
Lexy masih berada di dalam sel, ditemani oleh Val. Pria itu masih saja tidak bergerak dari tempatnya. Entah mau sampai kapan ia menunggunya merubah wujud.
"Apa yang membuatmu merubah wujud menjadi Egleans?" Tanyanya sekarang.
"Aku tidak tahu pasti," balasnya. "Mungkin amarah penyebabnya."
"Yakin?"
Lexy menggeleng-geleng. Ia sudah berhasil mengubah wujud sebanyak tiga kali. Yang pertama saat Sang Ratu memancing amarahnya. Pada saat itu, ia yakin sekali wanita itu sengaja mengontrol tubuhnya menggunakan sihirnya. Yang kedua saat ia diseret ke dalam sel untuk yang pertama kalinya, padahal itu keinginannya sendiri untuk dikurung.
Dan yang ketiga saat ia tak sengaja membelokkan sihir Alena dan mengacaukannya. Ia tak yakin apa penyebabnya, tapi saat ia berubah wujud, ia kelepasan kendali atas tubuhnya sendiri.
Rasanya mengerikan membayangkan peristiwa itu. Rasanya seperti tubuhnya dirasuki oleh bayang-bayang kegelapan. Dan seperti tumor yang terus menggerogoti tubuhnya dan melemahkan nyawanya, hanya tinggal hitungan waktu saja sebelum ia kembali meledak dan bereaksi.
Rasanya seperti jiwanya tertukar dan terlepas dari tubuhnya sendiri. Ia takut lama kelamaan tubuh ini bukan miliknya lagi.
"Kurasa kau harus membunuhku secepatnya," gumamnya. Val terbelalak dan tertegun mendengarnya.
"Mau sampai kapan kita menunggu sampai aku berubah wujud?" Kata Lexy sambil menggeleng-geleng pasrah. Ia kembali memeluk tubuh kecil Cashew. "Dan kenapa tidak sejak awal mereka membunuhku?"
"Itu karena kakakmu menyelamatkanmu dari hukuman mati."
"Dia sudah berbuat kesalahan besar, yang tidak bisa diampuni." Lexy menatap tanah kotor yang sedang didudukinya. "Padahal sudah ada bukti aku pernah membunuh seorang Fae sebelumnya."
Anehnya Val terdiam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Suara bunyi tangga dan sepatu bot seseorang terdengar, kemudian disusul oleh suara gemericing kunci metal. Lexy menyipitkan mata dan melihat Ledion.
Sudah lama sekali ia tidak melihat Fae Ripper itu, bahkan saat ia kembali ke istana ini bersama teman-teman Alena sebulan yang lalu. Pria itu masih tidak berubah. Rambut putih keperakan yang menambah kesan sangar pada dirinya. Bahkan sekarang mulai tumbuh kumis di sekitar mulutnya.
"Sudah lama tidak melihatmu," sapanya dengan nada datar. Dan sifatnya yang dingin, tambah Lexy dalam hati.
"Iya," balasnya singkat. Ledion tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya berdiri di depan sel dengan canggung. Val sampai mengerutkan alisnya.
"Ada apa kemari?" Tanya Fae Light itu. Ledion meliriknya dengan bosan. "Hanya untuk mengawasi kalian."
"Bocah sialan itu," Val menggeleng-geleng, dan senyum mulai mengembang di wajahnya. "Sudah kubilang aku bisa urus ini sendiri-"
"Kau menyebut pangeranmu seperti itu?" Potong Ledion dengan suaranya yang menyeramkan. Lexy merinding mendengarnya, meskipun ia tahu Ledion sebenarnya tidak sedang marah. "Tanpa rasa hormat."
"Ya, kadang-kadang," balas Val dengan tampang tak bersalah. "Anak laki-laki itu memang selalu kurang ajar. Kadang aku lelah bekerja sebagai pengawal pribadinya."
"Lelah?!" Tanpa disadari, Lexy sudah menghardik. "Selama ini kau terlihat serius, bahkan menuruti perintahnya. Jadi selama ini itu hanya akting-"
"Ya ampun," Val menggeleng-geleng. "Kau ini bodoh atau apa? Itu hanya bercandaan. Bukan berarti aku benci pekerjaanku yang sekarang."
Lexy merasa sangat malu, wajahnya memerah. Baru kali ini ia mendengar suatu bercandaan yang keluar dari mulut pria itu. Biasa ia memandangnya sebagai pria kasar, yang selalu bersikap seenaknya, kecuali saat ia bertugas sebagai pengawal pribadi Callum. Ia selalu mengerjakan tugasnya dengan baik dan tanpa mengeluh.
