
"Callum?" Terdengar suara perempuan dari belakangku. Aku menoleh dan tak dapat menutup mulutku. "Kau sudah pulang?"
Callum sendiri sudah berjalan ke arah gadis cantik itu. "Abi."
Abi? Jadi dia putri Abigail?
Aku mengamati putri itu. Ia tidak memiliki rambut hitam seperti Callum, melainkan coklat terang. Warna matanya biru kehijauan, dan sayap emasnya sama indahnya dengan Callum. Sekarang ia mengenakan gaun yang cocok sekali dengan pemandangan sekitar.
"Cal!" Ia berlari ke arah Callum, kemudian memeluknya. "Uuu, aku kangen sekali padamu!"
Huh. Entah kenapa aku mulai merasa cemburu. Sadar diri Alena. Dia kakaknya.
Callum tertawa girang dan balas memeluknya. "Kau masih sama jeleknya."
"Apa?! Kau!" Ia menendang lutut Callum dengan sengaja. "Dan kau masih sama menyebalkannya!"
Aku tersenyum saat mereka saling berbagi tawa. Mungkin hubungan kakak-adik mereka sama sepertiku. Aku tak bisa membayangkan jika terpisah dengan Lexy selama berpuluhan tahun. Untuk beberapa hari saja rasanya tak sanggup.
Lexy, apa kau masih baik-baik saja di penjara sana? Maafkan aku sudah meninggalkanmu.
"Alena!" Aku dikejutkan saat seseorang melingkarkan lengannya pada leherku.
"Woah!" Putri itu terpana saat memandangi wajahku. "Kau memang tak main-main saat memilih pasangan, Cal."
"Hehe." Callum mengacakkan rambutnya, lalu melempar senyum ke arahku. Aku lagi-lagi dibuat merona karenanya.
"Katakanlah, kau berasal dari keluarga mana?" Tanya Abigail kepadaku.
Aku melirik Callum untuk mendapat bantuan. Tapi ia malah memalingkan wajah. Haruskah aku mengatakan hal sejujurnya? Apa gadis ini berhak tahu bahwa aku ini Fae God? Keringat mulai keluar dari leherku.
Tiba-tiba saja gadis itu tertawa. Aku juga mendengar suara tawa yang tertahan dari Callum.
"Aduh, haha!" Putri itu sampai mengeluarkan air mata bahagia. "Kamu memang lucu sekali!"
"Abi," kata Callum sambil menggeleng-geleng. "Jangan kebiasaan menggoda orang lain."
"Kenapa emangnya?" Putri itu masih tertawa terbahak-bahak. "Aku jadi suka dengan dia! Callum, kurasa sainganmu bertambah."
"Enak aja!" Callum langsung menarikku dalam dekapannya. "Kalau begitu, aku harus melindunginya darimu." Saat aku melongo, ia tiba-tiba mencium dahiku.
"Hah," Abi mendesah panjang. "Cal, sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Maukah kau menghabiskan waktu bersamaku?"
"Humm," Callum pura-pura berpikir. "Mau-mau saja. Asal aku bisa terus bersama pasanganku."
Saat kami sedang bersama, aku tak banyak bicara. Mungkin karena tidak ingin merusak suasana hangat kakak-adik ini yang saling merindukan.
"Jadi, apa yang kau sukai darinya?"
Aku berhenti menyentuh bunga dan menoleh. Ternyata pertanyaan itu tidak tertuju kepadaku, melainkan Callum.
Huh, pikirku jengkel. Tak bisakah kalian membicarakanku di lain tempat?
Callum tertawa kecil. Aku tak dapat melihat ekspresi wajahnya, karena mereka sedang membelakangiku.
"...yang kusukai darinya."
Aku memfokuskan pendengaranku, namun suara mereka malah terdengar semakin kecil. Akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan mereka.
Mereka terlalu sibuk mengobrol sehingga tak memperhatikanku. Saat aku sudah keluar dari taman, aku malah tersesat karena masih belum terbiasa berada di istana.
"Permisi." Aku menghentikan langkah salah satu pelayan. "Ya, Miss?"
"Umm..." Aku harus kemana, ya? Kembali ke kamar-kah? Kalau aku berkeliling, aku bisa saja ketahuan. Aku harus mengurangi resiko bertemu dengan orang lain.
"Alena?" Aku menoleh dan melihat seorang wanita. Tubuhnya tinggi dan langsing, dia juga bersayap emas. Setengah wajahnya ditutupi oleh topi besar. Aku tak dapat mengenalinya karena ia juga berpakaian aneh. Namun aku bisa melihat beberapa helai rambutnya yang mirip dengan Abigail. Coklat agak terang.
"Apa kau... mengenalku?" Aku hendak berjalan ke arahnya, namun sudah terhalang oleh Abigail yang entah muncul darimana.
"Alena! Kau ini malah main kabur-kaburan!" Ia langsung menarikku kembali ke arah taman.
"Tapi-" Aku menoleh ke tempat wanita itu semula berada, namun ia sudah tidak ada disana.
Aneh, pikirku heran. Siapa dia?
"Umm, putri."
"Huh?" Abigail langsung tertawa mengejek. "Gausah formal begitu! Kau kan adikku! Panggil saja Abi!"
"Oh? Begitu ya?" Aku tertawa agak ragu. "A...bi?"
"Nah, begitu donk!" Katanya lagi dengan senyum ceria.
"Abi," aku memanggilnya lagi. "Sebenarnya, ada yang harus kutanyakan padamu."
