Wings & Fate

Wings & Fate
Outside World



Kamarku sendiri hampir sebesar kamar mewah Callum di istananya. Hanya Jesca sendiri yang membantuku berpakaian.


"Ingat, Alena. Pergi sejauh mungkin dari sini saat kami beri aba-aba," bisik Xiela dan Naomi padaku sebelum mereka pamit.


Jesca tidak banyak berbicara. Tidak, bahkan ia tidak berbicara sama sekali. Gadis itu memberikanku jubah putih, sama seperti yang dikenakan olehnya.


Aku tidak tahu waktu sudah berjalan berapa menit. Karena aku tidak suka keheningan seperti kuburan, maka aku ajak dia berbicara.


"Jadi, namamu Jesca?" Tanyaku basa-basi. Ia menatapku langsung saat sedang membetulkan kerah jubahku, tanpa tersenyum. Gadis itu hanya mengangguk sekali sebelum mengancingkan bajuku.


Apakah dia bisu? Batinku, namun kuusir pikiran itu. Atau mungkin ia pemalu.


Lagi-lagi hening. Aku mendesah dan menatap jendela besar. Masih beberapa jam lagi sebelum matahari terbenam.


"Jadi kira-kira bagaimana proses upacaranya?" Tanyaku lagi, tidak mengharapkan balasan. Jesca merapatkan bibirnya, masih sibuk menyisir rambut panjangku.


Pintu tiba-tiba dibuka, kemudian masuklah bocah Ventus itu, beserta Fae Blossom yang selalu menemaninya.


"Ella!" Aku langsung berlari ke arahnya. Gadis kecil itu terbelalak saat melihatku, dan langsung berlari dalam dekapanku.


"Miss Alena!" Ia terlihat bahagia saat melihatku. Aku memeluknya erat-erat, sambil membelai rambut coklat halusnya.


Flora juga menghampiriku. Sudah lumayan lama sejak aku menemuinya. Penampilannya masih sama, lengan serta rambutnya dipenuhi oleh sulur-sulur tanaman. Rambutnya yang berwarna hijau rumput laut tergerai begitu saja.


"Alena, kenapa kau sangat terburu-buru?" Tanya Flora, tidak peduli dengan keberadaan Jesca di belakangku. "Aku dan Ella sudah mencarimu dimana-mana. Katanya dia kangen denganmu."


"Denganku?" Aku menatap gadis kecil yang manis itu. Ia tersenyum lebar, masih memeluk kakiku. "Iya."


"Maksudmu, kangen dengan sihirku," kataku menyindir. Ella hanya tertawa dan mengangguk. "Iya! Itu juga!"


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Flora kepadaku. "Kenapa kau dibawa ke Fae Hall?"


Aku ingin menjelaskan semuanya kepadanya, namun aku takut Jesca akan mendengarnya dan, barangkali membocorkannya kepada Bora.


"Iya, Alena, kenapa?" Ella juga memberi tatapan khawatir kepadaku. Ia lalu melirik Jesca yang diam seperti patung dan menarik-narik rambutku. Aku membungkuk dan ia berbisik di telingaku. "Dan siapa Fae itu? Apa dia jahat?"


Aku terbelalak. "Tidak, kok. Tak usah takut," kataku sambil tersenyum. "Dan kalian tak usah khawatir denganku. Aku akan segera dinobatkan menjadi Fae God."


"Jadi ini alasannya, Miss?" Tanya Flora. "Tapi kenapa aku baru tahu hal ini?"


"Mungkin Bora akan memberitakan hal ini, lagipula tadi aku dipaksa dan baru sampai di Fae Hall beberapa menit yang lalu."


"Oh, begitu." Suara familiar terdengar di ambang pintu, dan aku melihat Bora. "Kalian berdua sudah bisa meninggalkan Alena. Sudah bagus aku bukakan pintu gerbang untukmu."


"Berisik!" Ella menjulurkan lidah ke arahnya. Flora buru-buru menggendong Ella dan menasehatinya. "Kalau begitu, kita pamit dulu, Miss." Kemudian ia membungkuk tanda hormat kepadaku dan pergi keluar ruangan.


