
"Cari Sang Pangeran. Dan bawa dia kepadaku."
Itu adalah perintah dari Sang Ratu kepada makhluk mengerikan itu.
Tidak. Tidak boleh. Wanita itu sama sekali tidak boleh menemukan Callum.
Kumohon. Aku ingin berteriak, memohon-mohon kepadanya, kalau bisa berlutut juga. Pokoknya tidak boleh!
"Kenapa, Alena?" Wanita itu mendekatkan wajahnya padaku. Pandanganku mulai menjadi buram. Aku tahu sebentar lagi aku akan mati. Siapa yang akan tahu kapan Egleans itu kembali dan sukses membawa Callum kesini? Mungkin saja aku akan langsung menemuinya begitu aku terbangun dari kematianku.
Aku menertawakan diriku sendiri dalam hati. Memangnya wanita ini akan membangkitkanku lagi? Bagaimana pun, ia sudah tidak membutuhkanku. Aku sudah tidak memiliki lagi ketiga benda Gardian itu.
Tangannya kembali mencengkeram leherku. "Tidurlah," bisiknya di telingaku sebelum kegelapan menelanku.
***
Aku pikir Dewa akan memberikanku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan sekali lagi. Aku masih ingat dengan jelas permintaanku kepadanya. Aku ingin menjadi diri sendiri. Tidak, aku ingin menjadi seorang Fae God menurut standarku sendiri.
Mungkin masa-masa bahagia dalam hidupku sudah habis. Mungkin, kini saatnya aku kembali ke alam kematian, dan bisa mengucapkan selama tinggal kepada semua orang.
Aku masih menunggunya. Menunggu hingga mimpi itu kembali hadir saat aku tertidur. Namun tidak terjadi apa-apa.
Callum sudah bahagia bersama tunangannya. Kini aku mulai tersadar. Waktu itu bahkan ia sudah berkata Ya.
Aku terus menunggu hingga mimpi itu datang kepadaku. Hanya dalam mimpilah aku bisa melihatnya. Melihat wajah yang sangat kucintai. Di alam mimpi, aku bahkan sudah menjadi pasangannya, tanpa harus berpura-pura demi keamananku. Di alam mimpi, aku bahagia.
Air mata mulai membasahi pipiku. Aku ini memang menyedihkan. Aku tahu ia tidak lagi mencintaiku, namun aku masih mengharapkannya. Tanpa kesedihan dan rasa sakit di hatiku ini, aku bukan apa-apa. Tanpa perasaan atau emosi ini, aku hanya mayat hidup, sama seperti yang dikatakan oleh Sang Ratu.
Terima kasih karena kau telah membuatku hidup, Cal, batinku sambil tersenyum saat kembali mengenang memori-memori bersamanya. Semoga kau bahagia. Kau boleh melupakanku, asal kau berjanji kau akan hidup bahagia.
Tapi, apakah aku harus menyerah hanya karena alasan itu? Bagaimanapun, orang-orang masih membutuhkanku di dunia nyata. Sebentar lagi Sang Ratu bisa membangkitkan Bella. Mungkin ia juga akan menjadi Fae God, namun jauh lebih kuat.
Aku harus bangun bagaimanapun caranya. Tekadku sekarang adalah memperbaiki ini semua, agar Callum bisa hidup tenang.
Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, pikirku sebelum sebuah cahaya terang memanggilku kembali.
***
"Chrys, apa ia sudah terbangun?" Terdengar suara lembut seseorang.
Aku mengerjapkan mata, namun cahaya kuning ini terlalu terang bagi mataku.
"Uh," lirihku sambil berkedip. Aku sedang berbaring di atas lantai dingin. Menggunakan siku tanganku, aku mencoba untuk bangkit duduk.
"Fiuh. Syukurlah. Kupikir ia benar-benar mau bunuh diri." Terdengar suara berat pria.
Cahaya Light itu semakin mengecil, hingga yang tersisa hanyalah segenggam telapak tanganku saja, yang sudah cukup untuk menerangi pandanganku.
Aku tertegun. Di hadapanku sekarang adalah seorang pria serta wanita muda yang amat cantik. Pria itu berambut pirang, dan sayap kuningnya membuktikan bahwa ia seorang Fae Light. Sementara wanita itu berambut coklat ikal, yang mengingatkanku pada rambut Miss Gray.
Wanita itu tidak memiliki sayap. Ia adalah seorang manusia.
"Alena," katanya sambil tersenyum. "Syukurlah kau bisa bangun di saat yang tepat. Sudah berkali-kali suamiku mencoba untuk membangunkanmu, namun Ratu jahat itu malah masuk ke dalam ruangan."
Aku masih menganga. "Si...siapa kalian?"
Pria itu tertawa tanpa kutahu sebabnya. "Entah kenapa ia mengingatkanku denganmu, Clara."
"Namaku Clara Stockholm," ujar wanita muda itu yang memperkenalkan dirinya. "Dan ini suamiku, Chrys."
