Wings & Fate

Wings & Fate
End of War



Lexy baru saja menyerang salah satu Egleans saat tiba-tiba ada yang menerkamnya dari belakang.


Ha! Ia tak akan kalah dari mereka. Biar bagaimanapun, ia juga sedang menggunakan tubuh Egleans, jadi mereka sepadan dengannya.


Lexy mendengar suara raungan yang berasal dari dirinya sendiri. Ia mencakar wajah makhluk itu, kemudian menggigit sayap mereka yang ternyata terasa pahit.


"Lexy!" Seseorang memanggilnya. Itu adalah Val. Pria itu muncul secara tiba-tiba, kemudian membantunya melawan para Egleans.


Sraatt!! Salah satu cakar itu sukses melukai Val. Pria itu meringis kesakitan, namun ia tetap tak menyerah dan terus berusaha melindunginya.


Melihat itu segera menarik emosi Lexy. Ia meraung semakin menjadi-jadi, lalu memukul-mukul dadanya sendiri seperti hewan buas.


Apa aku baru saja bertingkah seperti tarzan?! Pekik Lexy dalam hati. Ia tidak tahu harus tertawa atau berduka karena hal itu.


Sampai kapan mereka terus menyerang?! Batinnya. Rasanya ini bisa berlangsung sampai selamanya. Meski bala bantuan telah datang dan para Fae Royal bahkan ikut terjun ke area perang, makhluk-makhluk ini terus bermunculan. Rasanya seperti ada suatu portal yang terbuka kemudian mereka menerobos masuk wilayah Fae.


Sraatt!!


"Aarrgghh!!" Teriak Val. Pria itu jatuh berlutut, kemudian menatap sebelah kakinya yang baru saja dilukai oleh Egleans. Salah, bukan hanya sekedar dicakar, melainkan ditarik!


Lexy hanya mematung melihat genangan darah yang tercipta. Kini pria itu kehilangan sebelah pasang kakinya.


Ia tak peduli kalau pria ini pernah menjatuhkan martabatnya di hadapan publik. Yang ia tahu, ia harus membalaskan hal ini. Maka ia menggertakkan giginya dan mengambil ancang-ancang, lalu segera menerkam siapa saja yang berani mendekati Val, termasuk Ledion yang saat itu ingin membantu pria tersebut.


***


Saat mendengar suara teriakan Val, Ledion langsung sigap dan mendatangi sumber suara. Lexy yang sudah menjadi monster berbulu putih sedang sibuk menghadang Egleans lainnya, kemudian gadis itu menoleh dan menjerit saat melihat kaki kanan Val yang buntung.


Ledion juga merasakan amarah. Saat ia menghampiri mereka, Lexy malah menyerangnya balik!


Perutnya tersobek sangat dalam, dan ia langsung menahan pendarahan dengan tangannya. Ledion menengadah dan memandangi wajah Lexy yang mirip seperti seekor beruang kutub.


Lexy tak lagi mengaum. Pupil matanya membesar, dan ia sepertinya mulai tersadar apa yang sudah dilakukannya. Perlahan-lahan, gadis itu menjelma kembali menjadi bentuk Fae.


"Ledion!" Di saat itu ia mendengar suara teriakan Sana. Wanita itu berlari dan berlutut di dekatnya.


Uhuk! Ia tak boleh mati. Terlebih lagi, di tangan gadis ini. Apa jadinya kalau Lexy disalahkan lagi karena telah membunuh seorang Fae tanpa sengaja?


"Ledion... kumohon." Sana mulai terisak, lalu menekan luka di perutnya. Sementara ia hanya memandangi wajahnya tanpa berkedip.


"Sana..."


Wanita itu mulai menyembuhkannya dengan sihirnya. Namun ia tak mampu menutupi semuanya, karena mana sihirnya sudah sangat lemah.


"Jangan menangis," bisik Ledion sambil tersenyum. Ia menelan ludah dan merasakan tubuhnya yang rileks karena sentuhan dan belaian wanita itu.


"Maafkan aku." Sana menundukkan kepalanya. "Jangan tinggalkan aku seperti Anastasia."


Ledion menyentuh pipi wanita itu. "Anastasia? Apa itu nama mendiang anak kita?"


"Ya," jawab Sana sambil mengangguk dan tersenyum. "Sebenarnya aku sudah memikirkannya jauh sebelum aku hamil."


Betapa bahagianya Ledion saat mendengar nama anaknya itu. "Sana. Jangan takut. Aku tak akan meninggalkanmu." Namun tubuhnya berkata lain. Saat wanita itu kembali berteriak, tangan Ledion terjatuh dan tak lagi menyentuh pipi istrinya.


