
Ibunya menghapus air matanya sendiri. "Kenapa? Jadikan saja dia selirmu. Kenapa sampai harus menyuruhku membunuh sahabatku sendiri?"
"Dia perempuan murahan! Aku benci padanya, dan tidak akan pernah menjadikannya selirku!" Sang Raja melayangkan tinju ke dinding, membuatnya retak. Kemudian disusul oleh suara teriakan gadis kecil yang bernama Lucia itu.
"Sshhh, tidak apa-apa." Ibunya berusaha menenangkannya. "Kau boleh kembali ke kamarmu."
Gadis kecil itu melangkah secara perlahan ke arah pintu. Jantung Callum tiba-tiba berdegup kencang. Gadis itu ternyata sangat cantik.
Lucia berhenti terisak dan hanya terus memandangi Callum. Keduanya saling bertukar pandang, tidak yakin apa yang harus mereka lakukan.
Callum menelan ludah, dan tanpa sadar sudah membungkuk. "Anu... ummm..."
Praaangg!! Terdengar suara piring yang pecah dari dalam ruangan. Callum langsung meraih lengan gadis itu, dan berlari menuju kamarnya.
Brak! Ia tak menghiraukan pertanyaan Ledion dan hanya mengunci pintu kamar.
"Apa kau baik-baik saja?" Ia berbalik badan dan menatap Lucia. Meski matanya masih bengkak, ia sudah bisa tersenyum.
"Terima kasih," katanya. "Aku senang tunanganku adalah lelaki sepertimu."
Tunangan?! Callum langsung syok. Jadi aku sudah dijodohkan dengannya?! Kenapa tak ada satupun yang memberitahuku?!
Sebetulnya ia hendak bertanya lebih lanjut, namun suara teriakan Ayah dan Ibunya tentu membuat gaduh seisi istana.
Saat ia membuka pintu, Ledion sudah menghilang. Pria itu rupanya sedang sibuk melerai Ayah Ibunya.
"Yang Mulia! Tolong! Jangan lakukan ini semua!" Beberapa pengawal sudah berkumpul. Sementara itu, Callum dan Lucia hanya mengintip di balik celah pintu.
"Putri Lucia," bisik Callum. "Temanku, mari kita bermain detektif."
"Apa?"
Uh, sudah kuduga, pikir Callum kecewa. Mana mungkin Putri seperti dirinya mengerti permainan itu.
"Jadi seperti ini." Callum mulai membisikkan semua rencananya di telinga Lucia.
Lucia terbelalak. "Kau yakin?"
Callum tersenyum. "Yakin."
Gadis itu tiba-tiba merona, dan ia menunduk. Sementara tangannya menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga. "Oke. Karena kita teman, aku akan melakukan itu."
***
Keesokan harinya, lebih tepatnya sesudah makan malam, kedua anak kecil ini menyelinap kembali ke ruang keluarga.
Di sana hanya ada Sang Raja yang sibuk membaca buku. Pria itu terkejut saat melihat mereka. Callum sebetulnya tidak yakin apa ia harus melakukan ini. Ia masih mengingat dengan jelas perilaku Ayahnya yang sudah seperti orang asing.
"Callum. Lucia," sapa Ayahnya sambil tersenyum. "Syukurlah kalian sudah saling mengenal."
"Ya, Ayah."
Pria itu dibuat terkejut saat kedua anak itu memanjat ke pangkuannya.
"Ada apa?" Pria itu kembali tersenyum, namun Callum tahu senyuman itu memiliki makna sendiri.
"Ayah. Bisakah Ayah membacakan dongeng untuk kami? Kami bosan..."
"Benar..." Sahut Lucia. "Ayo, Yang Mulia."
Pria itu mendesah. Terlihat sekali ia sangat terpaksa. "Baiklah. Tapi hanya sebentar."
Setelah Ayahnya itu selesai membacakan kisah dongeng, Lucia menguap. Gadis itu kemudian memejamkan kelopak matanya yang sudah berat. "Heumm..."
Sial. Lucia! Jangan sampai tertidur!
Callum tetap memasang wajah ceria agar tidak mencurigai Ayahnya.
