Wings & Fate

Wings & Fate
The New Me



Saat Lexy membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah dua sosok gadis Fae. Yang satu bersayap ungu, sedangkan yang satu bersayap merah.


"Lexy!" Naomi segera memeluknya. "Syukurlah kamu terbangun!"


"Apa yang telah terjadi?" Tanya Lexy dengan suara serak. Saat ia mencoba bangkit dari ranjang, tiba-tiba perutnya terasa sangat nyeri dan ia jatuh berbaring lagi.


"Pelan-pelan, luka di perutmu belum sembuh," kata Xiela sambil menatapnya penuh khawatir. Tak biasanya gadis itu akan menunjukkan ekspresinya secara terang-terangan.


Naomi duduk disamping ranjangnya, kemudian menyeka keringat yang terdapat pada wajah Lexy. "Kami sangat khawatir, Lexy, apalagi saat kamu menusuk perutmu sendiri dengan pedang Val."


"Benar," timpal Xiela. "Untungnya kamu masih bisa terselamatkan berkat sihir Sana."


Perlahan-lahan Lexy mulai mengingat kembali segalanya. Bagaimana ia telah membunuh Ledion karena kehilangan kendali atas kekuatannya. Kemudian saat sepenjuru hutan menjadi hening ketika ia melukai dirinya sendiri. Setelah itu, ia tak ingat apa-apa lagi.


"Bagaimana dengan pasukan Egleans itu?" Tanya Lexy.


Naomi tersenyum. "Kakakmu berhasil mengalahkan mereka. Ia berhasil merusak sumber kekuatan gelapnya, bersama Callum."


"Alena..." Gumam Lexy. Ia terkesiap dan mulai panik. "Alena! Dimana kakakku?!"


Ia hendak bangkit lagi, tapi Naomi buru-buru menahan pundaknya.


"Naomi, aku perlu melihat kakakku. Dimana dia?"


Naomi malah memalingkan mukanya, tak berani menatapnya. Saat Lexy berganti pandangan ke Xiela, gadis itu juga melakukan hal yang sama.


"Kalian... jangan sembunyikan apapun lagi dariku." Lexy meremas seprai ranjangnya.


"Lexy..." Naomi menggigit bibir bawahnya. "Kurasa kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri."


"Kenapa memangnya?" Akhirnya Lexy menyibak selimut yang semula membungkus tubuhnya, lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai yang dingin. Sambil memegangi perutnya yang ternyata diikat oleh kain putih, Lexy berjalan ke arah cermin kaca lebar yang terletak di ujung ruangan.


Ia terkesiap karena terkejut dan tahu-tahu pinggulnya sudah mengenai lantai. Bagaimana tidak? Ia menjumpai orang lain di pantulan kacanya. Tidak ada lagi gadis Fae berambut pirang yang memiliki wajah identik dengan Alena. Yang ada sekarang adalah seseorang yang baru. Gadis dengan rambut seputih salju.


Suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan, dan pintu terbuka. Lexy bisa melihat siapa orang itu dari pantulan kacanya. Itu adalah Sana.


"Lexy!" Sana buru-buru meletakkan nampan makanan yang digenggamnya, dan menghampirinya di lantai. "Kau seharusnya belum boleh bangkit dari ranjang! Lukamu belum-"


"Apa yang terjadi padaku?" Potong Lexy, masih sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menyentuh ujung rambutnya sendiri, dan benar saja. Warna rambutnya telah berubah total, menjadi warna putih yang membuatnya teringat dengan bulu-bulu putihnya setiap kali ia menjelma menjadi Egleans.


Sana menghela napas dan menatapnya lewat pantulan cermin. "Saat aku menyembuhkanmu, itu terjadi begitu saja."


Lexy terdiam, berusaha mencerna kata-katanya. Apa arti dari perubahan pada dirinya ini?


"Kau terluka sangat parah, Lexy. Dan lihat saja, kau baru terbangun setelah empat minggu." Sana membantunya berdiri, kemudian memapahnya kembali ke ranjang.


"Ini. Minumlah." Sana menyodorkannya sebuah gelas berisi cairan kental. Awalnya Lexy merasa jijik saat melihatnya. Tapi setelah ia mencoba meminumnya seteguk, ia langsung menghabiskannya meskipun minuman itu masih terasa panas. Uap air sampai memenuhi lubang penciumannya.


"Pelan-pelan!" Kata Naomi sambil menatapnya tak percaya.


"Lanjutkan saja." Xiela malah membela Lexy, yang membuat Naomi menatapnya tajam seperti mata elang.


"Kenapa? Ia kan, sudah tak memakan apa-apa selama empat minggu," lanjut Xiela tanpa rasa bersalah.


