
"Kak"
Panggilan itu merupakan angin segar bagiku, syukurlah Hana sudah tersadar.
"Kau, sudah bangun putri tidur, apa kau tidak lelah tidur seharian" ledekku padanya, dia pun terlihat bingung.
"Benarkah?" ku lihat keraguan pada dirinya. Aku pun tersenyum melihatnya, dia sudah lebih baik dari kemarin.
"Apa masih sakit?" ia pun menggelengkan kepalanya. Syukurlah.
Kami menghabiskan waktu bersama di sini sampai setibanya orangtuaku datang kembali untuk menggantikanku, karena sore ini aku sudah berjanji pada Fika untuk menjemputnya.
"Mom aku pamit dulu ya nanti malam aku kesini lagi" pamitku pada mereka dan mereka pun mengijinkanku untuk meninggalkan ruangan ini.
Aku pun bergegas untuk pulang terlebih dahulu karena dari kemarin malam aku tidak mandi karena langsung ke sini. tapi tetap tampan ko.
Karena hari pun sudah beranjak sore, beruntunglah jalanan lebih lengang dari biasanya, tak butuh waktu lama aku pun sudah tiba di kampus. Aku pun mencoba menghubungi Fika tapi belum ada jawaban darinya dan ku putuskan untuk menunggunya saja di taman.
Sudah hampir satu jam aku di taman tapi belum ada kabar juga dari Fika, karena sudah sore aku pun mencarinya di dalam kampus. Ku lihat dia sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya di kantin, aku pun menghampiri dirinya.
"Dimana ponselmu?" tanyaku padanya. Dia pun menoleh kearahku sedikit terkesiap, tapi dia kembali lagi untuk melanjutkan perbincangannya dengan teman-temannya. Aku yang merasa tidak di anggap pun merasa cukup kesal.
"Baru menunggu segitu saja kamu sudah marah apalagi aku yang menunggumu dari semalam, kamu tidak memikirkan perasaanku?" sarkasnya padaku, aku pun merasa bersalah padanya dan tidak ingin memperpanjang masalah ini, ini hanya kesalahpahaman yang harus kami luruskan.
Tak butuh waktu lama aku meluluhkan seorang Fika, cukup perhatian saja dia sudah cukup senang karena memang aku jarang memperhatikannya maka dari itu "perhatian" saja merupakan hadiah mewah dariku untuknya.
Waktu pun menjelang malam, tapi Fika masih saja tidak ingin pulang, aku pun kembali melihat jam tanganku, sudah seharusnya aku menggantikan orangtuaku menjaga adikku. Tapi kalau aku beralasan lagi, Fika akan kembali marah padaku. Baiklah untuk saat ini lebih baik aku menghubungi Daddy.
"Dad, maaf sepertinya aku sedikit terlambat malam ini?" ucapku pada Daddy, sebenarnya Daddy selalu ingin menemani Hana tapi aku tidak tega membiarkan Mommy di rumah sendiri jadi aku melarang Daddy untuk bermalam di rumah sakit.
Hanya sebentar itu yang ku yakini.
Ternyata dugaanku salah. Fika mengajakku kesuatu tempat yang terbilang cukup ramai dan sudah pasti ini tidak membutuhkan waktu yang sebentar. Ini tidak bisa dibiarkan aku harus segera kembali.
"Fika, lebih baik kita pulang saja ini sudah malam" pinta ku padanya tapi dia bersikeras tidak ingin kembali. "Fika, aku harus menggantikan Daddy menjaga Hana di rumah sakit" ucapku lagi padanya dan ucapan ku kali ini berhasil menarik perhatiannya. Syukurlah ia mengerti.
Eh tapi tidak, seketika itu dia pergi begitu saja meninggalkanku. Aku pun terkejut dengan sikapnya yang seperti itu karena baru kali ini aku melihat dia yang seperti ini. Oh salah setelah ku ingat-ingat sudah beberapa kali bahkan dengan akhir yang seperti ini. Kenapa setiap aku menyebut nama seseorang, kelakuannya menjadi seperti ini.
Dan nama seseorang itu adalah Hana.