Wings & Fate

Wings & Fate
Epilogue



"Jess! Jess!"


Seorang wanita tua sibuk meneriaki nama seorang gadis. Dirinya dibuat khawatir. Bagaimana tidak? Padahal ia baru meninggalkan anak itu sebentar, namun saat ia kembali, anak itu sudah tidak ada.


"Putri Jesselyn Emerald Lantski!" Wanita tua itu terbang mengitari taman luas yang terletak di belakang gedung istana. Sayap emasnya mempercepat gerakannya.


Sudah bermenit-menit Miss Dorothea mencari anak itu. Ia menyipitkan mata, namun yang ia lihat hanyalah rumput ilalang hijau yang tumbuh panjang sampai kelewat batas. Tak ada tanda-tanda keberadaan putri itu.


Miss Dorothea mendesah, kemudian menyeka keringatnya sendiri. Ini memang selalu terjadi setiap kali ia disuruh mengawasi sang putri. Anak itu memang pandai bersembunyi, dan sama nakalnya seperti Ayahnya dulu.


Akhirnya wanita itu menyerah dan kembali ke istana.


"Pfftt!" Seseorang dari kejauhan menertawakan wanita tua itu. "Haha! Cari Jess sampai ketemu ya!"


Tentu saja itu adalah Sang Putri. Gadis kecil yang baru berumur 5 tahun itu memiliki rambut hitam, sama seperti Ayahnya. Ia sedang bersembunyi di atas dahan pohon besar. Daun-daun yang rimbun menutup tubuhnya dari pandangan orang-orang.


"Mau sampai kapan kau berada disini?"


"Kyaa!!" Karena terkejut, Jess kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh dari atas pohon, kalau bukan karena orang itu yang sukses menahan tangannya.


Hup! Tubuhnya langsung dipeluk oleh orang itu. Jess terbelalak dan menatap orang itu. Itu adalah Nathan, sepupunya, yang merupakan anak satu-satunya dari adik Ibu Jess. Ia memiliki warna rambut pirang, sama seperti Ayahnya. Sepupunya itu tiga tahun lebih tua dibanding dirinya.


"Na-Natie..."


"Sedang apa kamu disini?" Tanyanya dengan dingin. Saat menyadari lengannya yang masih melingkar pada pinggang gadis itu, ia langsung melepaskannya.


Bruukkk!! Itu membuat tubuh Jess terjatuh dari ketinggian pohon.


"Ugh! Natie, kamu jahat!" Omel Jess. Ia langsung mengusap pinggangnya yang sakit. "Natie kan, bisa lepasin Jess dengan pelan!"


Nathan menyilangkan tangannya, dan hanya menatapnya tanpa rasa bersalah. "Siapa suruh bersembunyi di atas pohon."


Jess bangkit berdiri, dan pergi meninggalkan sepupunya. Sambil menghentakan kakinya, ia mencoba berpikir kenapa ia tak menyadari keberadaan Nathan sebelumnya.


"Huh! Kenapa Natie harus seorang Fae Light sih?!" Gerutu Jess. "Jess kan, jadi susah untuk balas dendam!"


"Jess!" Tiba-tiba seseorang memanggilnya. Rupanya itu adalah Ibunya, Sang Ratu Fae yang bernama Alena. Ia adalah seorang wanita cantik yang dikagumi oleh semua orang, termasuk dirinya. Hari ini ia tampil sangat cantik, dengan gaun berwarna biru jernih seperti lautan. Warna favoritnya. Kata Alena itu membuatnya teringat dengan Ayahnya, Callum.


"Mama!" Jess berlari menghampiri Alena dan memeluknya. "Mama! Mama!"


Alena tertawa karena gemas melihatnya, lalu segera menggendongnya. "Jess... kamu kemana saja? Miss Dorothea sudah mencarimu sejak tadi. Mama sempat khawatir kamu kenapa-kenapa..."


"Tadi Jess main sama Natie," jawab gadis itu sambil memasang wajah polos. Ia terpaksa berbohong agar Ibunya tak memarahinya karena sudah memanjat pohon.


Alena menaikkan sebelah alisnya, merasa curiga terhadap anaknya. "Benarkah?"