***


Lexy baru saja membunuh seorang Fae. Ini semua adalah kesalahannya seorang diri. Ia masih tak bisa mengontrol dirinya.


"Lexy." Val sudah menghampirinya dan menggoyangkan bahunya. "Lexy, sadarlah."


Ia menggelengkan kepala. Pandangannya kini menjadi buram karena air mata. Saat ia melihat tangan Ledion yang tidak lagi menyentuh pipi Sana, ia tahu ajalnya sudah tiba.


"Lexy-"


"Aarrghh!!" Lexy menjambak rambutnya sendiri karena murka. "Kenapa?! Kenapa?!"


Ia mulai menjadi gila. Val juga panik, dan ia menyeret dirinya sambil terseok-seok di tanah, lalu memeluknya.


"Lexy, tidak apa-apa." Val mulai menenangkannya dan menepuk pelan pundaknya. "Ini bukan salahmu."


"Tentu saja ini salahku!" Lexy menggelengkan kepalanya berulang kali, mulai menjadi tak waras. Matanya lalu mendarat ke pedang Val yang terkapar di lantai. Secepat kilat ia merampasnya dan menikam perutnya sendiri.


Suara teriakan Val bahkan membuat seisi hutan menjadi hening. Darah mulai mengucur dan mengotori kedua tangan Lexy. Perlahan-lahan tubuhnya menjadi lemah dan ia jatuh ke tanah.


"Lexy!" Val berkali-kali meneriaki namanya. Lexy bisa mendengar suara kepakan sayap para peri lebah, semuanya kini berdiri mengelilinginya, mengelilingi Ratu mereka yang sudah melukai diri sendiri.


"Egleans," bisik Lexy sambil gemetaran. Namun semua orang malah menghampiri dirinya, sebagian Fae menghampiri mayat Ledion.


Aneh. Kenapa tak ada satupun yang fokus menyerang pasukan Egleans? Dan kenapa tak ada lagi yang menyerang mereka?


Seseorang berbisik tepat di telinga Val. Lexy memfokuskan pendengarannya dan samar-samar dapat mendengar dua kalimat. "Mereka tak lagi menyerang kita. Tubuh Egleans itu seketika hancur dan menghilang."


Lexy tak mengerti apa yang telah terjadi. Sebelum ia menutup mata, tubuhnya sudah dibopong oleh Val.


***


"Bagaimana kondisinya?" Bisik seseorang di samping ranjangku. Aku bisa mengenali suaranya. Dia adalah Abi, kakak perempuan Callum.


"Masih sangat lemah," jawab Fae Healer yang tak lain adalah Sana. Suara wanita itu terdengar berbeda. Selama empat minggu ini, suaranya masih saja serak, seperti habis menangis.


Aku mendengar suara desahan Abi yang kecewa, kemudian ia menyelimuti tubuhku dengan selimut yang super tebal. Setelah itu, lampu ruangan dimatikan.


Selama empat minggu ini, aku sudah mengerti pola gerakan orang-orang. Setelah aku disembuhkan oleh Sana, aku akan tertidur dan memasuki alam mimpi.


Kali ini aku kembali bermimpi dan bertemu Callum. Mimpi yang sama, yaitu mengenai Raja dan Ratu Fae. Callum telah menjadi Raja Fae yang bijaksana, sementara aku adalah pendamping hidupnya.


Tak pernah aku merasa sebahagia ini saat memasuki alam mimpi. Ini semua berkat satu orang. Atau perlu aku menyebutnya dua orang?


"Alena." Clara memanggilku. Manusia itu tersenyum saat melihatku. "Bagaimana kabarmu?"


"Begitulah," desahku. "Aku masih belum bisa bangun ke dunia nyata. Tapi walau begitu, kau telah menciptakan mimpi ini untukku. Terima kasih, Clara."


Wanita itu tersenyum. Selama empat minggu berturut-turut ia memang sengaja menemuiku di alam mimpi, dan membantu untuk menyenangkan hatiku. Ia bisa menjelajahi dunia mimpi, maka ia mengajakku serta. Aku bahkan bebas memilih kapan aku bermimpi dan bisa memilih isi mimpiku seperti apa.


Kalau kalian bertanya, siapa sih sebenarnya wanita ini? Ia hanyalah seorang gadis manusia dengan impiannya. Seorang gadis manusia dengan sejuta mimpinya. Ia telah menceritakan kepadaku perjalanan hidupnya sewaktu bertemu dengan suaminya, Chrys, untuk yang pertama kalinya.


"Waktu itu aku jadi mengenal dunia Fae berkat Chrys," jelas Clara. Sekarang kami sedang berpiknik di sebuah taman, yang tentu saja hanya di dalam mimpi. "Berkatnya, aku bisa hidup sampai sekarang, dengan kemampuan anehku yang bisa menjelajahi dunia mimpi."


