Wings & Fate

Wings & Fate
How I Was Born



Aku merinding mendengar kisah masa lalu wanita ini. Tidak, lebih tepatnya seorang manusia gila yang seharusnya sudah mati. Ia sudah menjadi seorang Immortal karena Elixir yang diminumnya terus-menerus.


"Jelita. Itulah namamu," bisikku pada kegelapan. Gadis itu tiba-tiba mencekik leherku, membuatku kehilangan napas.


"Ukh! Le...pas...kan....a...ku..."


"Jangan pernah menyebutkan nama itu lagi di depanku. Mengerti?" Bisiknya di telingaku. "Itu adalah nama seorang manusia yang sudah lama mati. Kau boleh memanggilku Ratu. Ratu Dunia."


Wanita ini benar-benar gila. Ia yakin bisa menguasai tiga kaum sekaligus. Benar-benar serakah dan terlalu dibutakan oleh ambisi.


"Uhuk! Uhuk!" Aku langsung terbatuk saat tangannya sudah melepas leherku.


"Apa kau benar...Ibuku?" Tanyaku lagi karena penasaran.


"Ya. Aku yang telah menciptakanmu."


Setidaknya ia tidak melahirkanku. Aku bergidik saat membayangkan gadis yang memiliki tubuh manusia berumur 8 tahun dapat melahirkan seorang Fae. Bisa-bisa dunia sudah kiamat.


"Bagaimana caranya?"


Ratu itu kembali duduk disampingku, dan kembali menceritakan masa lalunya. "Kecantikan. Hidup abadi. Aku menginginkan semuanya. Namun aku juga tetap merasa kekurangan karena tak bisa melahirkan anak."


Dasar. Kalau begitu mati saja. Mungkin saja kau bisa bereinkarnasi ulang. Oh ya, aku lupa. Wanita ini kan, jahat. Tentu akan langsung dijerumuskan ke dalam api neraka dan tak memiliki kesempatan untuk bereinkarnasi.


"Karena kau ini manusia abnormal yang sudah terlanjur memiliki kekuatan dalam tubuhmu," aku melengkapi pernyataannya.


"Ya, kurang lebih seperti itu. Maka kuciptakan saja dirimu. Setelah itu kuletakkan kau di depan rumah lamaku, rumah yang sekarang sudah dihuni oleh sepasang manusia lainnya."


Deg! Dia benar-benar mampu melakukan segalanya.


"Ba-Bagaimana? Bagaimana caranya kau menciptakanku?" Tanyaku dengan nada gemetar. Aku bahkan tak yakin mampu mendengar jawaban darinya.


Cukup sudah. Aku sudah terlalu banyak mendapat informasi. Ternyata Madu ini adalah hasil penggabungan semua serbuk sayap Fae dan Elixir. Pantas saja ia bisa melakukan apa saja dengannya.


Ratu ini juga yang menciptakan Egleans. Ternyata mereka bukan hanya candu dengan serbuk sayap. Asal muasal mereka berasal dari Madu itu.


Rasanya seperti ada hantaman palu langsung di ulu hatiku. Ternyata aku ini bukan Fae. Aku ini bukan manusia. Aku ini bukan peri lebah. Aku... lain. Sama seperti Ratu ini, aku tak bisa digolongkan menjadi siapapun.


Ternyata benar. Aku adalah makhluk penemuan Sang Ratu. Aku tidak seharusnya hidup. Aku tidak seharusnya diberkati oleh kekuatan besar seperti ini.


"Aku tidak hanya menciptakanmu dari Madu Susu seperti para Egleans. Atau seperti aku menciptakan Lexy," lanjutnya lagi. Aku masih diam, tak mampu mengeluarkan suara.


Apa Ratu ini menciptakanku dari kumpulan serbuk Fae? Ini bisa menjelaskan kenapa aku memiliki sihir Fae God.


"Kau, Alena, dan Lexy, saudarimu. Kalian memanglah diciptakan dari Madu Susu, namun aku mengubah sedikit tekniknya."


Bulu kudukku meremang. Mengubah teknik? Aku mencoba mengingat-ngingat hal apa yang telah dilakukan oleh Ratu ini dengan Bora, pria yang tanpa sadar sudah menjadi seorang pengkhianat yang tak dapat diampuni.


Sraatt!! Saku bajuku tiba-tiba tersobek, memperlihatkan pahaku yang kini terekspos. Sang Ratu sudah mengeluarkan kalung itu tanpa izinku.


"Kau! Kembalikan!" Aku kembali meronta-ronta. Namun percuma saja. Ikatan rantai pada tanganku terlalu kuat.


"Akhirnya benda ini sudah kembali di tanganku." Sang Ratu tertawa puas, kemudian mengangkat daguku.


Aku berteriak langsung di wajahnya. "Apa hubungan benda Gardian itu dengan cara kau menciptakanku?! Kau masih belum memberiku jawaban!"


Cahaya terang kembali membutakan mataku. Sang Ratu kembali menyalakan lenteranya.


"Penguat. Waktu itu aku menciptakanmu dengan cincin penguat ini." Sang Ratu mengepalkan tangannya dan menaruhnya tepat di bawah batang hidungku. Sebuah cincin yang amat cantik melingkar di salah satu jarinya.


"Ternyata bukan hanya Fae Royal yang bisa mengaktifkan benda-benda ini," lanjutnya lagi.


Secepat kilat, Ratu itu menonjok pipiku. Cincin yang sedang dikenakannya sampai membuat pipiku terasa perih dan akhirnya berdarah.


Buukk!! Pipiku berkali-kali dilukai oleh cincin itu. Perutku tiba-tiba terasa mual, dan aku segera memuntahkan isi perutku ke lantai.


"Huh, lihat saja. Kau lemah, Alena." Sang Ratu menginjak pipiku ke lantai menggunakan sepatu haknya.


Sakit... Pikirku sambil meringis kesakitan.


"Tubuh aslimu adalah mayat seorang Fae. Aku menggunakan Madu Susu untuk membangkitkanmu dan memberimu kekuatan dari cincin ini," bisiknya di telingaku. "Tapi tidak lagi."


Lampu penerangan tiba-tiba menyala, dan aku melihat keberadaan seseorang di seberang ruangan.


Ternyata selama ini aku dikurung bersama orang itu yang tak lain adalah Bella, salah satu peri lebah yang sempat menjadi pelayan Sang Ratu.


Tubuh gadis itu sudah dalam kondisi mengerikan. Rupanya Egleans sudah sibuk mencabik-cabik tubuhnya.


"Tidak," bisikku ngeri. "Ka-Kau. Kau membunuhnya-"


"Lihatlah, Alena." Sang Ratu tidak lagi menginjak mukaku. Ia segera menghampiri mayat Bella dan menuangkan ramuannya ke atas tubuhnya.


Aku berteriak histeris. Ternyata benar maksud perkataannya. Gadis itu kembali membuka mata, dan langsung duduk tegak. Ia terlihat seperti mayat hidup, dengan tatapan matanya yang kosong serta tubuhnya yang berdarah-darah.


"Kini aku perlu kalung yang satunya lagi dan sepasang belati itu. Aku akan membuat sesuatu seperti dirimu, Alena, tapi jauh lebih kuat."


Setelah itu, ia menjentikkan jari, dan tubuhku sudah terkoyak dan hancur karena Egleans itu.



Siapkan tisu untuk eps berikutnya 😭😭