"Ya!" Jess langsung mengangguk, padahal dirinya sudah mulai berkeringat.


"Hmm? Kalau begitu, dimana Nathan?" Alena menyeringai saat melihat ekspresi Jess yang langsung berubah drastis.


"Ja-Jangan!" Jess langsung menggeleng-geleng kepalanya. Ia langsung memikirkan segala kemungkinan yang bisa dijadikan alasan. "Nate sudah pulang ke rumahnya! Nate sudah pergi!"


"Nathan!" Teriak Alena, tidak menghiraukan anaknya yang sudah memasang wajah panik setengah mati. "Nathan! Kamu dimana?"


Tidak... Ja-Jangan... Jess mulai menarik-narik lengan baju Ibunya, namun Alena masih memanggil nama Nathan.


Tak sampai sedetik, suara isakan mulai terdengar. Tubuh Jess langsung bergetar hebat.


"Huhu... Hiks!" Jess sudah menangis. "Jangan... Je-Jess ngaku salah... Jess sudah berbohong... Huee!!"


Alena terbelalak saat menatap wajah anaknya yang sudah berubah menjadi warna tomat. Ia langsung berhenti meneriaki nama Nathan dan menepuk-nepuk pundak anaknya dengan pelan.


"Sshhh, maafkan Mama, Jess... maafkan Mama..."


"Huee!! Haaahh!!" Tangisan Jess malah semakin menjadi-jadi. Itu membuat Alena menggigit bibir bawahnya. Sekarang ia dibuat kebingungan. Bagaimana cara meredakan tangisan anak tercintanya ini?


Tiba-tiba cahaya emas yang hangat menyelimuti tubuh mereka, dan sesosok pria langsung muncul di hadapannya.


"Jess... Anakku yang paling cantik... Ada apa?" Callum langsung membelai rambutnya yang halus. Ia lalu melirik istrinya untuk mendapat penjelasan, namun Alena hanya menggeleng pasrah.


"Huhu... Papa..." Jess langsung memutar badannya dan merentangkan tangan kecilnya. Itu membuat Callum tertawa kecil dan ia segera merebut tubuh kecil anaknya dari dekapan Alena.


"Ssshhh. Ada Papa disini. Ada Papa," Gumam Callum sambil menaruh dagunya di atas kepala anaknya. Ia lalu mengayunkan tubuh anaknya dengan lembut. Itu berhasil meredakan tangisan Jess. Gadis itu tak lagi menangis. Ia memeluk dada Ayahnya dengan erat, kemudian memejamkan matanya yang tiba-tiba terasa berat. Jess juga tampak menggumamkan sesuatu sebelum akhirnya jatuh tertidur dalam pelukan Ayahnya.


Alena menggeleng-geleng melihat tingkah laku anaknya, lalu mendesah. "Dia memang lebih suka dengan Papanya."


Callum menyeringai. "Tentu saja. Kamu sih, galak. Jess jadi takut sama kamu."


Itu membuat Alena melotot, dan ia langsung memukul lengan Callum.


***


"Kamu yakin?" Tanya Alena kepada anaknya, Jess. Sekarang mereka sedang berada di dalam kamar tidur kecil milik Jess. Sinar remang bulan menembus gorden jendela, memberikan penerangan yang cukup bagi mereka.


"Ya," balas Jess sambil mengangguk. Ia lalu menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya di atas ranjang. "Ceritakan kepada Jess kisah cinta Mama dan Papa," bisiknya lagi sambil menutup setengah matanya.


"Jess..." Alena menggeleng pelan. "Dari sekian banyak cerita, kenapa malah memilih itu? Kamu masih terlalu kecil-"


"Tapi Jess tidak mau yang lain! Membosankan!" Gerutunya sambil menutup wajahnya dengan bantal. "Ceritakan! Ceritakan!" Ia mulai merengek dan menggerakkan kakinya.


"Tapi..." Alena mendesah. "Baiklah." Akhirnya ia mengalah demi buah hatinya itu.


"Pertama kali Mama bertemu Papa di Faedemy." Alena mulai bercerita. Dirinya tiba-tiba tersenyum saat mengingat kenangan itu lagi. "Waktu itu Mama sedang gak fokus, dan hampir salah masuk kamar orang."


