
Brian POV
Saat di kamar, ku dengar sayup-sayup suara tangisan dan kata-kata yang memilukan, seketika itu juga airmataku mengalir deras mendengar itu. Itu adalah suara Mommy yang sedang bercerita pada Daddy dan tidak lama ku dengar suara derap kaki yang begitu cepat menuju ke kamarku.
Buuukkk...bbuuukkk...bukkkk
Rasa takut menghantuiku, itu adalah gedoran pintu yang dilakukan Daddy, yang membuatku semakin takut yaitu saat Daddy bilang ingin mendobrak pintu kamar ini, seketika itu juga ku buka pintu itu, aku tidak berani untuk melihat wajah Daddy yang saat ini ada di hadapanku. Daddy terus bertanya padaku dengan suara kencangnya, entah kenapa hatiku merasa sakit saat Daddy mengatakan itu dan entah keberanian darimana ku dapatkan, ku katakan kata-kata yang selama ini tidak berani ku utarakan. Dan seketika itu juga.
PLAAAKKKK
Pipiku terasa panas sekali bahkan aku pun terjatuh karena kencangnya tamparan itu, keberanian yang tadi ku dapatkan hilang begitu saja, ku dekap erat tubuh Mommy kurasakan detak jantung Mommy yang sangat cepat. Aku tahu Mommy sedang meluapkan amarahnya pada Daddy yang telah memukulku, ku dengar suara Mommy yang menggelagar memenuhi seluruh ruangan ini, sebelumnya untuk bersuara kencang pun Mommy tidak pernah tetapi baru pertama kali ku lihat Mommy yang seperti ini. Dan baru kali ini juga aku lihat Mommy mengancam Daddy. Untunglah tidak lama kemudian Daddy berlalu begitu saja dari kamarku. Aku pun menangis dipelukan Mommy dan seperti biasa semarah-marahnya Mommy tidak akan bertahan lama pada anak-anaknya.
------------------------------------------------------
Kurasakan pagi ini terasa sangat sepi, entah kemana orang-orang di rumah ini.
Ttookk..tookkk
Suara iu berasal dari pintu kamarku, ku buka pintu itu, ku lihat Mommy sudah berada di depanku.
"Brian ada yang ingin Daddy dan Mommymu bicarakan, segeralah habiskan sarapanmu" pinta Daddy yang saat ini tengah menatapku.
Akhirnya kami pun selesai sarapan, Daddy mengajakku ke ruang keluarga. Karena aku masih ingat amarah Daddy semalam, aku pun hanya berdiri mematung di hadapan mereka.
"Duduklah, kenapa kamu berdiri di situ Nak?" pinta Daddy padaku. Ketika aku mendengar kata Nak, sungguh damai rasanya hatiku.
'Apa Daddy sudah tidak marah padaku' pikirku yang melihat Daddy pagi ini sama seperti pagi-pagi biasanya bukan Daddy yang semalam. Aku pun mengikuti kemauan Daddy, aku duduk di depan mereka.
Kulihat pergerakkan Daddy menuju ke arahku, dengan reflex aku menyingkir. Seketika ku lihat raut menyesal diwajah Daddy. Tiba-tiba ku dengar ucapan yang membuatku terkejut.
"Maafkan atas tindakan Daddy semalam" ucap Daddy padaku seraya mengusap lembut kepalaku. Tanpa berpikir apa-apa lagi ku dekap erat tubuh Daddy, aku pun menangis di pelukkannya. Kami pun saling mencurahkan apa isi hati kami masing-masing. Sungguh lega rasanya telah mengutarakan ini semua.
Ternyata dari tadi Mommy memperhatikan aku yang sebentar-sebentar menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu.
"Hana sedang ikut Uncle Andi" ucap Mommy seketika dan yang herannya aku pun mengangguki ucapan Mommy itu.
Senyuman jelas terlihat di wajah ke dua orangtuaku melihat jawabanku.