"My Little Angel"

"My Little Angel"
Thirty Seven



Beruntunglah orang tuaku tidak mempunyai pikiran kolot yang senang menjodohkan-jodohkan anaknya. Mereka memberikan kami kebebasan dalam memilih pasangan, salah satu point penting yang di syaratkan mereka adalah apabila kami memiliki pasangan, maka pasangan itu harus menerima baik dan buruknya keluarga kami.


Simple bukan? hah itu sih menurut kalian tapi tidak menurutku. Walaupun aku memiliki kekasih tetapi kenapa aku meragukan itu, bukan aku meragukannya tetapi entah hati kecilku mengatakan itu.


"Sayang, besok aku akan mengantarkan adikku ke pesta salah satu temannya, Daddy menyuruhku untuk menemaninya" ucapku pada Fika, saat ini kami sedang bersama karena Fika masih saja memintaku untuk menemaninya dengan alasan sebagai pengganti hari-hari kemarin saat ku tinggalkan.


"Kenapa harus besok, kamu kan janji padaku untuk menemaniku?" pintanya padaku, aku memang menjanjikan hal itu, tapi bagaimana lagi kalau sudah sang pawang yang memberikan perintah.


Lagi-lagi aku membujuknya dengan susah payah walaupun harus ada sedikit drama disini dan akhirnya aku memenangkan perdebatan ini. Sepertinya aku harus bersiap diri untuk menerima konsekuensi hari ini. Bersabarlah, Brian!


Hari yang dimaksud pun tiba.


Kulihat Hana sudah cantik memakai dress berwarna peach dengan panjang selutut, rambutnya yang di curly menambah cantik penampilannya hari ini. Karena ini sebuah pesta, aku pun memakai pakaian yang sesuai dengan penampilannya, saat ini aku memakai blazer hitam dengan kaos putih polos yang membalut tubuhku dan sepatu sneakers putih milikku. Mungkin kalau orang lihat dia lebih cocok menjadi kekasihku, kenapa?


Sudah ku bilang walaupun Hana sudah dekat denganku tetapi tidak dengan sikapnya, dia masih seperti dulu mungkin karena masih satu spesies dengan tumbuhan putri malu. Ya. dia masih terlihat kaku bahkan menurutku malu-malu kalau berdua denganku.


Kami pun sudah memasuki ruangan itu, ku lihat sekelilingnya sudah dipenuhi anak-anak seumurannya, mungkin hanya aku saja yang tua disini, mungkin bisa dibilang om-om dengan gadis belianya.


Satu persatu mereka pun saling menyapa bahkan tidak sedikit yang mencuri pandang ke arahku. Sejujurnya aku malas datang ke acara seperti ini, kalau bukan karena sahabat Hana aku tidak akan datang menemaninya karena aku tidak akan pernah mengijinkannya untuk datang ke acara seperti ini.


"Kenapa kamu bisa disini?" tanya seseorang padaku. aku pun menoleh ke asal suara itu dan itu suara Fika." Dan siapa wanita ini?" tunjuknya pada Hana dengan raut wajah marahnya. Aku sudah seperti pasangan yang tertangkap selingkuh saat ini, semua orang memperhatikanku.


Sebelum keadaan bertambah runyam aku pun membawa Fika ke arah taman. Ku tinggalkan Hana di sini bersama teman-temannya.


"Sedang apa kau di sini? katamu ingin pergi dengan teman-temanmu?" tanyaku padanya memastikan kenapa bisa dia ada di sini.


"Kenapa? apa hanya kamu saja yang boleh bersenang-senang? Ini pesta salah satu adik temanku, apa aku tidak boleh datang kesini? Apa aku percaya itu adikmu?" tanyanya beruntun dan kata-katanya sungguh mengecewakanku.


"Kamu salah paham Fika, Hana memang adikku kalau kau tidak percaya silahkan tanya pada orang tuaku" ucapku kembali berusaha meyakinkannya.


"Bagaimana aku bisa bertanya pada orang tuamu kalau kamu saja tidak mengijinkanku untuk bertemu orang tuamu" sarkas Fika padaku, memang benar katanya aku selalu menolak setiap dia ingin berkunjung ke rumahku. Entah kenapa aku masih tidak ingin mengenalkannya pada orang tuaku.


Sebelun emosi mengambil alih tubuhku akupun memilih menghindarinya. Hanya satu kata yang ku ucapkan sebelum pergi dari pandangannya.


"Terserah" ucapku padanya, aku pun berlalu untuk mencari Hana, karena bagiku pesta ini sudah tidak terasa menyenangkan.


Ku edarkan pandanganku mencari Hana, tapi tidak terlihat sama sekali, ku tanya teman-temannya tapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Seketika aku mendengar perkataan seseorang.


"Aku ingin pulang" pintanya padaku.