Itu membuat Jess tertawa. "Lalu, lalu?"


"Lalu di saat itu Papamu datang, dan berbisik." Alena sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Jess. "Itu kamarku."


"Itu kamarkuhh!!" Jess mulai memimik gaya bicara Ibunya. Gadis itu lalu tertawa cekikikan.


"Uuu!" Alena tak bisa menahannya lagi. Ia segera mencubit pipi anaknya. "Ya, setelah itu, Papamu terus mendatangiku. Lama kelamaan kami menjadi dekat, dan akhirnya bersatu."


Selesai Alena bercerita, ia langsung mematikan sumbu lentera dan menaikkan selimut sampai menutupi seluruh tubuh Jess. Ia tersenyum melihat anaknya yang sudah tertidur pulas, lalu membalikkan badan dan hendak berjalan keluar ruangan saat ia melihat Callum di pojok ruangan. Pria itu juga tersenyum manis.


"Sudah tidurkah?" Bisik Callum sambil melirik Jess. Alena mengangguk dan menarik lengan suaminya itu sambil menaruh jari telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan untuk tetap tenang.


Setelah pintu ruangan tertutup, Alena berbalik badan dan menghadapi suaminya itu. "Sejak kapan kamu berada di dalam kamar Jess?"


"Hmmm... sejak kapan ya?" Callum menyentuh dagunya sendiri, pura-pura berpikir. Ujung bibirnya lalu terangkat. "Sejak kamu menceritakan betapa hebatnya diriku saat muda, dan betapa tampannya diriku sampai sekarang."


"Ish!" Alena lagi-lagi mendengus tak percaya, sedangkan Callum kembali tertawa. "Aku tidak mengatakan hal yang seperti itu ya!"


"Cal! Lepaskan aku!" Teriak Alena. Namun ia segera menutup mulutnya agar Jess tidak terbangun. "Cal!" Bisiknya lagi.


"Tidak akan," balasnya sambil tertawa. Callum lalu membawa istrinya ke lantai dua, dan mendobrak pintu kamar mereka begitu saja.


"Hng..." Erang Alena. Sekarang Callum sedang mencium bibirnya penuh rasa setelah ia membaringkannya di atas ranjang.


"Semenjak ada Jess, kita jadi jarang mendapat waktu berdua," gumam Cal saat ia meletakkan kepalanya di atas dada istrinya. "Kadang, kamu malah menemaninya tidur. Padahal aku kangen memelukmu sampai tertidur."


Alena tak bisa menahan tawanya. "Kadang Jess suka bermimpi buruk. Aku harus menemaninya."


Callum mendesah, kemudian menjentikkan jarinya. Tiba-tiba pakaian mereka jadi berubah. Alena tak lagi mengenakan gaun mewahnya, melainkan baju piyama yang hangat dan nyaman.


"Ceritakan sebuah kisah juga kepadaku," kata Callum. Sekarang mereka saling berpelukan.


"Tentang apa?" Tanya Alena.


"Apa saja. Yang penting, kau harus menyebutkan namaku disana."


"Astaga. Tak bisakah kau berhenti menggodaku untuk sejenak?"


"Kenapa berhenti kalau bisa terus-terusan?" Callum tersenyum nakal, kemudian menjitak dahi istrinya. "Cepat ceritakan, Mama... Aku mengantuk..."


"Astaga." Alena mendecakkan lidahnya berulang kali. "Kau ini sudah seperti anak kecil saja."


Akhirnya Alena terpaksa menceritakannya sebuah kisah. Hanya kisah sederhana. Kisah tentang seorang gadis manusia yang menemukan cintanya di dunia lain.


"Gadis itu tak pernah berpikir akan bertemu pasangannya di dunia Fae," lanjut Alena. "Apalagi saat pasangan prianya itu memiliki latar belakang yang tidak baik. Pria itu ditakuti oleh masyarakat. Ia juga sempat ditahan karena sebuah kesalahan. Pria itu juga adalah seorang Fae Light, jadi orang-orang pada waktu itu tak mudah memercayainya."