"Kenapa, Callum?" Tanya Ayahnya sambil membelai rambutnya. "Kau tidak mengantuk?"
"Sebenarnya aku mau bertanya satu hal padamu, Ayah."
"Katakan saja apa itu."
Haruskah aku bertanya padanya? Ya, mungkin saja ini kesempatan bagiku. Ayah biasanya super sibuk! Siapa yang tahu kapan lagi aku bisa berduaan dengannya!
"Apa Ayah menyayangiku?" Gumam Callum agak ragu.
Pria itu tidak lagi membelai rambut anaknya. "Tentu saja. Kenapa kau bertanya?"
Bohong, pikir Callum. Baru satu pertanyaan simpel saja, kau sudah berbohong, Ayah.
"Ada lagi yang perlu kau tanyakan?" Pria itu meremas sedikit bahu putranya. Di saat itu Callum langsung merinding. Ayahnya sedang diam-diam memberinya kode untuk menutup mulut.
"Apa aku anak kandung Ayah dan Ibu?"
Sebenarnya bukan ini rencananya. Rencana awalnya adalah agar Lucia membujuk Ayahnya untuk menggagalkan rencana pertunangannya. Meski Lucia ini cinta pertama Callum, ia tetap tak ingin memiliki tunangan. Ia masih ingin menikmati masa mudanya.
"Callum." Ayahnya kembali meremas bahunya. Callum menggigit bibir bawahnya, tidak ingin menunjukkan bahwa ia sedang kesakitan.
"Y-Ya, Ayah?"
"Kau anakku yang paling jujur. Kau tahu itu, kan?"
Ada apa ini? Apa Ayah tahu waktu itu aku mendengar percakapan mereka?
"Iya, Ayah."
"Dan kau juga memercayai Ayahmu kan?"
"Tentu saja," jawabnya tanpa ragu.
"Kalau begitu turuti Ayah dan jangan sekalipun bertanya kenapa aku memilih Lucia sebagai tunanganmu."
Callum langsung mengatup mulutnya.
"Bagus," kata Ayahnya. "Ingat ini, Callum. Anak kandungku dan Ibumu hanyalah tiga. Kau, Abi, dan Dexter. Kau adalah pangeran termuda. Jangan lupa itu."
"Baik, Ayah."
"Kembalilah ke kamarmu."
Saat Callum sudah setengah jalan, ia kembali menoleh ke belakang. Namun Ayahnya itu malah membiarkan Lucia tidur di pangkuannya.
Hatinya seperti ditusuk oleh pisau yang amat tajam. Kini ia tahu rahasia Ayah Ibunya. Mereka sudah pasti tak akan pernah membagikan rahasia itu kepadanya. Rahasia bahwa Ibu kandungnya sendiri tak lain adalah seorang wanita murahan yang bahkan tak dianggap sebagai selir, dan rahasia bahwa yang membunuhnya tak lain adalah Sang Ratu.
Sang Raja tersenyum kepada gadis yang berada di pangkuannya. "Tidurlah yang nyenyak, Lucia, calon putriku."
Malam itu, Callum memutuskan untuk pergi selamanya dari istana luas ini. Istana yang ternyata bukan rumah aslinya, melainkan sebuah bangunan tua yang dihuni oleh para pembohong dan pembunuh.
Aku, Callum, ternyata bukan seorang Pangeran, pikirnya sambil meneteskan air mata. Ia bahkan tidak lagi menoleh ke belakang ataupun mengucapkan selamat tinggal ke kakak-kakaknya.
"Abi...Dexter..."
Walau hidupnya sudah diselamatkan oleh Sang Ratu karena ia adalah anak sahabatnya, Callum tetap tak ingin menjalankan kehidupannya yang mewah.
Ini juga bisa membuatku terhindar dari pertunanganku, pikirnya. Ironis rasanya saat seorang anak yang bahkan lebih rendah dari status anak selir, akan segera menikahi seorang gadis yang sangat dicintai oleh Ayahnya.