"Kau terlihat sangat menawan," puji Bora kepadaku sambil menghampiriku. "Elegan, kesan yang pas untuk calon Ketua Golongan."


"Apa maumu? Tak perlu melakukan basa-basi denganku," kilahku sambil menyilangkan tangan. Bora langsung menggeleng-geleng melihat tindakanku.


"Hilangkan kebiasaan jelekmu yang suka melawan. Kau perlu mempelajari adat istiadat menjadi seorang Fae God."


"Memangnya harus ya?"


"Hanya sekedar mempunyai bakat itu tidak cukup."


"Oh, baiklah, baiklah. Katakan saja apa yang harus kulakukan."


Bora tersenyum puas. "Jesca yang akan membimbingmu. Aku masih ada banyak urusan. Sayang sekali, padahal aku ingin melihat prosesnya dari awal hingga akhir." Setelah itu, ia sengaja membungkuk dalam-dalam. "Aku pamit dulu, Miss."


"Pria ini terlalu banyak tingkah," gumamku jengkel.


***


Jesca menuntunku ke luar gedung, padahal matahari sudah hampir terbenam.


"Kemana kau akan membawaku? Bukankah Bora berkata upacara akan segera dimulai begitu matahari terbenam, ya?"


Jesca menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia mengangguk sekali, kemudian melanjutkan langkahnya. Aku masih belum memahami maksudnya.


Jesca tiba-tiba menjentikkan jarinya. Selembar kertas usang tiba-tiba muncul di telapak tangannya. Ia segera menuliskan sesuatu, kemudian menyodorkannya kepadaku.


"Upacara yang dimaksud oleh Bora adalah proses penyucian untukmu, Miss." Aku membaca isi kertas itu. "Proses penyucian? Apa kau sedang menuntunku untuk melakukan itu?"


Sekali lagi anggukan.


"Oh."


Ternyata di belakang gedung ada air mancur raksasa. Patung seorang Fae wanita yang tampak elegan berdiri di tengah-tengah. Ukiran wajah Fae itu sangat cantik. Ia mengenakan mahkota, dan rambutnya digerai.


"Apakah itu Ratu Fae?"


Jesca mengangguk singkat. "Jadi aku akan melakukan ini sendirian bersamamu?" Aku mengambil langkah dan menghampiri kolam air mancur. "Kalau begitu, sepertinya aku bisa bersantai tanpa takut akan dilihat oleh orang lain."


Tanpa perintah dari Jesca, aku mulai membuka alas kakiku dan mencelupkan kaki ke dalam air. Jesca buru-buru menghampiriku dan menarik lenganku.


"Kenapa? Apa air ini suci, jadi aku tak boleh menodainya?"


Jesca menggeleng dengan cepat. Terlihat ekspresi panik di wajahnya saat ia melihat sesuatu di belakangku.


Pohon-pohon dari kejauhan sedang bergoyang. Bayangan sekawanan burung terbang tanpa arah, dan asalnya pasti dari pepohonan tersebut.


Jesca meremas tanganku. Aku hendak menanyakan apa yang terjadi, namun ia sudah menyentuh kalung yang tergantung di lehernya. Dalam sekejap, cahaya emas mengelilingiku, dan aku sudah berada kembali di kamarku.


"Ada apa?" Wajar jika Jesca tidak menjelaskan apa-apa kepadaku karena ia tidak bisa berbicara.


"Jesca! Jelaskan kepadaku!"


Gadis itu gemetaran. Kemudian kertas kembali muncul di tangannya. Masih sambil gemetaran, ia menuliskan sesuatu di sana. Mulutnya bergerak, ia sedang berkomat-kamit meskipun tiada suara yang keluar dari tenggorokannya.


Aku merebut kertas itu begitu ia selesai menulis.


"Egleans, Miss. Kalau burung-burung sampai bereaksi, artinya ada bahaya yang datang."


Aku meremas kertas di tanganku itu. Egleans ternyata semakin menyebar. Kalau mereka sudah dekat dengan Fae Hall, artinya mereka mulai memasuki kawasan pusat kerajaan Bougenville. Aku harus segera menemui Bora dan menceritakan penemuanku itu.