"Benar," Sana juga ikut membelanya. "Lexy, beristirahatlah. Aku akan mengecek kondisimu lagi setelah upacara kematian Ale-"


Sana langsung menutup mulutnya, sementara Xiela dan Naomi memberinya tatapan maut karena sudah kebablasan.


Praaangg!! Lexy menjatuhkan gelasnya, membuat sisa minumannya tumpah, mengotori seprai matrasnya serta lantai.


"K-Kau. Apa katamu barusan?" Ia tidak yakin kalau telinganya berfungsi dengan baik. Alena? Upacara kematian?!


Akhirnya Sana duduk di samping ranjangnya dan menceritakan semuanya kepada Lexy. Ternyata Sang Ratu tanpa sengaja menciptakan diri Alena yang lain. Sisi gelapnya. Pantas saja Lexy sempat melihat dua Alena, dua kepribadian yang bertolak belakang.


"Alena berhasil membunuh dirinya yang lain itu. Tapi itu sama saja dengan merenggut nyawanya sendiri, karena ia telah membunuh separuh jiwanya," jelas Sana lagi.


Lexy meremas kuat-kuat seprai ranjang, merasakan kepedihan hati yang luar biasa. Kini ia memahami betul kenapa pasukan Egleans itu menghilang. Karena Alena telah menghancurkan sumber kekuatannya, yaitu sisi gelapnya sendiri. Sekaligus sisi dirinya dengan kekuatan yang jauh lebih besar karena mendapat penguat dari benda Gardian.


"Kakakmu sangat pemberani. Ia rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan kita semua," kata Naomi dengan sedih. Ia menepuk dengan pelan pundak Lexy.


"Ya," gumam Xiela. "Meskipun ia berhasil merebut kembali ketiga benda Gardian itu, pada akhirnya ia tak bisa diselamatkan."


Sana mulai terisak, dan menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


"Kalian pasti mendengar ini semua dari mulut Callum, kan?" Tanya Lexy dengan nada datar. Ia masih syok berat, dan belum bisa menguraikan emosinya dengan jelas. Pikirannya sekarang berbelit, bagai benang yang kusut.


"Ya," gumam Naomi. "Ia juga sangat terpukul, dan bertingkah seperti orang gila selama empat minggu berturut-turut."


"Pangeran itu berkali-kali memohon kepadaku untuk menyelamatkannya," lanjut Sana lagi di sela-sela tangisannya. "Katanya aku adalah seorang Healer, jadi pasti bisa menyelamatkannya."


Pandangan Lexy mulai buram, dadanya menjadi sangat sesak. Ia tahu seberapa besar cinta pangeran itu untuk kakaknya.


Di saat itulah tangisan Lexy pecah. Ia menangis tersedu-sedu, kemudian bangkit kembali dari ranjang.


"Lexy..." Bisik Sana.


"Jangan halangi aku. Aku mau bertemu kakakku." Tanpa menoleh lagi ke arah teman-temannya, Lexy terus berjalan ke arah pintu ruangan.


Kenapa? Batinnya saat ia berjalan di lorong. Lorong panjang dengan hiasan dinding dan ornamen Chrysos yang pastinya sangat mahal. Ia bahkan bisa melihat banyak Fae Royal yang berlalu lalang. Gedung ini pasti istana kerajaan.


Saking larutnya dalam perasaannya, Lexy tak menyadari Val yang sudah berada di hadapannya. Pada kaki kanannya dipasang kaki buatan palsu untuk membantunya berdiri.


Lexy menunduk dan buru-buru menghapus air matanya, namun Val menahan kedua tangannya.


Lexy kemudian menengadah dan menatapnya tak percaya. Dipandanglah wajah pria itu. Matanya bengkak, seperti habis menangis. Sedangkan pipinya merah dan rambutnya seperti tak terawat. Terakhir kali ia melihatnya adalah sebelum ia tak sadarkan diri karena telah melukai dirinya sendiri.


Val tiba-tiba menariknya dalam dekapannya. Lexy mematung, tak yakin apa yang baru saja terjadi.



Pria itu tak mengatakan apa-apa, dan terus saja memeluknya. Tangannya lalu membelai rambutnya dengan pelan.


"Val..."


"Akhirnya," gumam Val berkali-kali. Tubuh pria itu sedikit bergetar. "Akhirnya kau siuman."


"Val. Tentu saja aku akan terbangun," balas Lexy, berusaha menenangkannya, padahal sebagian dirinya masih lebih memilih kematian karena telah membunuh Ledion.


"Val, bagaimana dengan Ledion?"


