Wings & Fate

Wings & Fate
My Choice (2)



Benar juga. Bora hanya pernah mengatakan bahwa Raja dan Ratu Fae akan ikut terlibat. Mungkin maksudnya mereka juga mengetahui upacara ini.


"Kata siapa ini tempat sesak? Luas bangunan ini bahkan lebih besar dibanding istana Callum."


"Buat mereka ini masih kurang luas dibanding kamar santai mereka," jawab Bora tanpa ragu.


Dalam hati aku bertanya-tanya seberapa luas istana Bougenville itu.


"Jangan dipikirkan." Bora sepertinya dapat menebak isi pikiranku. "Lebih tepatnya, tidak ada yang benar-benar melihat wajah mereka secara langsung, kecuali di lukisan atau patung."


Sekarang aku sudah sampai di tengah ruangan. Ruangan otomatis menjadi hening. Beberapa Fae God yang sudah pernah kulihat sebelumnya langsung berbaris, masing-masing membawa bantal yang diduduki oleh perhiasan.


Aku sudah tahu apa yang akan kujalani berkat pelatihanku yang hanya berdurasi beberapa jam.


Aku ingin menanyakan lebih lanjut mengetahui Raja Ratu Fae, sekaligus orangtua Callum, namun Bora sudah menghilang diantara kerumunan. Sekarang aku sudah dibuat gugup karena berdiri sendirian, ditemani oleh banyak pasang mata yang mengawasiku.


Aku menelan ludah, dan melirik jendela besar di ujung ruangan. Sebentar lagi matahari akan benar-benar tidak terlihat. Itulah yang dinamakan pukul kembang malam.


Kemarin, aku mengikuti usul Callum dan mempelajari buku Blossomary. Ternyata benar dugaanku. Kembang Malam itu tak lain bernama Nightbloom, bunga indah berwarna biru malam yang hanya tumbuh di awal musim semi. Pada waktu malam hari.


Dan waktu yang dimaksud akan tiba sebentar lagi.


Aku mengamati seisi ruangan, namun masih tidak menemukan keberadaan dua gadis itu.


Dimana Naomi dan Xiela? Aba-aba macam apa yang akan kudapatkan?


"Fokus, Alena." Aku mendengar suara Jesca dalam pikiranku. "Jangan coba pikirkan hal lain."


Aku menggertakkan gigi, kemudian mulai membuka suara. "Selamat datang, semuanya. Hari ini akan diadakan proses upacara resmiku sebagai seorang Fae God. Pertama-tama, mari panjatkan doa dan harapan kepada Sang Dewa yang telah menuntun kita sampai titik ini."


Sekejap semua orang mengucapkan hal yang sama. "Faeries de adverseris. Faeries de adverseris. Faeries de adverseris."


Setelah semua orang mengucapkan harapan mereka masing-masing di hati, aku mengangguk ke arah penonton. Barulah Bora kembali muncul ke altar, kali ini bersama Jesca yang seperti biasa hanya menatapku dengan ekspresi datar.


"Terima kasih atas arahannya, Alena," kata Bora dengan suara keras. Aku mengambil tiga langkah ke arah penonton, kemudian memasang ekspresi datar. Ekspresi yang seharusnya ditunjukkan untuk memberi tahu dunia bahwa aku ini akan menjadi suci.


Barisan Fae God itu langsung maju ke depan, masih dengan bantal berwarna putih dimana masing-masing terdapat sebuah mahkota cantik.


"Pilihlah satu," ujar Bora kepadaku.


Aku menelan ludah. Ini adalah ujian untuk mengetahui seberapa jauh aku telah beradaptasi dan berproses. Bahkan makanan yang kupilih juga harus kupantau dan tidak boleh asal pilih.


Mataku menangkap sebuah mahkota berwarna putih. Mahkota paling simpel, mahkota yang tidak ada emas aslinya. Hanya sebuah mahkota yang dibuat oleh Fae pengrajin.


"Itu? Tapi itu paling jelek diantara semuanya," komentar Bora sambil menatapku penuh kecewa. "Kau sungguh akan memilih mahkota buatan Jesca?"


Aku melirik Jesca. Gadis itu sudah menundukkan kepala karena malu, atau mungkin juga untuk menghindari tatapanku.


"Aku memilihnya karena paling sesuai untukku." Aku mengambil langkah dan menaruh sendiri mahkota itu di atas kepalaku.


Semua orang terkesiap. Mereka jelas tidak menyukai caraku bersikap.


"Ma-maaf Miss, tapi seharusnya kami yang memakaikan mahkota itu di atas kepalamu," sahut salah satu Fae Royal.


"Heumm, tidak ada yang pernah memberitahuku itu sebelumnya," ujarku tanpa rasa bersalah.


Aku puas melihat reaksi Bora. Pria itu buru-buru mengambil kembali mahkotaku. "Apa yang sedang kau lakukan, Alena?" Bisiknya geram di telingaku.


"Menobatkan diriku sendiri," bisikku kepada sambil tersenyum.


