
" Hallo kak" terdengar suara di ujung sana.
"Dimana kamu?" tanyaku tegas, dia pun menjelaskan keberadaannya. Setelah aku mendapatkan alamatnya, segera ku putuskan sambungan telepon itu, ku ambil kunci mobilku dan bergegas ke alamat yang sudah kudapatkan.
Butuh waktu satu jam sampai aku di tempat tujuan dikarenakan jalanan yang padat karena ini menjelang siang hari dan kebetulan saat weekend. Aku langsung bergegas ke tempat yang dimaksud, sebuah toko buku. Ku edarkan pandanganku ke setiap lorong rak buku, tapi tak kutemukan keberadaanya. Dan seketika ku berbalik badan.
Astaga kau mengagetkanku
Itulah Hana, ku tarik kedua tangannya, aku pun mendengar suara desisan dari mulutnya karena merasakan sakit dari tangannya yang ditarik olehku, ku bawa dia keluar mencari tempat yang sepi dan disaat itu juga ku hempaskan tangannya, mungkin tangannya membentur sebuah meja yang kebetulan berada tepat disampingnya karena terdengar suara benturan.
"Apa kau dengar perkataan Daddy?" seruku padanya, ya saat ini emosi menguasai jiwaku. Bagaimana tidak emosi, saat ini aku lebih memilih untuk pergi dengannya dibandingkan aku harus menghabiskan waktu bersama kekasihku yang ku rindukan. Aku tahu habis ini Fika akan kembali marah padaku tapi itu urusan nanti yang penting Daddy tidak memarahiku.
"Maaf" ucapnya dengan nada penuh penyesalan. Dia pun sudah tidak berani menatapku.
"Maaf, maaf, apa hanya dengan kata maaf bisa melupakan segalanya, kau tahu bagaimana Daddy menyuruhku untuk menemanimu, kau tahu kan hari ini Fika pulang bahkan aku rela meninggalkannya sekarang hanya untuk menemanimu, tapi saat aku sampai rumah kamu sudah tidak ada, kalau tahu kamu sudah pergi aku tidak akan pulang, harusnya kamu bisa beri Daddy keyakinan untuk pergi sendiri jangan hanya menjadi anak manja yang kemana-mana harus ditemani, kamu tahu sekarang Fika marah padaku?" ucapku panjang lebar tetapi dia tidak bergeming dari diamnya. Kurasa airmatanya sudah mengalir dipipinya karena ku lihat dia selalu menyapu pipinya dengan telapak tangannya. Aku pun berlalu meninggalkannya tanpa peduli dia mengikutiku atau tidak.
Aku pun sudah sampai di lantai basement, ku menoleh ke belakang, syukurlah dia mengikutiku, pikiranku saat ini seperti di sinetron-sinetron kalau dia akan marah padaku dan berbalik meninggalkanku. Tapi syukurlah itu hanya sinetron.
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah, di sepanjang jalan kami tidak mengeluarkan sepatah katapun, karena aku masih sangat marah padanya, begitu juga dengan dia, dia hanya terdiam dengan wajah sendunya. Dan setibanya di rumah aku hanya menurunkannya di depan gerbang dan setelah itu aku pun melanjutkan kembali perjalananku menuju rumah Fika, aku akan menebus kesalahanku hari ini. aku tidak ingin hanya masalah seperti ini merusak hubunganku dengannya. Apalagi kalau sampai berlarut-larut.
"Aku pulang dulu ya, jangan lupa untuk mengunci pintu dan jendelamu?" pamitku padanya sambil ku kecup pucuk kepalanya.
"Hati-hati ya, nanti kalau sudah sampai rumah segera kabari aku ya" pintanya padaku
Aku pun kembali menuju rumah, jalanan yang padat menambah terlambat waktuku untuk sampai ke rumah.
Ku lihat mba Sri sedang membereskan meja makan tapi masih dengan lauk yang masih utuh.
"Mba, Hana sudah makan?" tanyaku pada mba Sri dan lagi-lagi mba Sri memberikan jawaban yang membuatku khawatir.
Aku bergegas menuju kamar Hana, tanpa ku ketuk lagi pintunya lalu ku buka begitu saja. Benar saja ku lihat Hana sedang berbaring dengan tubuh meringkuk. Ku dengar desisan halus yang berasal dari dirinya. Aku pun segera menghampirinya.
"Sakit"
Seketika itu juga ku pejamkan paksa kedua mataku.