Wings & Fate

Wings & Fate
Meet Again



Aku takut memandang langsung matanya, padahal kejadian tadi bukan salahku. "Ya-yang tadi itu, salah paham," ucapku dengan gugup. Callum hanya terdiam, sedangkan tubuhku masih gemetar. Aku tidak tahu kenapa aku merasa takut, mungkin takut ia akan membenciku dan tidak memercayaiku lagi. Dengan kepala yang tertunduk, aku berbicara lagi. "Bo-Bora sengaja melakukan...itu."


Apakah ia akan memaafkanku? Akankah dia percaya dengan omonganku? Mungkin saja sekarang ia sedang menatapku dengan jijik, berpikir bahwa aku sudah melakukan macam-macam yang jauh lebih parah daripada ini. Aku tetap tertunduk, tidak berani menatapnya, padahal di lubuk hatiku, aku sangat rindu padanya. Ingin rasanya aku menatap lebih lama lagi wajahnya.


Aku dikejutkan saat Callum akhirnya berjalan mendekatiku, lalu menarikku dan memelukku dengan erat. Aku menarik napas sedalam mungkin, mencium aroma tubuhnya yang biasa, dengan kepalaku yang terkubur di dadanya.


"Tidak apa-apa, Alena," bisiknya di telingaku. "Tidak apa-apa." Ia mengelus punggung dan sayapku dengan pelan, sambil mempererat dekapannya.


"Itu bukan salahku," bisikku lagi. Aku takut ia hanya menenangkanku agar aku tidak bersedih, padahal bisa saja ia masih tidak memercayaiku. "Tadi Bora sengaja melakukan itu. Tadi dia me-"


"Aku tak ingin mendengarnya," kata Callum dengan nada datar. Tungkaiku melemas, dan aku melepaskan lenganku yang dilingkarkan ke tubuhnya. Ia segera menyadarinya dan melepaskan dekapannya.


Apa dia marah padaku? Air mata mulai berkumpul dan mengaburkan pandanganku. Baru saja aku berbalik badan karena ingin menyembunyikan air mata yang sudah menetes, tapi Callum lagi-lagi menarik lenganku.


Ia menyatukan bibir kami. Bau aroma tubuhnya lagi-lagi mengelilingi lubang hidungku. Aku tidak dapat membaca ekspresi Callum, namun aku dapat merasakan amarahnya saat ia menekan bibirku terlalu keras, dan mendorong tubuhku ke dinding.


Aku terkesiap dan membuka mataku yang semula terpejam, namun Callum tetap melakukan aksinya. Ia menyentuh lidahku dengan lidahnya sendiri, memainkan mulutku terlalu intens. "Akan kuhapus jejak pria tua itu padamu," gumamnya, masih sambil menekan bibirku.


Mulutnya sampai mendarat ke leherku, dan tiba-tiba saja daerah leherku sudah terasa sakit karena gigitannya.


"Cal..." Aku memelas saat ia sudah menghisap bagian leherku. Ia menggumamkan namaku, dan aku langsung terbuai dalam sentuhannya. Jantungku sudah berpacu. Akhirnya aku menutup mata dan membiarkan diriku disentuh olehnya.


Callum sudah melingkarkan tangannya ke pinggangku. Tangannya yang terasa dingin dan beku lolos menembus gaun tipisku. Aku menghela napas saat ia sudah menemukan bibirku kembali.


"Sebulan," gumamnya dalam mulutku. "Sudah sebulan aku tidak melihatmu."


"Hnnngg," erangku saat ia menghisap lidahku. Wajahku tiba-tiba terasa panas karena sudah mendapat perlakuan seperti ini darinya. "Aku juga," akuku.


Callum tersenyum, dan matanya memancarkan rasa rindu yang mendalam. Ia mengelus pipiku dengan punggung jarinya yang kasar, membuat jejak lingkaran pada wajahku. Aku menatap wajah tampannya, serta ujung sayap emasnya yang timbul di balik bahunya. Hal yang sudah lama tidak kulihat.


