Wings & Fate

Wings & Fate
Liar



Istana Bougenville dibuat gempar oleh Sang Pangeran termuda. Bagaimana tidak? Baru saja, ia meminta suatu hal yang paling tidak masuk akal kepada Ayahanda dan Ibundanya sendiri.


"Jatuhkan Putri Lucia hukuman paling berat. Biarkan ia mendekam di penjara seumur hidup."


"Apa?!" Di balik tirai, Sang Raja Fae yang paling berkuasa sampai bangkit berdiri dari kursi singgasananya. "Kau! Kau sudah gila! Jaga ucapanmu itu!"


"Callum..." Ibunya sudah menuruni anak tangga, kemudian berdiri tepat di balik tirai. Mereka saling berhadapan, walau Sang Pangeran tidak bisa melihat dengan jelas wajah Ibunya. Terakhir kali ia melihat wajah cantik Ibunya adalah sesaat sebelum ia pergi dari tanah kelahirannya ini, dan memutuskan untuk tinggal selamanya di Amarilis.


"Callum, anakku. Bisa kau jelaskan kenapa tiba-tiba kau ingin menjatuhkan hukuman pada tunanganmu sendiri?"


Callum melirik ke samping, ke tempat dimana Lucia sedang memohon padanya sambil berlutut. Gadis malang itu masih terisak. Penampilannya sudah sangat berantakan, sementara dua penjaga berdiri di sampingnya.


"Pertama-tama, gadis ini bukan lagi tunanganku. Kedua, ia sudah melecehkan Alena. Ia yang menyebabkan pasanganku melukai dirinya sendiri, dan sudah dua hari aku tak dapat menemukannya."


"Ampun...Callum," kata gadis itu dengan muka terkejut. "Aku tak bermaksud untuk melakukan itu...Hiks! Aku... aku hanya..."


"Lucia." Sang Ratu menyebut namanya dengan lembut. Tak biasanya wanita itu akan bersikap lembut dengan salah satu anak selir Raja.


"Y-Ya?"


"Putri Lucia. Anak dari Miss Valerie, salah satu selir Baginda," lanjut Ratu itu lagi.


"Ratuku," Sang Raja mulai waspada. "Kau sedang apa-"


"Katakanlah, Lucia." Sang Ratu tidak menghiraukan pria tadi. "Alasan kamu menjadi tunangan Callum sejak awal."


Lucia berusaha menghentikan isakan tangisnya, kemudian melirik Raja yang masih menyembunyikan wajahnya di balik tirai.


Kali ini Callum tak akan membelanya. Ia juga ingin tahu alasan kenapa gadis itu sudah dijodohkan oleh Ayahnya sendiri sejak ia masih sangat kecil. Ini adalah salah satu alasan kenapa ia lebih memilih tinggal di Amarilis, jauh-jauh dari orang-orang yang hanya ingin mengendalikannya yang saat itu masih sangat polos.


Lucia bergumam sendiri. Gadis malang itu benar-benar ketakutan. Tubuhnya sampai gemetar. "A...aku-"


"Diam kau!" Semua orang di dalam ruangan, seperti para pelayan dan pengawal, kembali dibuat heboh, kali ini oleh aksi Sang Raja. Pria itu meraih pedangnya, kemudian menyibakkan tirai.


"Ya-Yang Mulia!" Salah satu pengawal yang tak lain adalah Robert langsung menghampirinya. "Yang Mulia Raja, Anda sudah menunjukkan wajah Anda kepada semua o-"


"Diam!" Pria itu langsung menghunuskan pedangnya ke arah Robert. Callum tidak sempat berkedip saat darah segar mulai mengotori lantai suci ruang singgasana.


Beberapa pelayan langsung berteriak histeris, sementara para penjaga lainnya hanya mematung, tidak percaya apa yang baru saja mereka saksikan.


"Ayah!" Hanya Rupert, anak dari Robert, yang sampai berlari ke arah pria yang sekarang sudah terluka parah akibat pedang Sang Raja.


Callum langsung menghampiri Ayahnya sendiri. "Ayah, kumohon. Jangan buat keributan."


Raja tua itu menatap anaknya sendiri penuh amarah. "Kau pangeran tak tahu diuntung! Harusnya aku sudah membunuhmu sejak awal!"


"Ayah." Callum tak menghiraukan ucapannya yang menyakitkan. "Kumohon... Turunkan pedang Anda-"


"Aaa!!" Suara teriakan nyaring memenuhi gendang telinga Callum. Ternyata itu Sang Ratu, Ibunya sendiri. Dan wanita itu berteriak karena anaknya baru saja ditikam oleh pedang di bagian perutnya!


"A...Ayah..."


Bruukk!! Callum jatuh berlutut. Ia masih tak percaya atas kejadian yang baru saja menimpanya. Ayahnya telah menggunakan pedangnya sendiri untuk menikam perutnya.


Sang Ratu masih berteriak. Itu mengundang semua orang untuk mengintip di balik pintu besar ruangan. Tak lama, terdengar suara langkah kaki seseorang.