Namun aku malah kecewa berat dengannya saat kembali ke ruang utama, karena Bora sudah kembali ke istana Amarilis.


***


Wajah Callum sudah dibasahi oleh keringat. Ia sampai menggunakan sihirnya kesana kemari, namun masih tak menemukan keberadaan gadis itu.


Ia menyeka keringatnya dan bertekad untuk teleport lagi, ketika wajah Bora terlihat dari kejauhan.


"Bora!" Ia muncul di hadapan pria itu. "Apa kau melihat Alena?!"


Pria itu hanya mengerjapkan matanya perlahan. "Kenapa memangnya?"


"Dimana dia?!" Tanya Callum sampai memegangi bahunya. "Cepat katakan!"


"Aku kurang tahu keberadaannya. Kenapa harus memasang wajah khawatir seperti itu?"


Callum mengacak-ngacak rambutnya sendiri dan membuang napas berat. "Ini sudah telat. Seharusnya aku sudah berangkat ke Bougenville sejak tadi."


"Kalau begitu, tunggu apa lagi?"


"Tunggu apa lagi? Tentu saja, aku menunggunya!" Ia ingin meluruskan kesalahpahaman antara mereka berdua. Pertemuan terakhir mereka terganggu karena Lotus beserta kelompok fanatiknya itu.


"Jangan khawatir, Callum. Gadis tercintamu itu akan dirawat dengan baik di Amarilis. Kau boleh berangkat ke Bougenville sekarang."


Tentu saja Callum tidak memercayai ucapannya. "Bora, aku belum mendapat laporan apa-apa darimu. Sudah sebulan aku meninggalkan istanaku."


Pria itu tersenyum tenang. "Semua baik, pangeranku. Dan terkendali."


"Bagaimana dengan anak-anak? Fae yang sakit dan lemah? Apa mereka mendapat makanan dan kenyamanan yang baik?"


"Kondisi mereka semua makin membaik berkat kebaikan hati Anda untuk menjadikan istana ini sebagai tempat penampungan sementara."


"Bagaimana dengan penyerangan Egleans di malam hari?"


"Untungnya mereka menyerang dalam jumlah kecil, jadi aku masih bisa membasmi mereka."


"Apa ada bahaya lainnya?"


"Seperti yang kukatakan sebelumnya, semua terkendali."


Callum mengangguk dengan ragu. Tiba-tiba dirinya teringat dengan Lexy, yang masih mendekam di penjara bawah tanah.


"Lexy. Bagaimana kondisinya?"


Kali ini Bora tak langsung menjawab. "Dia..."


"Apa dia sempat... menjelma kembali?"


"Iya."


Callum mendesah. "Biar begitu, rawat dia baik-baik. Aku tak ingin ia mendapat perlakuan tak adil. Jangan siksa dia seperti seorang penjahat."


Bora mengerutkan dahinya. "Maaf, Yang Mulia. Kalau Anda sempat lupa, ia sudah membunuh seorang Fae bernama Mella waktu itu-"


"Kita sudah membahas ini berkali-kali." Callum menatapnya tajam. "Aku tak ingin menghancurkan hidupnya, dan juga Alena. Kalau dia sampai terluka sedikitpun, aku tak akan segan-segan menggunakan pedangku untukmu."


Bora membungkuk. "Baik, Yang Mulia."


Ketika Callum berbalik badan, pria itu kembali berbicara. "Apa yang akan Anda lakukan sekarang?"


"Apa maksudmu?"


"Apakah Anda akan berangkat ke Bougenville?"


Apakah aku akan melakukan itu? Tanyanya dalam hati. Hal pertama yang sebenarnya akan dilakukannya adalah kembali mencari Alena, namun ia masih belum menemukannya.


"Aku akan mencarinya di bawah. Siapa tahu ia sedang bersama Lexy."


"Kalau semisal ia tidak berada di bawah sana?"


Callum terdiam. Apa yang akan dilakukannya kalau ia masih tidak menemukan Alena? "Akan kucari sampai akhir dunia," gumamnya sebelum melangkah, menuju ke bawah tanah.