Wings & Fate

Wings & Fate
Annoyed



Aku jadi terbangun dari tidur nyenyakku saat tubuhku lagi-lagi digoyangkan oleh seseorang. Dengan kesal, aku mengambil bantal yang sebelumnya berada di belakang kepalaku, dan menutup wajahku sendiri.


"Miss! Bangun Miss!" Giselle terus-terusan menggoyangkan bahuku. "Anda lupa hari ini hari apa?"


"Hah?" Aku masih setengah sadar, enggan untuk membuka mata. "Aku mau tidur lagi," gumamku. Namun Giselle malah menggoyangkan bahuku semakin keras.


"Uhhh!!" Terpaksa aku bangkit. "Apa?" Aku membenarkan rambut panjangku yang masih teracak. "Kau tahu gak tubuhku masih pegal karena berlatih bersama Xiela dan Lyra kemarin?"


"Hari ini pangeran Callum akan pulang!" Katanya dengan mata berbinar-binar.


Aku tak sempat membalas ucapannya lagi karena sudah terbirit-birit masuk ke toilet dan membersihkan diriku. Dalam beberapa menit, aku sudah menata rambutku dan mengenakan gaun cantik warna putih pemberian Giselle.


"Miss, pelan-pelan!" Kata Giselle saat aku hampir terjatuh karena buru-buru memasukkan kakiku ke dalam rok. Aku tidak memperdulikan nasehatnya. Aku harus siap jika ingin bertemu dengan Callum. Ia bisa saja langsung muncul di hadapanku sekarang, mengingat bahwa ia memiliki kemampuan untuk teleport.


Saat aku sibuk menyusuri koridor, tampak sekelompok Fae di ujung ruangan. Mereka terbang kesana kemari, sedang menantikan sesuatu, dan aku kesal karena baru menyadari bahwa yang mereka tunggu-tunggu adalah aku.


"Itu dia!"


"Lihat sayapnya! Dia Fae God yang dibicarakan oleh para Ketua Golongan!"


"Wow! Aku penasaran lihat sihirnya!"


Dalam sekejap, aku sudah dikerumuni oleh para Fae. Padahal ini masih pagi, batinku. Rasanya aku sudah pernah menunjukkan sihirku kepada mereka.


"Alena! Aku sudah dengar banyak darimu!" Salah satu gadis menarik tanganku. Aku mengingat siapa dia - mantan murid di Faedemy - Fae Aqua yang pernah ikut menjahiliku bersama Lotus. "Kemarin aku tak sempat melihat pelangi buatanmu. Bisakah kamu menunjukkannya kepadaku?"


"Hei, Angel, jangan serobot!" Teriak satu lelaki Aqua. "Aku yang sampai duluan tadi! Seharusnya sekarang giliranku!"


Aku tak bisa keluar dari kerumunan orang-orang ini. Bajuku jadi hampir rusak, dan rokku terinjak. Seharusnya aku mengenakan pakaian yang lebih santai.


"Aku...aku akan menunjukkannya kepada kalian semua," bisikku. Namun mereka terlalu berisik sehingga tak dapat mendengarku. Giselle sudah berusaha membawaku keluar, namun Fae Cosmos itu ditelan oleh massa.


Cahaya merah tiba-tiba muncul, dan aku menoleh ke sumbernya. Bora sudah memisahkanku dengan Fae lainnya, memberikanku ruang. "Mohon tenang!"


Dalam sekejap orang-orang tak lagi mengerumuniku. Mereka terdiam saat melihat kemunculan Sang Ketua Fire. Atau mungkin mereka sudah terbiasa menerima perintah darinya, biar bagaimanapun, ia sempat memimpin mereka semua saat aku dan Callum berada di Goa Kora.


Baru kali ini aku berterima kasih atas kehadiran Bora.


Pria itu tersenyum. "Kalian semua akan melihat kemampuan sihir seorang Fae God. Sebelum itu, aku membawa berita bagus, yang tentunya akan jauh lebih menarik dan spektakuler."


"Aku yakin tak ada yang lebih menarik dari pertunjukkan sihirnya," bisik seseorang dari belakang.


"Apakah kamu yakin?" Bora mengangkat alisnya dan tersenyum. Entah hal apa yang ia maksud, aku yakin itu bukanlah ide yang bagus.


"Ini adalah keputusan bersama semua Ketua Golongan." Bora melangkah maju, dan berhenti di hadapanku. Aku menyilangkan tangan dan bertanya, "apa itu?" Seingatku, mereka tidak membicarakan adanya hal yang spektakuler pada rapat kemarin.


"Kalian semua pasti setuju," katanya sambil mengelilingi orang-orang dan berjalan tegak dengan percaya diri, "bahwa Alena adalah Fae terkuat yang pernah kita temui."


Serentak semuanya mengangguk.


