
Suara gemuruh petir masih terdengar di luar sana, disertai oleh suara deras rintikan air hujan. Selang beberapa detik, Lexy tidak mendengar apa-apa lagi.
Merasa penasaran, akhirnya ia merangkak ke arah dinding dan mengintip melalui celah. Meskipun lumpur dari tanah sudah benar-benar menutupi celah, Lexy bisa tahu bahwa hujan sudah berhenti.
"Cepat sekali, kan?" Lexy menoleh dan sudah mendapati Val di depan sel. "Tinggal menjentikkan jari."
"Bercanda," katanya sambil menggeleng-geleng. "Kau hanya ingin mengikuti gaya Callum."
"Kurasa kau benar," balas Val sesudah ia kembali memasuki sel. Sekarang Lexy bisa melihat rambut pirangnya yang basah karena bekas air hujan. Pria itu masih tidak mengenakan apa-apa untuk menutupi dadanya, wajar karena ia menggunakan baju satu-satunya untuk menyumbat celah di dinding.
"Jadi, bagaimana keadaan di luar sekarang?"
"Sudah baik. Kau tak dengar hujan tidak lagi turun?"
Lexy menarik lututnya ke dada. Benar kata Val. Sekarang ia bisa merasakan hawa sejuk bekas hujan.
Aku lapar, pikirnya dalam hati. Sebenarnya ini masih merupakan misteri baginya. Kenapa setelah turun hujan, orang mudah merasa lapar?
Permintaannya seolah terjawab karena ia mendengar suara besi tangga. Suara yang tanpa disadarinya selalu dinantikan olehnya. Karena itu artinya seseorang akan datang.
Siapa kira-kira yang mengunjungiku? Ledion kah? Callum? Atau jangan-jangan, Alena?
Semua tebakannya salah karena ia melihat dua sosok wanita.
"Xiela? Naomi?" Val langsung bangkit dan duduk di tanah. "Kalian lama sekali."
"Yang penting kita sudah datang, kan?" Kata Naomi. "Dan omong-omong, kenapa penampilanmu seperti gembel?"
"Bukan apa-apa," kata Val. Tapi Lexy bisa tahu pria itu tidak merasa malu di hadapan kedua temannya ini karena sudah menemani dirinya di bawah tanah.
"Kenapa kalian kemari?" Tanya Lexy penasaran.
"Untuk mengeluarkanmu," jawab Xiela simpel. Lexy tidak merasa bersemangat.
"Untuk apa?"
"Untuk apa?!" Naomi terkekeh. "Memangnya kau mau menghabiskan sisa hidupmu mendekam di bawah tanah bersama seorang pria bertelanjang dada?"
"Bukan itu yang kumaksud, Naomi," balas Lexy mulai merona. Ia tak berani menatap mata Val. "Tapi, emangnya kalian bisa melakukan itu?"
"Tentu saja bisa. Jangan ragukan kemampuan kami. Ada Fire, Melody, Light. Kurang hebat apa lagi kita?" Kata Naomi bangga.
"Aku tak mau dikeluarkan," kata Lexy dengan suara kecil, karena ia sebenarnya agak ragu. Sebagian dirinya ingin melihat dunia luar kembali, namun sebagian dirinya ingin mengurung diri disini, karena takut membahayakan semua orang.
"Val sudah memiliki kuncinya. Sebenarnya kau bisa tinggal minta keluar kapan saja. Tapi tentu itu mustahil karena banyak orang dan beberapa Ketua Golongan di atas sana," jelas Naomi kepadaku.
Lexy tak tahu harus membalas apa. Karena Naomi sudah mengingatkannya bahwa Val memiliki kuncinya, bahkan sebelum ia tinggal bersamanya disini. Artinya pria itu menghormati keputusannya dan tidak memaksanya untuk keluar dari penjara.
"Jadi... apa rencana kalian?"
Tak disangka, Val justru terlihat bahagia karena Lexy mulai tertarik dengan rencana mereka untuk membebaskannya.
"Besok, adalah hari Alena dinobatkan sebagai Fae God. Dan semua orang akan berkumpul di Fae Hall," jelas Xiela dengan suara pelan. "Karena kami akan berada di sana saat upacara berlangsung, maka kita gunakan orang lain untuk membantumu."
