"My Little Angel"

"My Little Angel"
Twenty Nine



Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu pun tiba.


Hari ini aku melaksanakan acara wisuda di sekolahku. Aku pun sudah terlihat tampan sekali menggunakan jas berwarna hitam dipadankan dengan kemeja warna putih dan dasi warna hitam tentunya dengan style anak muda jaman sekarang bukannya menggunakan jas model untuk acara akad nikah. Begitu juga dengan Mommy dan Daddy jangan ditanya, mereka itu terlalu perfect di usianya yang sekarang. Yang membuatku lebih terpukau ketika ku lihat gadis kecilku menggunakan kebaya yang senada dengan warna kebaya Mommy. Ingin rasanya ku bawa lari saat ini juga. Seketika itu juga ku terkekeh mengingat pemikiranku


"Sedang membayangkan apa kamu Brian" seketika lamunanku dibuyarkan oleh Daddy, ku jawab Daddy dengan senyuman mematikanku. Huh Daddy tidak bisa sedikitpun membuatku senang.


Tanpa bicara panjang lebar kami pun bergegas untuk sampai di salah satu gedung di Jakarta. Ya, karena acara ini tidak diadakan di sekolah dikarenakan keterbatasan fasilitas. Dan yang ku tahu acara ini termasuk acara yang luar biasa, yang mengharuskan kami mengadakannya diluar sekolah.


Acaranya pun berlangsung khidmat dan kami pun sudah sampai diacara bebas kami, sebenarnya acara bebas kami masih berlangsung lama setelah acara foto keluarga Mommy dan Daddy memutuskan untuk kembali terlebih dahulu karena kondisi Hana yang baru saja keluar dari rumah sakit. Sebenarnya aku cukup kecewa tapi apa boleh buat.


"Brian" sapa seseorang padaku


aiisshh, dia lagi.


"Bolehkan aku berfoto denganmu, hanya untuk kenang-kenangan saja" pintanya dengan wajah yang memelas, aku pun tidak tega melihat wajahnya. Aku pun mengajukan syarat padanya.


"Boleh, asalkan kita berfoto bersama dengan yang lainnya" jawabku singkat padanya. Tidak lama kemudian teman-temanku berkumpul dan kami pun berfoto bersama.


Serangkaian acara sudah aku selesaikan, aku pun memutuskan untuk pulang, lagipula untuk apa aku berlama-lama disini kalau hanya sendiri sedangkan yang lain masih bersama orangtuanya.


Setibanya aku di rumah.


"Ke sini nak" panggil Mommy padaku dan aku pun menghampirinya, ku lihat wajah Momny sudah tidak menggunakan make up dan ku perhatikan kembali terlihat wajah lelah tercetak diwajahnya. Setibanya aku dihadapan mereka.


"Mom, aku tahu Mommy mengkhawatirkan Hana tapi Mommy harus ingat kondisi kesehatan Mommy, anak Mommy bukan hanya Hana saja, nanti kalau Mommy sakit bagaimana, apa Mommy tidak mengkhawatirkan aku?" ucapku secara tiba-tiba pada Mommy dan Mommy pun cukup terkejut mendengar perkataanku dan seketika itu juga ku lihat buliran airmata terjatuh dari kelopak matanya.


Sungguh rasa bersalah yang ku rasakan saat ini.


"Sayang, tenanglah Mommy bisa menjaga diri Mommy tapi tidak dengan Hana" ucap Mommy dengan suara tercekat. Apa maksud dari ucapan Mommy? ku lihat Mommy tidak bisa menjelaskan lebih lanjut ucapannya, akhirnya Daddy pun membuka suaranya.


"Brian, kamu tahukan kalau kami menyanyangi kalian melebihi diri kami sendiri?" tanya Daddy padaku yang ku jawab dengan anggukkan kepalaku.


"Kamu tahu apa yang terjadi dengan Hana saat ini?" tanya Daddy kembali yang kali ini ku jawab dengan gelengan kepalaku.


"Kondisi jantung Hana saat ini sedang menurun, fisiknya lemah bahkan dia sudah tidak bisa terlalu lelah seharusnya dia masih harus tinggal di rumah sakit tapi Daddy pikir membuatnya lebih lama tinggal disana bukannya mempercepat penyembuhannya tapi memperburuk keadaannya karena pikirannya terus memikirkan kami dan masalah sekolah Hana rencananya kami akan melakukan Home Schooling karena sudah tidak mungkin Hana untuk melakukan kegiatan luarnya" terang Daddy padaku dengan raut wajah sendunya.


Dduuaaaarrrr


Rasanya sebuah bom meledak tepat dihadapanku.


Ku ingat setiap perlakuanku selama ini, aku terlalu jahat padanya tanpa tahu bagaimana kondisinya, kenapa Daddy tidak memberitahuku sebelumnya, kenapa Daddy membuatku merasakan penyesalan yang teramat dalam pada akhirnya.