Sekarang, hanya terdengar suara detak jarum jam dan napas mereka yang saling bercampur. Callum terus memeluk istrinya. Ia memejamkan mata dan terus menempelkan telinganya ke dada istrinya. Ini memang sudah menjadi kebiasaannya setelah mereka menikah. Entah kenapa suara detak jantung Alena membuatnya tenang dan damai.


Semenjak Alena kembali dibangkitkan, Callum selalu merasa takut. Takut kalau tiba-tiba istrinya direnggut lagi darinya. Ia sepertinya merasa trauma dan ingin terus memastikan bahwa jantung istrinya itu masih berdetak.


"Cal?" Sekarang Alena menatapnya dengan khawatir. "Ada apa?"


Callum tak sadar sudah menatap lama wajah istrinya. Ia tersenyum. "Bukan apa-apa."


Alena menyentuh pipinya dengan lembut, kemudian mencium bibirnya. Itu membuat dirinya terkejut karena tak biasanya istrinya itu bersikap demikian.


"Ayo tidur," bisik wanita tercintanya itu. Alena lalu mematikan lampu penerangan dan memejamkan mata.


"Semoga mimpi indah, Lenaku," bisik Callum sambil meresapi aroma tubuh Alena yang seperti bunga Asoka.


Ya. Sekarang ia sudah mendapatkan hati Alena seutuhnya. Ia tak perlu takut lagi gadis itu akan direnggut darinya, karena mereka telah menukar janji.


Cal...


Sial. Ia lupa bahwa Alena masih bisa mendengar pikirannya. Bagaimanapun, mereka tak pernah melepas cincin Gardian itu. Cincin itu selalu terpasang pada jari manis mereka.


Cal... aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu. Jadi jangan merasa takut lagi.


Ya, aku tahu, batin Callum. Tapi aku masih tak bisa mengusir perasaan itu. Aku takut kejadian itu akan terulang lagi. Saat melihat wajahmu yang kaku seperti mayat waktu itu, aku-


Cal, lihat aku.


Callum membuka matanya dan seketika terpana. Wajah istrinya yang cantik memang selalu membuatnya gagal fokus. Bulu matanya yang lentik seolah menyapu wajahnya.


Dan bibir mungilnya yang sedang tersenyum.


Ada aku. Jangan takut.


Itu membuat hati Callum menjadi lega. Memandangi wajah Alena memang selalu membuat dirinya rileks.


Ya... Callum merasa ia adalah lelaki paling beruntung, sudah mendapatkan istri seperti Alena.


Setelah menciumi dahi istrinya, ia memejamkan matanya.


Terima kasih. Terima kasih, Alena, sudah menjadi istriku.


...•••▪︎♡▪︎•••...


...



...


...~Terima kasih telah mengikuti kisah Alena dan teman-temannya sejak awal Wings & Dust sampai akhir Wings & Fate~...



...♡Lexy dan Val♡...



...♡Lexy dan Nathan♡...


...•••▪︎♡▪︎•••...


Pesan singkat Author:


Sekali lagi aku mau ucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca setia... Gak terasa udah nulis kisah ini dari akhir bulan Agustus sampai awal Desember.


Jangan unfav dulu ya 😆 Karena bakalan ada extra chapter... (Spoiler: Callum merasakan kehidupan di dunia manusia untuk yang pertama kalinya!)


Oh ya! Aku udah rilis karya terbaru aku judulnya Sapphire Blood. Karya ini tidak termasuk wingsseries ya...Boleh mampir, barangkali tertarik, hehe.



Sinopsis:


Sapphire Blood. Nama kelompok penjahat yang paling ditakuti di Kerajaan Amberstone. Aku adalah salah satu anggotanya, yang sangat pandai dalam hal menyamar. Aku bisa berpura-pura menjadi siapa saja, dan sangat mudah beradaptasi. Sampai suatu hari saat aku diberi misi ke istana untuk menyamar menjadi tunangan seorang pangeran yang sama sekali tidak mencintaiku.


"Jangan harap kau mendapat cintaku hanya karena aku bersikap baik padamu tadi."


Huh! Tak pernah kusangka pangeran ini lebih mahir berpura-pura dibanding diriku! Dibanding mata-mata yang sesungguhnya!


...•••▪︎♡▪︎•••...