"Aku memercayaimu, Alena," katanya. "Tapi aku tetap tak bisa melupakan saat-" Ia menggeleng-geleng dan memejamkan matanya. Aku tiba-tiba merasa bersalah.


"Kau tahu, sudah sebulan aku memimpikanmu," lanjutnya lagi. Ia membuka matanya lagi, namun yang kulihat bukanlah tatapan seorang lelaki muda periang, melainkan pria dewasa yang menatapku lapar dan haus atas sentuhan dan afeksi. Aku menelan ludah susah payah.


Callum jelas sudah berubah.


Ia semakin menekan tubuhku ke dinding. Matanya melirik dadaku, dan aku merona. Kami belum pernah menjelajahi lebih jauh hubungan kami. Lebih tepatnya, aku masih belum membuka diri karena takut. Mungkin karena trauma atas sayap cacatku, bagian fisikku yang membuatku tak percaya diri, ditambah dengan luka permanen yang kudapatkan dari masa lalu.


Aku takut Callum akan melihatnya.


"Kau terlihat berbeda, Alena," katanya dengan suara agak asing. Berat dan menggoda. Bulu kudukku meremang.


Bibirnya lagi-lagi menyatu denganku. Selama beberapa detik, ia terus melampiaskan rasa rindu sekaligus amarahnya kepadaku, tidak memberikanku kesempatan untuk bernapas dan membuka mulut. Akhirnya saat ia melepaskan sedikit bibirku, aku buru-buru mendorong bahunya.


"Kita tak akan bisa berhenti kalau terus seperti ini," gumamku. Ia lagi-lagi memandangi wajahku penuh hasrat, namun saat ia ingin menciumku, aku menghalanginya dengan jariku.


"Callum, kumohon," kataku sambil mengunci pandangan dengannya. Ia menghembuskan napas, masih meraup wajahku dengan tangan besarnya.


"Maafkan aku, Alena. Aku tak dapat mengontrol diriku saat..." Ia menggeleng-geleng dan menutupi wajahnya dengan tangannya. "A-aku tak akan melakukannya lagi-"


"Callum." Aku menyentuh pipinya dan memaksanya untuk memandangku, tidak peduli dengan penampilanku yang sudah teracak berkat perbuatannya. Sudah lama aku tak melihatnya salah tingkah. "Kita harus berbicara."


Akhirnya ia kembali tersadar dan mengangguk. Sekarang kami saling berhadapan. "Kenapa kau tak sekalipun datang kepadaku?"


Callum menyandarkan dahinya padaku. "Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku, Alena. Kupikir dengan menyelesaikan semuanya, aku bisa lebih cepat kembali dan bertemu denganmu."


Wajahku memanas, dan itu terbukti benar karena Callum jadi tersenyum. Ia mengelus-ngelus pipiku dengan lembut. Matanya setengah terpejam dan hanya terfokus ke bibirku. "Aku harus ditemani oleh suara serangga dari pohon saat tertidur. Selain itu, suara dengkuran para penjaga juga membuatku terjaga."


"Memangnya kamu tidak diberi alas tidur mewah?"


"Tapi kau kan pangeran. Kupikir kau akan diberi ranjang berkanopi."


"Buat apa tidur di ranjang luas kalau cuman sendirian?" Tanyanya sambil cengar cengir.


"Julukan buatmu, pangeran kesepian," kataku sambil menjulurkan lidah ke arahnya. Ia terbelalak, kemudian sudah menggelitik tubuhku.


"Hey!" Kami tertawa terbahak-bahak. Aku terngakak sampai terguling-guling di atas lantai. Saat tawaku hampir reda, aku tersadar bahwa tubuhku sudah berada di atasnya.


"Aku memang kesepian," katanya sambil menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga. "Tapi sekarang tidak lagi."


