"My Little Angel"

"My Little Angel"
Sixty Three



Malam pun kian larut dan sekarang waktunya menjemput orangtuaku.


"Kenapa kamu mau ikut, ini sudah malam Hana, kita juga tidak tahu mereka tiba tepat waktu atau tidak, lagi pula besok pagi kamu kan harus ke sekolah" ucapku padanya, lagi-lagi raut wajah itu dia tampakkan padaku. Aku pun tidak bisa apa-apa lagi kalau dia sudah seperti itu.


Kenapa akhir-akhir ini aku seperti mempunyai ekor yang selalu mengikutiku.


Sebelum waktu semakin malam, akhirnya aku pun berangkat bersamanya, kami memang tidak menggunakan mang Soleh, karena kasihan juga dia sudah seharian bekerja lagi pula sekarang sudah malam, kasihan dengan tubuh rentanya.


Hampir dua jam aku menunggu orangtuaku, benar firasatku bahwa mereka akan terlambat sampai di sini dan ku lihat Hana sebentar-sebentar menguap.


"Apa kataku bilang, lebih baik kamu di rumah saja" ucapku padanya. Dia pun diam saja mendengar perkataanku.


Aduh Mom, dulu anakmu keselek apa sih, sampai susah sekali dia mengeluarkan suaranya.


Setelah menunggu sekian lama, yang ditunggu pun akhirnya tiba, hanya aku yang menyambutnya karena putrinya itu sudah tertidur pulas di ruang tunggu.


"Kenapa Hana ikut Nak?" tanya Mommy padaku yang melihat Hana sedang tertidur pulas di bangku ruang tunggu. Aku pun menjelaskan kepada mereka kenapa Hana memaksa ikut.


Dan kalian tahu? mereka hanya menertawakanku dan bilang padaku kalau mungkin ini pembalasan atas sikapku yang dulu. Menyebalkan.


Karena kami juga sudah lelah beraktivitas hari ini, kami pun rasanya tidak kuat untuk menggendong Hana akhirnya aku membangunkannya. Dan setalh dia terbangun jadilah drama teletubies di sini. Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku menyaksikan ini.


Pagi ini, aku mengantar Hana terlebih dahulu ke sekolahnya karena ada yang harus diurusnya untuk keperluan kelulusannya. Setelah mengantarkan dia aku pun bergegas ke rumah sakit.


Setibanya aku di lobby rumah sakit, aku dihadang oleh seorang wanita yang sudah sangat ingin ku lupakan. Itu Fika. Beberapa orang memperhatikan kami, karena kami memang sedikit bersitegang di sini. Sebelum menambah masalah, aku pun membawa Fika keluar dari rumah sakit ini, ku bawa dia ke taman belakang rumah sakit.


"Kenapa kamu datang lagi?" tanyaku padanya dengan tegas.


"Tolong beri aku satu kesempatan lagi Brian, aku janji, aku akan berubah" rengeknya padaku


"Jangan pernah kau mengecewakan aku Fika, apa kamu perlu aku ajari berhitung? coba kau hitung sudah berapa kali kamu membohongiku?" ejekku padanya, karena memang Fika ini ternyata ratunya pembohong. Harusnya dia menjadi aktris.


Entahlah, benar atau tidak dia tulus mencintaiku tapi untuk sekarang rasa cintaku sudah tertutup oleh rasa kecewaku.


Aku jadi teringat pesan Mommy pada kami. Salah satu syarat Mommy saat kami memilih calon pendamping hidup kami. Kenapa aku melupakan itu. Mungkin ini tujuan Mommy dan Daddy memberi kami syarat itu, aku merasakannya sekarang. Bila dia memang mencintaiku harusnya dia bisa menerima keluargaku, bahkan walau bukan keluarga kandungku.


Setelah selesai dengan perdebatan kami yang tidak berujung, dia yang tidak terima aku putuskan, akhirnya aku mengambil keputusan akhirku.


"Fika, terima kasih karena kamu selalu menemaniku, terima kasih karena kamu pernah ada di hatiku, terima kasih juga kamu pernah membuatku merasakan cinta untuk seorang wanita. Tapi maaf, mulai sekarang kita mulailah menjadi pribadi kita masing-masing tanpa harus memakai topeng dihadapan orang lain karena saat topeng itu di buka pasti ada orang yang kecewa dengan wujud asli dibalik itu" ucapku padanya dengan kutatap lekat-lekat kedua bola matanya dan seketika itu juga tangisnya pecah dihadapanku, hatiku pun sebenarnya sakit mendengar isakkan suara itu tapi sakit itu tak terasa dibanding aku mendengar tangisan dari adikku.


Akhirnya ku peluk tubuhnya, mungkin ini adalah pelukan terakhirku untuknya.