"Apa kau benar kakaknya?"
Ia menghentikan langkah dan menghadapiku. "Maksudmu, Callum? Tentu saja! Tak usah diragukan!"
"Tapi kenapa rambutmu-"
"Oh! Aku hanya mengecatnya!" Balasnya dengan bangga. "Kau belum pernah mengunjungi toko-toko disini ya? Kudengar dari Callum bahwa ini yang pertama kalinya kamu memasuki wilayah Bougenville."
"Ya, begitulah," ucapku malu-malu.
"Bagus!" Ia menepuk tangannya, dan sudah memegangi lenganku dengan erat. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayuk kita jalan-jalan bareng!"
"Hah?" Aku ingin menolak, namun ia tetap bersikeras.
"Ayo! Kita gunakan sihir kita!" Ia sudah tersenyum lebar, menatapku penuh harapan.
"Sihir...kita?" Jantungku hampir copot karena ternyata ia masih belum mengenaliku sebagai Fae God. Ia kira aku ini gadis Royal seperti dirinya.
Aku menghela napas, kemudian memejamkan mata. Sedetik kemudian, kami sudah berada di luar istana.
"Umm, maaf pu- maksudku, Abigail. Aku belum mengenal tempat ini, jadi-"
"Tak masalah!" Ia menarik tanganku, menuju ke tengah keramaian para Fae. "Aku tahu jalannya!"
Ia membawaku ke banyak tempat. Lagi-lagi aku tak dapat menahan rasa takjubku terhadap gedung-gedung tinggi di depanku. Rasanya seperti ini dunia lain, dunia yang jauh berbeda dengan tempat-tempat yang pernah kukunjungi sebelumnya. Tempat ini benar-benar luar biasa.
Ia membawaku ke sebuah gedung luas yang sepertinya menjual baju-baju khusus wanita. Gaun-gaun cantik dan elegan terpajang di depan toko.
"Alena," katanya dengan cekikikan. "Jangan hanya melihat! Ayo coba juga!"
Dengan senang hati, aku mengikuti perkataannya.
Hemm, gadis ini mengingatkanku dengan Naomi, pikirku sambil tersenyum. Ceria, mudah sekali tertawa.
Kami sedang berada di depan kasir. Abi mengeluarkan 30 keping Chrysos. Aku langsung terbelalak.
"Sebanyak itu?! Kau yakin-"
"Alena, apa kau lupa aku ini putri kerajaan?" Potongnya sambil tertawa geli. "Ini cuma harga salah satu baju. Totalnya mungkin bisa 600 keping."
"Enam ratus! Memangnya kau sudah membeli berapa banyak baju ?!"
"Heumm, berapa ya? Aku lupa," balasnya dengan santai. "Jangan lihat aku seperti itu donk! Lagipula lemari pakaianku terlalu besar, jadi tak enak melihat raknya yang kosong melompong."
Aku menggeleng-geleng pasrah. Putri ini sangat boros rupanya.
Saat matahari akhirnya sudah terbenam, aku baru merasakan letih pada tubuhku. Baru pertama kali aku berbelanja banyak hal dengan seseorang. Ternyata asyik juga.
"Abi," kataku saat kami melanjutkan perjalanan dengan kaki. Abi bersikeras untuk tidak menggunakan sihir. Katanya ia mau menikmati hari ini dengan berjalan kaki saja.
"Ya?"
"Sebenarnya, aku masih penasaran tentang Raja dan Ratu Fae."
"Kenapa? Apakah karena mereka tidak pernah menampakkan wajah mereka?"
"Bukan tentang wajah mereka," kataku sambil menggeleng. "Tapi hubungan mereka dengan anak-anak mereka."
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Tentu saja hubungannya baik. Mereka sudah memberi tempat tinggal yang layak untuk anak-anak mereka kan?"
Maksudku selain harta, pikirku.
"Oh, Alena. Kau kapan mau melihat istanaku di Lavender? Jaraknya hanya sehari lebih. Tapi kalau menggunakan sihir, tentu akan jauh lebih cepat!"
"Tidak, terima kasih. Mungkin lain waktu saja." Benar, jangan saat ini. Aku sebisa mungkin tidak boleh berkeliaran. Anggap saja yang hari ini hanyalah bonus.
"Yang Mulia Putri!" Kami dikejutkan oleh Rupert saat sudah berada di depan istana. Lelaki muda itu sama sekali tidak menghiraukanku. "Ada masalah!"
"Apa itu?"
"Baru saja kita mendapat surat kabar dari Fae Hall. Katanya mereka sedang mencari Sang Fae God yang sudah kabur dari upacara penobatan!"
"Apa?!" Abigail menutup mulutnya. "Untuk apa Fae mulia itu kabur?! Apa ini sudah tersampaikan ke Ayah dan Ibuku?"
"Sudah, tuan putri," balas Rupert. Lelaki itu lalu melirikku. Aku pura-pura terkejut mendengar berita itu. Dia tidak mungkin tahu kan? Aku kan, sudah menutup sayapku dengan jubah.
"Dan sekarang, tidak boleh ada orang sembarangan yang boleh masuk ke istana."
"Rupert? Apa maksudmu?" Tanpa kusadari aku telah membantah. "Apa kau menganggapku orang sembarangan?"
"Apa kau punya buktinya, Miss, kalau kau ini Fae Royal?" Ia mengeluarkan pedangnya yang semula tergantung di pinggang. "Kalau begitu, perlihatkan sayapmu sekarang juga."