"Su-suami?" Tapi, pria itu adalah seorang Fae. Bagaimana mungkin seorang manusia menikah dengan seorang Fae-
Aku masih punya seribu pertanyaan dalam benakku, sebenarnya. Ternyata selama ini cahaya yang menyambutku saat aku terbangun ke dunia nyata adalah milik pria ini. Apa aku bisa memercayai mereka? Mengapa mereka menolongku? Apa yang mereka inginkan dariku?
Wanita yang bernama Clara itu sudah melepas rantai yang membelenggu tanganku. "Sudah. Mari." Ia lalu menyempilkan lengannya di bawah lenganku, membantuku untuk berdiri.
Kakiku gemetar, dan aku hampir terjatuh kalau bukan karena Chrys yang menolongku.
"Te-terima ka-"
"Sudah, sudah," balasnya sambil menyengir. "Aku tahu aku pria baik hati. Lain kali mungkin kita bisa-"
Clara langsung memukul lengan suaminya itu. "Chrys! Kau selalu saja! Cepat gunakan sihirmu! Kita tak punya banyak waktu!"
Aku dipapah oleh dua orang ini. Chrys menghembuskan napas dan menciptakan sihir Lightnya. Aku tahu apa yang mau dilakukannya. Ia ingin membuat kami tak terlihat.
Ceklek!
Tepat saat pintu dibuka dari luar, aku menahan napas. Yang membuka pintu adalah makhluk mengerikan itu. Ia menggunakan mulutnya sendiri untuk membuka gagang pintu.
Chrys menaruh telunjuknya pada bibirnya, mengisyaratkan untuk tetap tenang.
Deg! Makhluk itu mulai kebingungan saat tidak melihatku lagi. Ia langsung marah besar, mengeluarkan suara nyaring yang menarik perhatian Sang Ratu.
"Apa?! Ada apa?!" Sang Ratu tak lama muncul di ambang pintu. Aku masih terdiam, dan menundukkan kepala. Aku tak berani menatapnya saat ini.
"Kemana gadis itu?! Cepat cari dia!" Tak lama, wanita itu sudah berlari kembali ke luar ruangan.
Egleans itu sibuk mengenduskan hidungnya. Namun Clara menggunakan semacam serbuk berwarna abu. Serbuk Ventus. Ia meniupnya dengan pelan, dan ajaibnya serbuk itu terbang bebas seperti bunga dandelion.
Selang beberapa saat, makhluk itu memecah kaca jendela terdekat, dan terbang keluar. Mungkin ia mengira aku sudah kabur lewat jendela karena aroma tubuhku dibawa terbang ke luar ruangan.
Suasana yang mencekam ini akhirnya berakhir. Chrys yang pertama kali menghembuskan napas lega. "Tak ada ruginya Clara bekerja untuk Sang Ratu."
"Huh!" Istrinya itu mengernyitkan dahi. Itu membuat ujung bibirku terangkat.
"Terima kasih, kalian. Aku tak tahu bagaimana cara membalas budi kalian. Kalau kalian tidak melakukan itu, mungkin aku akan-"
Aku bergeleng dengan cepat. Mungkin Egleans yang tadi ingin memastikan jika aku benar-benar sudah mati.
"Tidak apa-apa, Alena." Clara tersenyum manis. "Ini masih bukan apa-apa. Aku sangat terkejut saat mengetahui wanita itu menahan seorang Fae God, Fae yang dirumorkan akan menjadi penyelamat kaum Fae."
Aku hampir lupa. Kalau Clara adalah manusia, kenapa ia membantuku? Bukankah ia seharusnya berpihak pada Sang Ratu, karena juga telah bekerja dengannya?
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Kau bisa memercayai kami, Alena," lanjut Clara lagi. "Namun sebelum itu, kau harus pergi jauh-jauh dari sini."
Chrys mengangguk setuju, kemudian ia menaburkan serbuk Ventus pada sekujur tubuhku, membuat tubuhku terasa lebih ringan. Ia ingin membantu menerbangkanku, karena sayapku masih terluka parah.
"Tunggu dulu." Aku tiba-tiba mengingat sesuatu. Callum. Katanya Egleans itu akan mencari Callum. Kalau ia sudah kembali ke sini tadi, artinya...
"Aku tak boleh pergi. Aku harus menyelamatkan Callum," ujarku pada mereka.
Hai guys! šBagi yang penasaran siapa Chrys sama Clara, mereka adalah kameo dari cerita Wings & Dream! Kalo masih penasaran sama kisah mereka, langsung aja baca Wings & Dream! Tapi ceritanya masih ongoing pada eps 51... dan haha... kalian sudah mendapat spoiler kisah mereka pada eps 58 ini.
Ingat ya manteman, mereka hanya cameo, jadi hanya muncul sedikit. Kalau mau ketemu sama mereka lagi, baca aja wings & dream š¤
Sampai jumpa di eps selanjutnya~ Makasih untuk para readers yang sudah setia sama kisah Alena sampai titik ini! š