya padaku dengan wajah sendunya, wajarlah sikapnya seperti itu, karena dari dulu dia belum pernah berpisah selama ini tapi tidak seperti ini juga, membuat orang panik melihat keadaannya.


"Kalau kamu merindukannya kamu bisa hubungi mereka tetapi tidak dengan kondisi yang seperti ini" ucapku padanya sambil menunjukkan wajahnya pada aplikasi kamera di ponselku seketika itu juga dia terkejut, mungkin yang dilihatnya itu penampakkan hantu berwujud dirinya. Aku pun terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu dan tak lama kemudian dia pun membuka mulutnya, ku suapi dia dengan perlahan, anak ini makannya terbilang sedikit bahkan lama. Semoga saja kesabaranku menyuapi dia tidak habis juga seperti nasi di piring ini.


Sedikit demi sedikit nasi itu masuk ke dalam mulutnya dan kemudian habis tak tersisa. Mungkin setelah habis menangis seharian dia lapar.


"Kak, bisakah kalau kamu tidak bisa menjemputku tepat waktu, biarkan aku lebih mununggumu?" kalimat itu terucap dari mulutnya dan aku tahu apa maksudnya.


Kalau dia tidak ingin di jemput dengan orang lain, bahkan Dika sekalipun.