"Lexy." Val tak menghiraukan pertanyaannya, dan meraup kedua pipinya. Jemarinya lalu menghapus air mata Lexy. "Maafkan aku. Apa yang pernah kuucapkan semuanya bohongan."


"Apa maksudmu?" Kali ini Lexy benar-benar tak mengerti. Bagian mana yang ia maksud sebagai bohongan?


"Sebenarnya aku tak pernah berniat untuk membunuhmu, hanya karena kau seorang Egleans." Val menunjukkan senyumnya, senyum yang sudah lama sekali tak ditunjukkannya. Lexy ingat betapa setianya pria ini saat menemani dirinya di penjara Amarilis.


"Oh." Lexy tak yakin harus membalas apa. Lagipula, ia tak pernah mengharapkan apa-apa darinya.


Jawaban dari Lexy malah mengecewakan Val.


"Waktu itu aku tidak tahu kenapa aku mendorongmu jauh-jauh. Aku tidak tahu kenapa rasanya sakit sekali setiap melihat dirimu," lanjut Val lagi.


"Itu karena aku seorang Egleans," jawab Lexy sambil tersenyum. "Tak apa-apa. Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, karena aku memang monster."


"Tidak!" Val menekan kedua bahunya, kemudian menggeleng-geleng. "Kau bukan monster. Kau memiliki hati penyayang dan lembut. Aku tahu hal itu setiap kali melihatmu bersama anak-anak dan juga hewan piaraanmu itu."


Lexy mengedipkan matanya berkali-kali, tiba-tiba merasa malu atas pujian dadakan itu. Ia memang menyukai anak-anak dan hewan, lantas apakah itu yang membedakannya dari seorang monster? Bahwa ia masih mempunyai hati?


"Saat aku melihatmu menikam dirimu sendiri, aku baru memahami perasaanku yang sesungguhnya." Val semakin mendekatkan wajahnya. Mimik mukanya menjadi lebih serius. "Waktu itu di istana peri lebah, aku merasakan cemburu untuk yang pertama kalinya. Aku tak sanggup melihatmu berbalut pakaian peri lebah, dan mahkota di atas kepalamu sebagai tanda bahwa kau milik Sang Raja. Bahwa kau adalah Ratu bagi mereka."


Lexy menelan ludah susah payah. Tiba-tiba ia merasa canggung saat menatap wajah Val.


"Jadi, jangan pernah menyiksa dirimu hanya karena kau Egleans." Beberapa helaian rambut Lexy terlepas, dan Val langsung menaruhnya kembali di belakang telinganya.


"K-Kau tak takut melihat perubahan pada diriku sekarang?" Tanya Lexy terbata-bata. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. "Ra-Rambutku-"


"Perubahan apa?" Tanya Val. "Aku tak melihat perubahan apapun padamu. Aku masih melihat Lexy, gadis dengan hati lembut dan penyayang." Setelah itu, Val mencium bibirnya dengan lembut.


Rasa bibirnya masih sama seperti waktu itu. Lexy tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini, perlakuan dari seorang pria dingin yang awalnya pernah bermaksud untuk melukainya. Ia tak pernah menyangka Val bisa menaruh hati padanya.


Air mata kembali membasahi pipi Lexy. Ciuman Val kali ini terasa lain. Tidak ada unsur kesengajaan agar bisa menarik emosinya dan menjelma. Tapi karena didasari oleh cinta.


"Saat aku bertanya padamu waktu itu, pernahkah terpikirkan olehmu untuk membunuh Sang Raja dalam tidurnya, kau malah menjawab tidak pernah," gumam Val dalam mulutnya. "Dan pada saat itulah aku mengetahui, bahwa kau berbeda seperti yang aku pikirkan."


Lexy tertawa geli mendengar ucapannya. Tiba-tiba timbul gelojak dalam dirinya. Rasanya ia ingin mengusili pria polos ini. Maka Lexy menggigit bibir bawah Val dengan keras.


Val terkesiap dan melepas mulutnya darinya. "Apa yang kau-"


Namun Lexy malah menarik kerah bajunya kembali, dan menjilat darah pada bibir bawah Val.


"Hukuman karena menciumku seenaknya," bisik Lexy sambil tertawa. "Aku tahu kau suka sekali mengikuti gaya Callum, tapi maaf. Kau ini buruk dalam hal mencium."


"Sudah kuduga." Val mendesah dramatis. "Kalau begitu, aku gunakan caraku sendiri saja."


"Hmm? Apa itu?" Tanya Lexy penasaran. Val malah menyeringai, dan tiba-tiba melingkarkan lengannya pada pinggangnya.


"Bagaimana kalau nanti kita makan malam romantis?" Bisiknya di telinga Lexy.