Wings & Fate

Wings & Fate
Behind The Smile



Aku dibawa ke lantai paling atas. Karena kita tak bisa berpindah tempat menggunakan sihirku, terpaksa kita menaiki tangga. Tapi Callum nampaknya tak mempermasalahkan hal itu. Ia sedari tadi diam, yang membuatku semakin khawatir.


"Callum," aku memanggil namanya saat aku sudah dibawa ke sebuah ruangan yang luas. Ia berbalik badan dan melepas jubahku dengan cepat, kemudian sudah menarikku ke dalam dekapannya.


Ia mencium bibirku dengan keras dan penuh rasa, kemudian menggendongku ala bridal ke atas ranjang. Aku terkesiap dan langsung melingkarkan lengan pada lehernya. Masih melekatkan bibirnya padaku, tiba-tiba ia sudah menarik gaunku.


"Hhh," pipinya sekarang sudah merah padam. Ia menguburkan kepalaku di antara rambut pirangku, kemudian menghisap leherku.


Aku mengerang saat tangannya tiba-tiba menyentuh dadaku. "Izinkan aku..."


Belum sempat aku membalasnya, ia sudah memakan bagian tubuhku itu. Aku menggigit bibir bawahku, bisa merasakan dengan jelas betapa laparnya ia untuk menikmati tubuhku.


Aku refleks membenarkan rambut hitamnya yang menggelitik dadaku. Sekarang bajuku sudah benar-benar terlepas, kecuali untuk bagian bawahnya karena ada selimut tebal yang menutupinya.


Ia tetap menyerangku tanpa berbicara apa-apa lagi. Sepertinya mood-nya berubah 180 derajat setelah bertemu dengan kedua orangtuanya. Entah apa hubungannya dengan mereka, yang pasti itu tidak sebaik yang pernah kukira.


"Ah." Suara lirihan keluar dari mulutku saat ia membuka mulutku dengan lidahnya. Lidahku bergerak dan tak terkontrol. Kami terus bercumbu hingga lupa waktu.


"Cal..." Ia kemudian meremas dadaku, yang membuat jantungku berdetak tak karuan. Saat wajahnya kembali mendekati wajahku, aku menutup mata, siap-siap akan merasakan ciuman bertubi-tubi darinya, namun ia berhenti.


"Alena." Aku membuka mata, dan melihat pria itu yang menguburkan wajahnya di tangan. Ia kemudian mendesah panjang, dan saat menoleh kearahku, matanya langsung membesar saat menyadari apa yang sudah dilakukan olehnya.


"Maafkan aku." Ia buru-buru menarik selimut dan menyelimutiku, namun aku tidak memperdulikan kondisiku sendiri. Aku khawatir dengannya.


"Ada apa, Callum?"


"Tidak ada apa-apa," bisiknya. Kemudian ia menarik gorden jendela dan menghalangi sinar matahari untuk masuk.


"Kau beristirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu," katanya. Namun aku malah berlari ke arahnya, dan memeluknya dari belakang.


"Jangan tinggalkan aku," kataku memelas. "Aku masih belum mengenali tempat ini."


Hatiku tertusuk saat tidak menjumpai senyumnya yang seperti biasa. Matanya benar-benar memancarkan kesedihan. Ia tidak berkata apa-apa lagi, namun tetap menuntunku ke ranjang.


Kami tidur berpelukan, namun aku tahu pikirannya sedang melayang.


Haruskah aku menanyakannya? Atau membiarkannya larut dalam pikirannya sendiri?


"Baiklah." Callum langsung menoleh kepadaku yang tiba-tiba bangkit duduk. "Kalau kau gak mau cerita, aku tidak mau tidur."


"Apa maksudmu?" Tanyanya seraya kembali duduk. "Apa yang harus kuceritakan?"


"Kau pikir aku tak melihat ekspresi wajahmu tadi? Kau seperti habis kena timpuk batu."


Aku tak menyangka ia akan tertawa terbahak-bahak. Ia lalu menghapus air mata yang tiba-tiba keluar. "Hah... timpuk batu. Kau ini benar-benar...."


"Jangan dipendam semuanya sendiri," bisikku, kemudian sudah memeluknya. Aku tak dapat membaca ekspresi wajahnya, tapi tubuhnya sedikit bergetar.


Jangan bilang dia?


"Callum," aku masih tak berani melihat wajahnya. "Aku ini apa buatmu? Bukankah kau sudah memercayaiku?"


Ia terdiam, lalu menarik napas dalam-dalam. Aku baru sadar ia sedang menghirup aroma tubuhku. "Kau adalah segalanya bagiku."


Disaat itulah aku merasakan sesuatu yang keras pada kantung bajunya. Aku melepas sedikit pelukannya, dan merogoh saku itu. Ada dua belati cantik dengan batu rubi merah, yang gagangnya terbuat dari emas Chrysos.



"Ini..." Aku tak dapat berkata-kata. Aku tak bisa mengamati lebih jelas lagi karena Callum sudah mengambilnya kembali.


"Bukan apa-apa," katanya sambil memasukkannya kembali ke dalam kantungnya. "Sebaiknya kau beristirahat karena baru tiba dari perjalanan. Besok akan jadi waktu yang panjang bagimu."


Dan setelah itu, ia menghilang dengan sihirnya.


.


.


.


Ada apa dengan Callum?! 😱