
Melihat raut wajahnya ingin sekali aku menertawakannya. Tapi takut dosa.
"Sudahlah sob tidak usah dipikirkan" pintaku lagi padanya karena raut wajahnya yang tetap seperti itu.
Seketika itupun ia seperti tersadar dari mimpinya.
"Oh iya, sorry bro, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ah itu bukan punyaku, sejak kapan aku memiliki itu" jawabnya padaku dengan suara yang sedikit terbata-bata.
Karena dia tidak mengakui benda itu miliknya. Aku pun tidak ingin memperpanjang pertanyaanku. Tak terasa waktu pun terus berlalu, sampai dering ponsel pun mengingatkan ku.
"Ya Han?" tanyaku pada Hana untuk menanyakan alasannya menelepon.
"Tadi Daddy meneleponku karena kakak tidak mengangkat teleponnya. Dia memberitahuku kalau akan sampai di bandara mungkin pukul sepuluh nanti" jelasnya padaku. Ku lihat Dika penasaran dengan siapa aku berbicara. Aku pun mengatakannya hanya dengan gerakan bibirku menyebut nama Hana.
"Baiklah, sebentar lagi kakak akan pulang, apa kau mau menitip sesuatu?" tanyaku padanya dan barangkali dia membutuhkan sesuatu. Tiba-tiba Dika mengisyaratkan kalau dia ingin ikut pulang denganku.
Setelah aku mendengar jawaban darinya, aku pun mengakhiri panggilan ini. Dan aku pun bergegas untuk kembali ke rumah.
Sekitar tiga puluh menit aku sampai di rumah, ku lihat Hana sedang menghampiriku dan seketika itu tatapan matanya langsung tertunduk tidak melihatku. Kenapa dia seperti itu?
Tak lama mba Sri datang membawakan kami minuman. Aku pun meminta Hana untuk duduk bersama kami, tapi dia menggelengkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Sudahlah Brian, tidak apa-apa" ucap Dika yang tiba-tiba bicara padaku. Tidak biasanya Hana seperti ini saat ada Dika, paling tidak dia menyapanya walau hanya sebentar, tetapi ini tidak sama sekali. Dan ku lihat raut wajah Dika biasa saja seperti tidak mempermasalahkan sikap Hana itu biasanya dia akan merengek padaku agar Hana lebih lama menemaninya.
Setelah kepergian Dika aku pun menghampiri Hana di kamarnya. Tidak biasanya juga pintu ini di kunci saat ada aku di sini. Ku ketuk pintu kamarnya itu tanpa mengeluarkan kata-kata tetapi pintu itu tetap tidak terbuka. Karena tidak ada perubahan akhirnya aku pun menyebut namanya.
"Hana buka pintunya ini kakak" sautku dari luar kamarnya. Dan tak lama aku memanggilnya pintu itu langsung terbuka.
" kamu kenapa sih?" tanyaku yang heran dengan sikapnya. Dia pun kembali menggelengkan kepalanya.
"Oh iya Han, apa beberapa waktu lalu kamu melihat ada pria yang datang ke sini?" tanyaku lagi padanya dan lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya lagi.
Aduh Hana, kamu sedang tidak menari India, kenapa kamu terus menggelengkan kepalamu.
"Soalnya aku menemukan ini" aku pun menunjukkan benda itu padanya, sekilas dia tidak paham dengan benda itu, tapi setelah dia membaca kata-kata di kotak itu dia pun terperanjat seketika.
Dijatuhkannya benda itu dengan raut wajah ketakutannya. Aku pun langsung menenangkannya.
"Sudah-sudah mungkin itu hanya sampah yang terjatuh di depan rumah, kenapa kamu jadi panik seperti ini" bujukku padanya, ku ambil benda itu dan ku buang jauh-jauh benda itu dari pandangannya.
Karena sebentar lagi aku akan menjemput orangtuaku, aku pun segera bergegas untuk ke bandara , sebelumnya aku pun berpamitan dengan Hana, sewaktu aku tiba di depan kamarnya, dia pun keluar dengan pakaian yg sudah rapi ditubuhnya.
"Kamu mau kemana?" tanyaku padanya, karena ini sudah malam, untuk apa dia keluar.
"Aku mau ikut"