Aku tertegun mendengar perkataannya. "Memangnya kau pernah hampir mati, sama sepertiku?"


"Ya," katanya sambil mengangguk. "Meski aku tak tahu dengan jelas asal usul kemampuanku ini, pada akhirnya aku bersyukur karena kemampuan ini sangat berguna. Lihat saja. Aku bahkan telah menyelamatkan seorang Fae God!"


Aku tertawa mendengarnya, kemudian jatuh tertidur di atas hamparan rumput yang wangi. Sambil menatap langit cerah, aku kembali berkata. "Maaf, Clara, karena sempat meninggalkan kalian sewaktu gadis jahat itu menyerang."


"Tak usah meminta maaf." Clara ikut berbaring juga di sampingku. "Kau harus menyelamatkan dirimu. Semua orang membutuhkanmu."


"Tapi aku tak akan hidup sampai sekarang kalau bukan berkatmu," jelasku kepadanya. "Kalian bahkan bisa membangkitkanku. Kalian memang hebat."


"Itu bukan apa-apa, sebenarnya. Ini semua karena aku beruntung sempat bekerja dengan Sang Ratu. Awalnya aku pikir ini hanya hubungan bisnis yang biasa, namun lama kelamaan Chrys merasakan sesuatu yang janggal terkait wanita itu."


"Dan biarkan aku tebak. Mentang-mentang suamimu seorang Fae Light, kalian memata-matai Sang Ratu dan akhirnya mencuri salah satu botol ramuan itu."


"Haha!" Suara tawa Clara sangat lembut sekaligus indah, padahal ia bukan Fae Melody. "Ya. Kami belajar banyak mengenai rahasia Sang Ratu."


Selang beberapa menit, kami hanya saling berbagi keheningan.


"Alena."


"Ya?" Aku menoleh kepadanya. Kepada gadis manusia dengan rambut coklat ikal itu.


"Kurasa sampai disini pertemuan kita," katanya lagi sambil tersenyum. Aku praktis tersedak air liurku sendiri dan buru-buru bangkit. "Mau kemana kau?!"


"Kamu adalah seorang Fae God, Alena," jelasnya kepadaku. "Bahkan, bisa jadi Ratu Fae."


"Lalu apa hubungannya?" Sejujurnya, aku masih belum ingin berpisah darinya.


Ia tersenyum sedih. "Banyak yang masih membutuhkanmu. Banyak yang menyayangimu, termasuk pangeran muda itu."


Callum. Aku hampir lupa mengenai dirinya. Bagaimana kabar dia sekarang? Apa ia masih berduka karena mengira aku tak akan bangun lagi? Padahal kenyataannya aku bahagia-bahagia saja di dunia mimpi bersama Clara.


"Kau masih bisa menemuiku di dunia manusia, tapi tentu hari itu tidak akan terjadi, kan?" Clara membungkuk kepadaku.


"K-Kau tidak usah melakukan itu."


"Tentu harus." Ia berkedip kepadaku. "Ratu Alena."


Pipiku merona mendengar perkataannya itu. Ucapannya sebetulnya tak salah. Kami tak tahu seberapa berat tugas dan kewajiban seorang Ratu, kalau seandainya aku berhasil dinobatkan. Kalau bukan karena hal itu, dan aku tetap menjadi seorang Fae God, aku pasti tidak bisa meluangkan waktu untuk sekedar mengunjungi Clara di dunia manusia.


"Kalau kau ingin mendatangi rumah keluargaku, datanglah kesini." Clara menyodorkan sebuah kertas, kemudian berjalan mundur. Sesosok bayangan tampak sedang melambaikan tangannya dari kejauhan, dan aku tahu itu adalah Chrys, suaminya.


"Kau disambut oleh kami bertiga kapan saja," jelasnya kepadaku sebelum menghilang bersama Chrys.


Bertiga? Aku hendak menanyakan kepadanya, namun tubuhku sudah ditarik ke dunia nyata. Di sela-sela pergantian ruang dimensi itulah, aku membuka kertas yang diberikan oleh Clara tadi.


Aku terkesiap. Ini adalah alamat rumah Miss Gray. Mungkinkah, Clara adalah Ibunya?


Miss Gray, pikirku baru tersadar. Miss Gray. Ibumu seorang manusia, sedangkan Ayahmu seorang Fae. Pantas saja kau begitu menyayangi diriku dan Lexy.


Aku tersenyum dan menyimpan dengan baik kertas itu di dalam sakuku.


Setelah menghela napas, aku terbang melayang ke arah sumber cahaya, dan terbangun ke dunia nyata.