Bora merasa puas dan semakin membuat semua orang penasaran. "Bayangkan. Ketika kalian dapat menciptakan semua sihir dari berbagai golongan, sekaligus menciptakan sihir baru yaitu cahaya pelangi. Bukankah itu hebat sekali? Mungkin kalian tinggal menjentikkan jari dan melenyapkan dunia."


Aku mulai mendapat firasat buruk.


"Keputusan kami adalah..." Bora sengaja melirikku, ingin menangkap reaksi apa yang kira-kira ditunjukkan dari seorang Fae God. Aku hanya menunjukkan muka datar. "Kita adakan upacara penobatan Sang Fae God. Kali ini mungkin sedikit berbeda. Sang Raja dan Ratu Fae juga harus ikut terlibat, karena ini bukan upacara biasa."


Aku terbelalak karena terkejut. "Apa-apaan?! Kalian bahkan belum meminta persetujuan dariku!"


"Sudah kubilang ini keputusan bersama-sama. Jangan remehkan keputusan para Ketua Golongan," balasnya sambil menatapku tajam. Seketika rasa kesal mulai meluap-luap dari dalam diriku.


"Tapi kalian sudah seenaknya-"


"Ini juga suara dari rakyat. Silahkan menyangkal keputusan ini." Bora mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Siapa diantara kalian yang tidak setuju bahwa Fae God pantas untuk dipuja?"


Dipuja? Ini bukan soal masalah itu. Masalah yang sebenarnya adalah, mereka seenaknya mengaturku, tanpa memikirkan perasaanku yang sebenarnya. Apakah ini rasanya menjadi orang yang berpangkat tinggi? Dikontrol oleh masyarakat?


Tidak ada yang berbicara. Ini membuatku semakin menegang, sementara Bora hanya tersenyum puas.


***


"Kau sengaja membawa mereka ke lorong kamarku kan? Agar kau bisa mempermalukanku?"


Seusai kericuhan yang tadi, aku buru-buru menyusul Bora untuk meminta penjelasan. "Mereka perlu mengetahui hal fantastis ini."


"Fa-" Aku menggeleng-geleng. "Padahal kemarin kau tidak menyukai gagasan itu!"


"Apakah aku tidak boleh berubah pikiran?"


"Bukan itu maksudku!" Aku menghalanginya supaya ia tidak lagi mengambil langkah. "Kenapa kau ingin sekali mempromosikan kekuatanku?"


"Kenapa kau tidak?" Tanya Bora. "Aku tak bisa memahami pemikiran anak-anak muda. Mereka tidak berpikiran luas dan hanya mementingkan diri sendiri," lanjutnya sambil menatapku dengan kecewa.


"Bora." Rasanya aku ingin menyerangnya dengan sihirku. Namun ia adalah Fae penting disini, jadi aku pasti akan terkena masalah. "Aku tak menginginkan ini semua. Tolong batalkan keputusan itu."


"Tidak."


"Bora!" Kataku setengah berteriak. "Kalau kamu masih keras kepala, aku akan memberitahu hal ini kepada Callum-"


"Kau pikir pangeranmu bisa menyangkal keputusanku begitu saja?" Bora mendekatkan wajahnya padaku. Aku mundur ke belakang, merasa terkejut atas ekspresinya yang tiba-tiba menjadi menyeramkan. "Keputusanmu? Bukankah tadi kau bilang ini keputusan bersa-"


"Apa pedulimu?" Cahaya merah mulai memancar dari tubuhnya. Fae itu juga mulai merasa kesal terhadapku. "Aku harus melakukan ini. Aku harus mengambil tindakan."


"Ini tak bisa dimaafkan," bisikku tak mau kalah.


Tiba-tiba aku tak dapat mengeluarkan suara. Tangan besar Bora sudah mendekap mulutku. Aku ingin menjerit, namun Bora sudah memunculkan api dari telapak tangannya.


"Aku mau kamu mengerti, Alena," bisiknya di telingaku. "Pikirkan sekali lagi, hal apa yang dapat kau raih dengan gelar yang besar dan setara dengan Raja Ratu Fae."


Tidak. Aku tak ingin memikirkannya. "Tak akan," gumamku. Fae itu membelalakkan matanya, merasa geram atas balasanku. "Kamu-"


Sebuah cahaya yang familiar tiba-tiba tertangkap dari sudut mataku. Aku hendak berteriak memanggil nama Callum, namun Bora malah mengunci mulutku dengannya.


Rasanya aneh, seperti langsung terjerumus ke dalam kegelapan. Bibirnya terasa pahit dan kering. Tak lama aku menangkap ekspresi tak biasa dari wajah Callum, saat ia melihat Bora yang sedang menciumku. Ia mengepalkan tangannya, dan seketika hatiku hancur berkeping-keping.