"Siapa itu?" Tanya Lexy. Ia bisa merasakan jantungnya yang berdebar-debar. "Siapa yang akan membantuku selain Val?"
"Aku." Lexy menoleh dan mendapati pria Ripper itu.
"Kamu?! Sang Ketua Ripper sendiri?!"
"Aku mendapat perintah dari Callum untuk merawatmu dengan baik. Artinya aku bebas melakukan apa saja asal kau terlindungi, kan?" Kata Ledion.
Lexy menganga. "Tapi... kalau orang lain tahu..."
"Kau tidak aman jika terus berada disini," bisik Ledion lagi. "Waktu itu, Callum menyuruhku untuk mengawasi Bora."
"Dan bagaimana hasilnya?" Tanya Val.
"Sejak awal aku sudah tahu, bahwa pria itu hanya menginginkan kekuasaan," jawab Ledion sambil menggeleng-geleng. "Ia akan melakukan apapun untuk menaikkan jabatan Alena, agar bisa memanfaatkan kekuatannya sebagai Fae God."
Lexy mengepalkan tangannya.
"Selain itu, ia juga ingin kau agar terbunuh."
Sontak semua orang menoleh ke arah Lexy.
"Kalau itu, mungkin bukan rahasia lagi," bisik Lexy, padahal dalam hatinya ia masih merasa takut dengan Fae Fire itu.
"Sudahkah kamu menyelidiki lebih lanjut? Apa lebih tepatnya rencana Bora jika ingin membuat Lexy terbunuh?" Tanya Val, padahal seharusnya Lexy yang menanyakan hal itu. Biar bagaimanapun, ia sendiri adalah targetnya.
"Kalau itu, aku butuh beberapa hari untuk menyelidikinya," jawab Ledion agak kecewa dengan dirinya sendiri karena tak mampu menggali informasi lebih dalam.
Xiela mulai angkat bicara. "Kalau menurutku, ia ingin Lexy menjelma menjadi Egleans dan menyerang ditengah publik, sehingga semua orang ketakutan dan terpaksa membunuhnya."
"Jadi ia akan membunuhku tanpa harus menyentuhku?" Bisik Lexy. "Pintar juga kamu, Xiela."
Xiela tetap memasang wajah datar meskipun dirinya baru saja dipuji.
"Jangan begitu donk, Xiela," rayu Naomi sambil cekikikan.
"Seseorang harus tinggal di sini untuk melindungi wilayah Amarilis dari Bora," lanjut Fae Ripper itu lagi. "Dan menurutku kalau Lexy sudah berhasil keluar, ia harus segera pergi bersembunyi di Alther Suliris."
"Apa katamu barusan?!" Val hendak menghunuskan pedangnya, namun Naomi buru-buru mencegatnya. "Val! Tenang dulu!"
"Bagaimana aku bisa tenang! Pria ini mau buat Lexy terbunuh!"
"Kurasa ia ada benarnya." Xiela malah membelanya. "Ia tidak boleh bertemu dengan Fae lainnya, karena sudah pasti ada orang yang ingin melaporkannya ke Bora karena ia berhasil kabur."
Lexy menguburkan kepalanya di tangannya. Kepalanya mulai pusing, dan ia sudah tidak berani membayangkan jika ia sampai menginjak kaki di wilayah peri lebah.
"Haruskah aku bertemu dengan Raja Lebah?" Gumamnya pada diri sendiri.
"Kamu terpaksa melakukan ini, Lexy." Ledion tiba-tiba menyentuh pergelangan tangannya, dan menurunkan tangannya dari wajahnya.
Lexy tanpa disadari langsung menahan napas. Kalau dilihat dari dekat, pria ini lumayan tampan. Rambut putih keperakannya yang menambah kesan dingin pada dirinya, serta sudut mulutnya yang secara ajaib sedang terangkat.
Pria ini baru saja tersenyum. Lexy sampai mengedipkan matanya berkali-kali, takut kalau ia sedang berhalusinasi.
Val tiba-tiba memisahkan mereka. "Kenapa kamu pegang-pegang dia, Ledion?" Katanya dengan suara berat.