***
^^^Untuk Ledion, Pengawal Pribadi Sang Pangeran Termuda^^^
^^^Ledion, kau pasti akan bertanya-tanya kenapa kau tak lagi menemukanku di kamarku. Aku telah pergi dari istana ini, dan mungkin akan kembali lagi saat keadaan sudah tepat. Atau bisa jadi tak lagi kembali untuk selama-lamanya.^^^
^^^Ledion, sekarang ini aku tak yakin harus memercayai siapa. Jadi maaf, aku tak akan memberitahu alasan kepergianku.^^^
^^^Tapi aku cukup memercayaimu untuk menyembunyikan fakta bahwa aku sebenarnya pergi atas kemauanku sendiri. Katakan kepada semua orang, termasuk Ayah dan Ibuku. Bahwa aku ingin belajar hidup mandiri di istana pribadiku di Amarilis. Katakan kepada mereka, jangan pernah cari aku.^^^
^^^Dan juga katakan kepada saudara-saudariku. Abi dan Dexter. Bahwa aku menyayangi mereka. Aku pasti akan kembali untuk mereka. Karena mereka bukan alasan kepergianku.^^^
^^^Salam dari Pangeranmu,^^^
^^^Callum L.^^^
***
Beberapa tahun kemudian...
^^^Untuk Ledion, yang sekarang sudah menjabat menjadi Kapten Ripper^^^
^^^Ledion, yang dulu pernah menjadi pengawalku. Apa kau masih mengingatku?^^^
^^^Maafkan aku, Ledion. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu bahwa kepergianku akan berakibat buruk padamu. Pagi ini hatiku seperti tersayat, dan kenangan tentangmu langsung mengisi hatiku.^^^
^^^Maafkan aku karena baru mengetahuinya sekarang. Karena aku, kau dipecat dari istana Bougenville. Keahlianmu dalam bela diri menyelamatkanmu sehingga kau dijabat menjadi Ketua Ripper.^^^
^^^Ledion, kalau kau membaca ini, ketahuilah. Bahwa aku sekarang di Amarilis sudah hidup bahagia. Aku bertemu dengan Val, yang setia menjadi pengawal pribadiku. Lalu ada teman-teman dari Faedemy. Mereka adalah Xiela dan Naomi. Mereka sangat terbuka dan sudah menjadi temanku.^^^
^^^Tapi ada satu hal yang akhir-akhir ini menggangguku, Ledion. Saat aku pergi berburu di bagian hutan terlarang, aku melihat dua gadis Fae yang sedang tersesat di hutan. Aku terkejut saat melihat sayap mereka. Aku ingin menyelamatkan mereka dan membawa mereka ke istanaku kalau bukan karena dua manusia yang sempat menyanderaku.^^^
^^^Aku terpaksa membuat mereka tak sadarkan diri karena mereka sangat tertarik pada sayapku. Kuduga mereka mengetahui tentang dunia Fae, dan bersedia melakukan apa saja agar bisa mendapatkan sayap Fae.^^^
^^^Ini berbahaya. Ledion, kudengar kau sekarang tinggal di Amalthea Halley. Berkat Naomi, aku bisa lebih mudah menyampaikan pesan ini padamu. Tolong jemput dua gadis tadi, tapi buat mereka terpisah. Kau bisa membawa satunya ke Faedemy, sedangkan yang satunya lagi perlu kulihat langsung.^^^
^^^Kalau kau bertanya-tanya dalam hati, kenapa aku tertarik dengan mereka, karena aku telah menemukan bukti saat menggeledah rumah mewah manusia itu. Aku bisa mencium bau mereka. Mereka sempat tinggal di rumah itu.^^^
^^^Kau pasti tahu, jika manusia sampai menyembunyikan anak Fae di rumah mereka, artinya ada suatu hal buruk yang akan terjadi. Aku tak ingin ada kasus seperti Egleans, makhluk hasil ciptaan manusia yang sudah membuat hidup kaum Fae tak tenang dan damai.^^^
^^^Tapi jangan sakiti mereka. Agar mereka memercayai kau, bilang saja Sang Pangeran ingin menemui mereka dan berteman. Mungkin mereka akan berubah pikiran saat melihat wajahku yang tampan ini, haha.^^^
^^^Salam Dari Pangeranmu yang Sudah Tumbuh Dewasa,^^^
^^^^^Callum L.^^^^^