Ia melingkarkan lengan ke pinggangku dan menciumku lagi. Kali ini aku tak dapat menolak. Sudah lama aku tak menyentuh helaian rambutnya yang halus.


"Rambutmu perlu digunting," kataku saat ia lagi-lagi membuat tanda pada leherku. Aku merasakan hembusan napasnya yang memasuki pori-pori kulitku. "Karena kau sudah kembali, maka aku wajib merapikan penampilanmu."


Callum tiba-tiba mendesah, kemudian menatapku penuh penyesalan. "Maaf, Alena. Aku tak punya banyak waktu."


Aku hanya mematung saat ia sudah melepaskanku. "Aku harus kembali menyelesaikan pekerjaanku." Ia sudah sibuk mengambil senjatanya di lemari kayu miliknya.


"Pekerjaan apa lagi?" Tanyaku penuh kecewa sambil merapikan rambut serta bajuku. Callum tetap mengobrak-abrik lemarinya, tanpa menoleh kepadaku. "Memangnya sebulan masih tidak cukup?"


"Ini bukan hanya soal perbaikan dan pembersihan wilayah, Alena," balasnya dengan nada datar. Ia menundukkan kepalanya. "Ini jauh lebih rumit."


"Lalu, apa itu?" Aku sudah berdiri di belakangnya. "Katakanlah, dan aku akan membantumu."


"Kurasa kau tak bisa membantuku."


"Kenapa? Aku sudah jauh lebih kuat, Cal. Kau tak lihat kekuatanku sebagai seorang-"


"Fae God. Aku tahu." Ia berbalik badan dan secepat kilat sudah menahan kedua bahuku. "Namun kau harus tetap tinggal disini. Semua orang membutuhkanmu."


Aku menganga tak percaya. "Mereka rakyatmu. Mereka juga butuh pemimpin sepertimu."


"Setelah apa yang telah kuperbuat? Setelah semua kerusakan ini?" Callum mengangkat bahunya. "Mereka pasti sudah membenciku."


Aku menggeleng-geleng. "Ini bukan salahmu. Kau juga korban, Callum. Ini ulah Sang-"


"Aku tidak memenuhi kewajibanku untuk melindungi rakyatku," bisiknya sambil memalingkan wajah ke arah lantai.


Aku tidak yakin ucapan apa yang mampu mengobati lukanya. Jadi aku hanya mengutarakan suara hatiku. "Aku butuh kamu disini..."


Callum menatapku dengan bola mata birunya. "Aku tak ingin menempatkanmu dalam resiko."


Resiko? Resiko apa yang akan kudapatkan kalau aku pergi bersamanya? Tidakkah ia mengetahui bahwa tinggal bersama para Ketua Golongan sudah seperti neraka bagiku?


"Kau lebih aman tinggal disini-"


"Tapi aku tak ingin tinggal disini!" Bentakku, mulai kehilangan kesabaran. "Mungkin aku sudah menjadi Fae berpangkat tinggi, tapi aku diperlakukan seperti boneka! Setiap hari harus melakukan ini-itu! Setiap saat, aku harus tahan dan mengalah mendengar keputusan orang-orang mengenai nasib masa depanku!"


Bagus Alena, pikirku karena terkejut atas perkataan sendiri. Kau sudah mengacaukan suasana.


"Alena...aku tidak tahu-" Aku menepis tangan Callum, kemudian menutup mataku yang sudah mulai dibasahi oleh air mata. "Alena..."


"Aku tak akan pergi bersamamu kalau itu yang kau mau, Callum," kataku sambil menahan isakan tangisku. "Aku bukan pemaksa seperti orang-orang itu. Aku..." Tenggorokanku tercekat, namun kupaksa untuk terus berbicara. "Lakukan apa yang kau mau."


Hanya keheningan yang kudapatkan. Aku masih membelakanginya, tidak ingin menunjukkan air mata menyedihkan milikku ini. Setelah beberapa detik, akhirnya aku menyerah dan berbalik badan, namun ia sudah menghilang.