Ledion mengerutkan dahinya. "Emangnya kenapa-"
"Jangan sentuh dia," desis Val padanya. "Dan jangan pamer senyumanmu yang aneh itu."
"Val," Lexy paling tidak suka jika seseorang bertengkar di depannya. "Hentikanlah-"
"Kalau aku melakukan itu, ia akan terus merayumu." Kali ini Lexy tak bisa membaca ekspresi Val. "Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi."
Suasana menjadi hening seperti semula. Hanya terdengar suara tetesan air dari luar.
"Val, kau sudah makan apa saja selama ini di bawah tanah? Cacing-kah?" Tanya Naomi, masih memasang muka terkejut.
Pria itu langsung berkedip, dan menggeleng-geleng. "Ehem. Maksudku, memangnya baik ya mengirim dia begitu saja di sarang peri lebah lainnya? Meskipun itu bukan Sang Ratu yang jahat, tetap saja kita tidak bisa memercayai Sang Raja Lebah sepenuhnya."
"Tentu saja tidak," kata Ledion. "Saranku sih, dia pergi ke Alther Suavis dulu, untuk mengambil Madu Susu. Karena ia membutuhkan itu kalau mau mengubah penampilan."
Tolonglah aku, Dewa, pikir Lexy. Cobaan macam apa yang harus kuhadapi?! Dan kenapa pria ini menyarankan hal gila seperti ini?!
"Kau benar-benar minta dipenggal ya," kata Val geram.
"Tidak baik berkata begitu kepada seorang Ripper," balas Ledion santai.
"Memangnya masih ada ya ramuan aneh itu di reruntuhan istana Sang Ratu?" Tanya Naomi. "Kalau misalnya tidak ada?"
"Tidak ada kata tidak untuk mencoba," Xiela sudah menaikkan dagunya. Gadis pemberani itu pasti menyukai ide Ledion. "Kalau kita berhasil, dan tentu saja akan berhasil, Lexy bisa mengubah dirinya menjadi Sang Ratu dan pergi menghadap Sang Raja."
"Kenapa harus Sang Ratu? Kenapa tidak... menjadi Fae lain yang lebih cantik?" Tanya Naomi kurang memahami. "Padahal aku sudah menyuruh salah satu hewan piaraanku untuk menggambar sketsa wajah gadis cantik kalau-kalau dibutuhkan."
"Ini bukan lomba kecantikan. Kau seperti Lilies saja," desis Xiela. "Sang Raja bukan seperti Ratu. Ia tidak akan menerima seorang gadis Fae."
"Bagaimana kalau aku merubah diri menjadi salah satu peri lebah saja?" Saran Lexy. Tentu saja ia tidak mau merubah diri menjadi Ratu lagi seperti waktu itu. Lihat seberapa kacau dirinya pada saat itu.
"Kau harus seratus persen berhasil memasuki istana Sang Raja, Lexy," kata Ledion. "Ia mengenal Sang Ratu. Kemungkinan kau diterima akan lebih besar."
Kali ini tak ada yang memprotes. Semuanya, termasuk diri Lexy, menyetujui hal itu. Ledion ternyata pandai dalam membuat rencana. Mungkin ia sudah terbiasa membuat taktik saat menghadapi perang. Fae Ripper memang aktif terlibat dalam perang.
"Kalau begitu, kapan lebih tepatnya aku dan Val menyusup keluar?" Tanya Lexy sekali lagi.
.
.
.
Bonus Visual
Alena Sherman sebelum ia menjadi Fae God.
Lexy Sherman sebelum ia mampu mengubah diri menjadi Egleans.
Callum Lanstki, sang pangeran Fae termuda 🥰 (tokoh favorit aku)
Memiliki rambut hitam dan mata biru jernih ya... bayangin aja ini salah satu lukisan yang terpampang di istana megah Bougenville.
.
.
.
Maaf kalau visualnya gak cocok sama yang kalian bayangin selama ini... sisanya yang tokoh pembantu kalian bebas berimajinasi sendiri ya, agar author juga tidak terlalu mengacaukan fantasi kalian.
Dan juga, maaf kalau makin jarang update, karena hari liburan sudah usai dan author harus kembali ke pekerjaan dunia nyata... sekali lagi maaf 🙏 Author tetap akan usahakan up setiap hari ya...