"Jangan terkejut, Lexy," Ledion ternyata memperhatikannya. "Mungkin aku memang tidak terlalu mengenal pria itu. Aku juga terkejut ia bisa tersenyum."
Val langsung menatapnya tajam. Ia sudah memegang pedangnya, siap untuk menyerang kapan saja. "Aku masih disini. Jangan seenaknya berbicara seperti itu."
"Su-sudah sudah!" Lexy mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak mau ada pertengkaran disini. Ledion, sebaiknya kau pergi. Kami akan baik-baik saja disini."
"Kalau begitu, awasi pria itu. Kalau ia sampai melukaimu, teriak sekencang mungkin. Aku akan berjaga di pintu depan." Ledion melirik sebentar Val, kemudian sudah pergi meninggalkan mereka.
"Huh," desah Val. "Terima kasih sudah mengusirnya pergi."
"Apa aku berhalusinasi?"
"Apa maksudmu?"
"Memangnya aku ini batu, yang hanya bisa bersikap dingin seperti Ripper yang tadi?"
"Umm... tidak juga sih." Lexy benar-benar kehabisan kata untuk mendeskripsi perasaannya sesudah melihat Val yang seperti itu. "Aneh tidak melihatmu bersikap kasar."
Val membenarkan rambut pirangnya, kemudian kembali bersandar ke dinding seperti biasa. "Emangnya aku terlalu kasar ya?"
"Banget. Aku pernah berpikir kau benci dengan anak-anak."
"Apakah karena aku juga bersikap kasar terhadap Ella waktu itu?"
"Yang waktu itu sudah kelewat batas. Aku takut kau akan melukainya dengan sihirmu."
Val mengusap-ngusap wajahnya. "Lexy."
Lexy mematung mendengarnya memanggil namanya.
"Mungkin ini terdengar aneh," lanjutnya lagi, kali ini dengan suara kecil. "Tapi aku sebenarnya tidak sekasar itu."
Lexy tidak membalas. Ia sibuk berpikir dalam otaknya, kenapa pria ini tiba-tiba menunjukkan sisi lembutnya kepadanya.
"Maksudmu... dulu atau sekarang saat kau mulai berubah?"
Val membuka mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu, namun ia urungkan niatnya.
Setelah itu, mereka masing-masing larut dalam pikiran mereka. Lexy tidak tahu tepatnya sudah pukul berapa, namun suara rintik hujan di luar membuatnya mengantuk.
"Hujan?" Val meraba-raba tanah, dan ia seketika panik. "Sial."
"Kenapa memangnya?" Lexy juga ikut meraba tanah, dan ia juga ikutan panik. Tanah mulai menyerap air hujan, dan kalau hujan semakin deras dan tidak berhenti, bisa-bisa saat ia terbangun dari tidurnya, tubuhnya sudah kebasahan berkat tanah yang becek.
Val mulai menyempilkan kain pakaiannya ke celah lubang dinding pembatas dengan wilayah luar. "Kita bisa kebanjiran kalau seperti ini."
"Tidak bisakah kau menggunakan sihirmu?"
"Iya, tapi ini di dalam ruangan, dan tidak ada jendela. Sihir Lightku perlu setidaknya seberkas cahaya matahari."
"Tapi waktu itu kakakku bisa mengeluarkan cahaya Light tanpa matahari. Di tengah malam pula."
"Ya, memang bisa, tapi akan sangat lemah dan tidak efektif. Dan jangan bandingkan aku dengan seorang Fae God."
Akhirnya Lexy mendesah dan ikut melepaskan kain luaran yang melindungi tubuhnya. Val langsung melarangnya.
"Kenapa tidak?"
"Nanti kau kedinginan."
"Lihat saja dirimu sendiri. Tak pakai apa-apa untuk menutupi dadamu itu."
"Aku sudah terbiasa menghadapi semua ini."
"Dan aku juga sudah terbiasa terkurung di suatu tempat," balas Lexy tak mau kalah. Sontak itu membuat Val kehabisan kata-kata untuk sesaat.
"Huft. Maksudku, aku sudah terbiasa terkurung selama 17 tahun. Memangnya kau bisa mengalahkan rekorku?"
"Yasudah. Lakukan apa maumu." Akhirnya Val tidak lagi melarangnya dan lanjut menghalangi celah di dinding agar air hujan tidak merembes masuk.
Hari itu Lexy tidak bisa tidur karena kedinginan.