"My Little Angel"

"My Little Angel"
Thirty One



Cuaca pagi ini terbilang mendung, mungkin itulah perwakilan hatiku sekarang. Setelah sekian lama aku sendiri disini tanpa ada yang menemani kecuali mba Sri dan mba Asih, mba Asih masih tetap disini karena menurut Mommy biar mba Sri ada temannya, teman bergosip mungkin maksudnya.


"Mba, nanti aku pulang telat ya soalnya mau ada acara dengan teman-temanku, mba nanti istirahat saja langsung, aku akan membawa kunci" ucapku pada mba Sri karena biasanya dia menunggu sampai ku kembali, dia pun mengiyakan ucapanku.


Setelah semua persiapanku selesai aku bergegas menuju kampusku. Kampus favoritku.


Saat ini aku sedang mengambil jurusan kedokteran.q Sebenarnya sih melenceng jauh dari tujuan awalku, tujuan awalku sebenarnya ingin menjadi arsitek tetapi mengingat kejadian enam tahun silam mengubah arah pandangku, semua karena Daddy. Karena aku ingin seperti Daddy.


Beruntunglah semuanya lancar dari mulai beasiswa yang kudapatkan sampai dengan program pertukaran pelajar internasional pernah ku ikuti . Oh iya aku lupa , dikampus ini juga aku mendapatkan kekasih yang belum lama ku pacari.


Kalian masih ingat gadis yang selalu mengejarku? Itulah dia, ternyata dia juga masuk di universitas ini walau berbeda jurusan denganku dia masuk di jurusan ekonomi. Akupun bingung pelet apa yang dia gunakan sampai aku terpikat olehnya padahal dulu aku sangat alergi sama yang namanya wanita.


"Fika" panggilku ke seseorang. Itu adalah nama kekasihku. Mungkin kalian akan tertawa saat mengetahui sejak kapan aku tahu namanya. Aku baru tahu namanya saat kami akan menjalani hubungan ini. Lucu bukan.


"Hei, sudah siap?" tanyanya padaku tanpa banyak kata lagi aku segera membawanya ke mobil, karena ku lihat sudah hampir waktunya jadi aku harus bergegas pergi. Sore ini rencananya aku akan mengunjungi pesta yang diadakan Hans, kalau bukan sahabatku aku juga tidak mau pergi, apalagi harus membawa kekasih. Kalian tahu kan kalau sudah membawa kekasih di sebuah acara teman pasti kita tidak akan nyaman. Entah kita memikirkan perasaannya yang mungkin saja bosan atau faktor-faktor lain dari teman-teman kita yang membuatnya tidak nyaman dan berakhir pulang begitu saja tanpa menikmati acaranya.


Kami pun tiba di pestanya Hans dan kami pun menghampiri sang tuan rumah.


"Selamat ya sob, walaupun tidak cum laude" ucapku sambil terkekeh, Hans saat ini sudah menyandang gelar sarjana ekonominya, Hans beralasan kenapa dia mengambil jurusan itu tidak lain karena dia tidak mau ambil pusing dengan berbagai tugas yang membuatnya rumit nanti dan kuliah pun menurutnya hanya formalitas saja untuk menyenangkan orangtuanya. Karena Hans melanjutkan kuliah di universitas biasa tapi ternama jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk dia bisa lulus.


Semakin malam acara pun semakin ramai, ku lihat suasananya sudah tidak nyaman karena terdapat beberapa orang yang sudah dalam keadaan mabuk. Daripada mengambil resiko, kamipun memutuskan untuk kembali. Hans pun menyampaikan rasa tidak enaknya padaku karena dia tidak mengira pestanya akan seperti ini.


"Santai saja Hans, lagipula ini sudah malam tidak enak membawa Fika terlalu lama, yang ada nanti aku ditangkap kawin sama orangtuanya" bisikku pada Hans dan dia pun tertawa, aku bingung kenapa dia tertawa padahal aku serius takut ditangkap kawin oleh orangtuanya.


Akhirnya kami pun bergegas pulang. Ku antarkan terlebih dulu Fika ke rumahnya tak lupa meminta maaf pada orangtuanya karena sudah membawanya terlalu lama. Terlalu kaku bukan untuk pria seumuranku padahal ini malam minggu dan baru jam delapan malam juga, bukankah itu wajar-wajar saja?


Setibanya aku di rumah


Sepertinya bau masakan ini sungguh familiar dihidungku.