"Callum!" Putri Abigail sudah berlari ke arah adiknya. Ia langsung terbelalak saat menyadari apa yang menyebabkan adik tersayangnya jatuh berlutut.


"Ayah! Kenapa Ayah melakukan ini?!" Abigail langsung menciptakan sesuatu dari tangannya, dan seketika muncullah sebuah pedang.


"Abigail! Hentikan perbuatanmu itu!" Sang Raja masih memegang pedangnya sekuat tenaga, mencoba untuk melindungi dirinya sendiri. Namun pria itu tidak mengerti, betapa besarnya amarah seorang kakak yang sudah melihat adiknya yang terlukai.


"Aku benci Ayah! Matilah!" Abigail terus-terusan menyerang Ayahnya. Para penjaga sudah mengeluarkan pedang mereka masing-masing, mencoba menjauhkan Sang Putri dari Sang Raja.


"Callum!"


Callum merasakan tangan seseorang pada bahunya. Itu adalah Ibunya. Sosok yang pernah ia idolakan, wanita yang ia kira akan menjadi satu-satunya orang yang mencintainya, sebelum ia mengetahui segalanya.


"Uughhh...Uhuk!" Ia mulai memuntahkan darah. Darah tak henti-hentinya keluar dari perutnya, meski ia sudah menekannya dengan tangannya sendiri.


"Panggilkan Healer Kerajaan!" Perintah Sang Ratu. "Sang Pangeran sedang terluka!"


"Lepaskan aku!" Callum menengadah dan melihat kakaknya yang sekarang sudah ditahan oleh para pengawal. "Pria itu! Pria itu sudah melukai adikku! Biarkan aku membunuhnya!"


"Kurung dia di kamarnya. Jangan biarkan dia keluar sampai dia bertobat," perintah Sang Raja sambil mengelap darah pada mulutnya. Kemudian, ia juga mengusir Lucia yang wajahnya sudah pucat pasi. Gadis itu sibuk bergumam seperti orang gila. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak syok berat saat harus menyaksikan pertumpahan darah? "Kau juga! Enyahlah dari sini!"


Sekarang, hanya ada mereka bertiga di dalam ruangan, ditambah oleh seorang Healer yang telah menyembuhkan luka Sang Raja dan juga Callum sendiri.


"Anu...Ratuku," kata pria Healer itu kepada Sang Ratu yang masih berada di dekat anaknya. "Aku sudah menghentikan pendarahannya, namun lukanya cukup dalam, jadi perlu waktu untuk menjahit kembali kulitnya."


"Tidak bisakah kau menggunakan sihirmu?" Tanya Ratu yang sudah sangat khawatir.


"Bisa, tapi membutuhkan waktu." Wajah sang Healer sudah dipenuhi oleh rasa bersalah. "Maafkan aku, Yang Mulia."


"Tidak apa-apa," kata Callum sambil tersenyum, meskipun perutnya masih terasa sakit. Ibunya lalu menyeka keringat pada dahi serta lehernya.


Callum melirik Ayahnya, yang sekarang sudah duduk kembali di singgasana seperti semula. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan atau khawatir dengan anaknya.


"Callum, maafkan Ibu," Sang Ratu membelai rambut anaknya. Air mata sudah mengalir. "Kau tak pantas diperlakukan seperti ini."


"Sudahlah, Ibu." Callum menggunakan sikunya untuk bangkit duduk, namun tiba-tiba rasa nyeri kembali menghantamnya.


"Jangan bergerak." Ibunya menahan perutnya. Ia lalu melirik pria Healer itu. "Kau. Bawa Sang Pangeran kembali ke kamarnya. Aku mau dia dirawat dengan intens sampai sem-"


"Tidak." Callum menolak. "Aku harus mencari Alena. Aku tak punya waktu untuk beristirahat-"


"Callum!" Ibunya membentak. "Jangan macam-macam! Keselamatanmu lebih penting dibanding wanita itu!"


"Ibu salah," kata Callum lagi. "Alena bisa saja dalam bahaya. Aku tak akan menyerah sampai bisa mencarinya."


"Biarkan saja dia." Terdengar suara berat Sang Raja. "Aku tak peduli kalau dia sampai mati nantinya. Itu urusan belakangan karena sudah bersikap semena-mena."


"Diam kau!" Teriak Sang Ratu. "Kenapa kau bersikap seperti itu kepada anakmu sendiri?! Kenapa kau melukainya?! Apa salah dia?!"


"Karena aku hanyalah salah satu anak selir."


Sang Ratu berhenti terisak. Ditataplah mata anaknya itu. "Callum... apa maksudmu?"


"Kalian pikir aku tak mengetahuinya?" Terdengar lirihan tawa dari mulut Sang Pangeran. Dipamerkanlah barisan giginya yang masih ternodai oleh darah. "Kalian tidak tahu alasan aku minggat dari rumah waktu itu?


Karena kalian pembohong. Kalian sebenarnya tidak mencintaiku."


***


Terkadang, orang yang paling ceria dan selalu tersenyum justru menyimpan banyak kenangan pahit dan luka di hatinya.