Sebuah suara keras tiba-tiba menggema, membuat semua orang panik setengah mati. Kemudian, disusul oleh suara teriakan semua orang. Aku juga sempat terkejut. Dari sudut mataku, aku menangkap sebuah cahaya merah yang dipadukan dengan cahaya ungu familiar.


Lampu kandelir terjatuh ke tengah-tengah ruangan, dan aku segera memainkan sihirku untuk melindungi semua orang sehingga mereka tidak terluka.


"Ada apa ini?!" Teriak Bora ditengah kekacauan. Sekarang tidak ada lagi yang mengawalnya, bahkan Fae Ripper sekalipun. Mereka sibuk melindungi para hadirin dengan senjata mereka kalau-kalau ada ancaman bahaya.


"Kau!" Bora menarik kerah bajuku. "Kau sengaja melakukan ini-"


Aku melepaskan sihirku, yang saking cepatnya sampai membuat tubuhnya terpental ke belakang. Kemudian, aku sudah melayang di udara.


"Jangan takut, rakyatku," kata suaraku yang menggema sampai ke ujung ruangan. Aku sengaja menggunakan sihir Melody agar suaraku langsung tersampai ke telinga para Fae. Sekarang ruangan sudah hampir kosong. Sebagian besar orang bersembunyi di bawah meja atau apapun yang bisa melindungi mereka dari serangan singkat Xiela.


"Kalian harus mengetahui, bahwa aku tidak melakukan hal ini agar bisa kabur dari masalah." Aku melirik gadis itu di tengah ruangan yang juga sedang menatapku. Jesca masih tidak menggunakan telepatinya untuk menanyakan kondisiku. Rambut hitamnya yang indah sudah teracak.


"Aku akan pergi ke suatu tempat. Ke tempat satu-satunya yang mungkin bisa menjadi penguat dalam menghadapi Sang Ratu Peri Lebah nantinya," ujarku lagi kepada semua orang. Sekarang kepanikan makin berkurang karena serangan tidak lagi terjadi.


"Bohong!" Teriak seseorang. Aku masih tidak mengetahui siapa Fae itu, namun dia seorang lelaki. "Kau hanya ingin kabur dari tanggung jawabmu sendiri sebagai seorang Fae God!"


"Benar! Dasar pengkhianat!"


Pengkhianat. Kata itu mulai keluar dari mulut semua orang. Namun aku tetap berpegang teguh pada imanku.


"Pengkhianat atau tidak, aku berani berjanji, bahwa aku bersedia mengorbankan nyawaku sendiri jikalau itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kaum Fae dari Sang Ratu jahat."


"Bagaimana bisa kami percaya?! Sekarang saja kau sudah membawa bencana ini ke Fae Hall!" Teriak seorang gadis dengan suaranya yang melengking.


"Nyatanya aku sedang melindungi kalian dengan sihirku," kataku.


Aku berhenti berpidato sebentar, karena aku bisa melihat sesosok familiar dari dalam jendela. Bayangan Callum sudah ada disana, bersama kuda hitamnya di balik semak-semak.


Aku sudah telat, batinku. Namun, masih ada satu hal yang perlu kukatakan kepada semua orang. Rakyatku. Mereka perlu mengetahuinya.


"Tangkap dia!" Teriak salah satu Ripper, yang membuyarkan konsentrasiku. Aku terpaksa mengeluarkan sihirku, kemudian menembaknya dengan api biru yang tak membahayakan nyawa. Itu adalah sihir kombinasi dengan Aqua.


"Jangan macam-macam!" Xiela dan Naomi muncul entah darimana, dan sukses menghalangi mereka. "Kecuali kalian ingin mati ditangan seorang Fae God."


"Pengkhianat... ternyata ia mau membunuh kami semua!" Semua orang mulai terisak, sebagian mencaci makiku dengan kata-kata kasar.


Suara erangan terdengar dari belakang punggungku, dan tahu-tahu wajahku sudah membentur lantai yang keras.


Bora hendak menangkapku, namun aku tidak punya banyak waktu lagi. Kalau aku menggunakan sihir Royal, takutnya ia juga akan terbawa.


"Kau harus kutangkap!"


"Lepaskan aku, Bora!" Aku meronta-ronta, dan karena tidak mempunyai pilihan lain, aku terpaksa memukulnya dengan bagian belakang kepalaku.


Duk! Ia teralihkan untuk sesaat, dan aku memanfaatkan celah itu untuk bangkit dan menyerangnya lagi dengan sihirku.


"Ketahuilah ini, rakyatku!" Teriakku sebelum aku menghilang. "Bahwa aku tidak pernah kabur dari tugas dan tanggung jawabku!"


Jesca sudah membelalak. Barulah gadis itu bertelepati dan menanyai maksudku lewat pikiran kami. Namun aku mengabaikannya.


Aku mengepalkan tangan, bisa merasakan dadaku yang naik-turun dengan cepat. "Karena aku sudah dinobatkan kemarin! Itulah permintaanku kepada Sang Dewa!"


Lalu aku menghilang dan muncul kembali di luar gedung.