Wings & Fate

Wings & Fate
Beautiful



Keesokan harinya aku terbangun dalam keadaan pegal-pegal. Mungkin karena aku belum pernah menaiki kuda sebelumnya, jadi tubuhku belum terbiasa.


Brak! Pintu kamarku dibuka begitu saja. "Ugh." Tanpa membuka mata, aku tahu siapa yang datang. Seperti biasa, akan ada pelayan yang akan mengurusiku. Tanpa sadar, aku sudah terbiasa hidup menjadi putri, diurusi oleh pelayan seperti Giselle dan Jesca. Sekarang siapa lagi yang akan mengurusiku?


"Yang Mulia Pange-"


Aku membuka mata perlahan, dan melihat seorang wanita yang sudah agak tua. Ia sepertinya terkejut saat melihatku yang sedang berbaring di atas ranjang Callum.


"Dimana Sang Pangeran?! Dan siapa Anda?!"


Sebelum ia sempat melihat sayapku, aku sudah membungkus seluruh tubuhku dengan kain selimut. Cahaya matahari masih menembus ruangan, yang artinya belum lama setelah aku tertidur tadi.


"Aku..." Apa yang harus kukatakan?! Bahwa aku pasangannya? Bahwa aku seorang Royal? Bahwa aku gadis pelakor lainnya-


Aku mendengus tak percaya karena sudah berpikir macam-macam. Biar bagaimanapun, Callum yang menarikku duluan ke kamarnya. Ia bahkan sudah memberitahu Raja bahwa aku akan sekamar dengannya.


"Aku Alena." Oke, mungkin ini yang paling benar.


Wanita tua itu mengangkat alisnya. "Putri Alena?"


"Eum..." Apakah aku boleh berbohong? Sebetulnya ada berapa jumlah putri Fae? Yang kutahu adalah putri Abigail, yang merupakan kakak dari Callum.


"Kalau begitu, Yang Mulia putri," katanya sambil menunduk. "Sepertinya saya harus mendandani Anda."


"Buat apa?"


"Buat apa?!" Aku tak menyangka wanita tua itu akan mengelak. Apakah ia sudah terbiasa bersikap seperti ini kepada putra-putri kerajaan? Aku melirik sayapnya yang juga berwarna emas. Sepertinya iya, dan sepertinya ia berhak bersikap demikian.


"Seorang putri tentu harus bertampil cantik di depan umum." Ia menarikku, kemudian sudah menyiapkan segalanya. Sementara ia menyisir rambutku, aku terus memegangi jubahku, tidak ingin sayapku terlihat.



"Apa kau salah satu anak Raja?" Tanyanya sembari menyisir rambutku. Aku menggeleng-geleng.


"Hm, wajar sih," lanjutnya lagi. "Kau terlihat sangat cantik untuk menjadi salah satu kaum buangan."


Aku hanya mengangguk, tidak berani mengeluarkan suara. Aku tak terbiasa berbohong kepada orang lain. Namun sepertinya wanita ini percaya-percaya saja bahwa aku salah satu Fae Royal.


"Dimana Callum?" Tanyaku.


Ia langsung berhenti menyisirkan rambutku. Disitu aku tahu bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. Bodoh! Seharusnya kau menyebutnya dengan gelarnya!


"Putri Alena, seperti apa hubunganmu dengan Sang Pangeran?"


Glek. Aku susah payah menelan ludah. Kalau aku mengikuti cara Callum dan berpura-pura menjadi pasangannya, wanita itu pasti mengira Callum sudah jatuh hati pada salah satu anak selir. Aku tak mau menurunkan harga dirinya.


Untungnya aku tak perlu menjawab karena pintu sudah terbuka. Callum sudah mengenakan baju ala pangerannya. Parasnya sangat menawan. Tidak ada lagi lelaki muda kotor yang diam-diam menaiki kuda bersama seorang gadis. Yang ada seorang pria dewasa.


Dalam hati aku bangga telah memotong rambutnya dengan benar.


"Yang Mulia Pangeran." Wanita itu memberi hormat. "Saya baru saja selesai mendandani gadis ini-"


"Miss Dorothea. Lama tak bertemu," sapa Callum sambil tersenyum. "Kau masih menjadi seorang pengasuh?"


"Terakhir kali aku melihatmu berpuluh-puluh tahun yang lalu."


Berpuluh-puluh tahun yang lalu? Apa itu artinya, ia sudah minggat dari kampung halamannya sejak masih sangat muda?


Miss Dorothea tersenyum simpul. "Anda sudah berubah menjadi dewasa. Dan semakin tampan."


"Tentu saja," balas Callum sambil tertawa. Ia lalu menggandeng tanganku. "Rupanya kau sudah bertemu dengan pasanganku."


"Pasangan?!"


Oh, tidak. Bagaimana ini?! Aku menggigit bibir bawah sembari menundukkan kepala.


Tak kusangka, wanita itu malah terlihat lebih gembira dibanding sebelumnya. "Anda serius?! Setelah sekian lama tak memiliki wanita, akhirnya Anda memiliki pasangan!"


"Haha," aku pura-pura tertawa, sedangkan Callum terus meremas tanganku.


***


"Aku baru tahu kau tak pernah memiliki wanita sebelumnya," ujarku kepadanya saat kami sedang berada di luar istana. Callum mengajakku ke salah satu taman di sayap barat istana. Taman itu memiliki paviliun kecil, dan juga tanaman hijau yang tumbuh dimana-mana. Jendela kaca membiarkan sinar matahari masuk, sampai-sampai membuat mataku sakit.


"Sebenarnya ada. Tapi Dorothea terlalu mengenalku. Ia tahu aku tidak serius dengan mereka." Callum membiarkan kupu-kupu terbang di sekitarnya. Aku sampai harus menahan detak jantungku untuk tidak mimisan.



Aduh. Aku tercengang melihatnya. Kenapa hidupku tiba-tiba menjadi indah?


"Alena?" Sekarang ia sudah menghampiriku dan tersenyum. "Sebetulnya aku mendengar apa yang wanita itu katakan kepadamu."


"Hm? Apa itu?"


Ia menarik lenganku, lalu menyentuh pelan pipiku. "Putri."


"I-itu...bohongan."


"Tapi buktinya ia percaya-percaya saja kan?" Ia sengaja memoncongkan bibirnya dan menaikkan dagunya dengan sombong. "Memang sih, kau terlihat jelek."


"Apa?!" Aku memukul lengannya. Ia kembali tertawa. "Ampun, tuan putri!"


"Kau ini!" [minta ditampol -> kata authornya 😂]


Aku menaikkan sebelah tanganku lagi, hendak memukulnya, namun ia malah menangkap tanganku.


"Ups!" Ia menarik tubuhku semakin dekat, dan membenarkan poni rambutku yang beterbangan. "Aku hanya bercanda. Kau ini gadis tercantik yang pernah kulihat."


Aku langsung merona. Senyumnya tiba-tiba memudar dan ia mendekatkan wajahnya padaku. Mata birunya sudah setengah terpejam.


Mataku tiba-tiba terfokus pada bibirnya yang basah. Sebuah sensasi tiba-tiba muncul dari dalam diriku. Aku menutup mata, bersiap untuk mendapat ciuman darinya, namun bibirku masih menyentuh angin.


"Callum?" Aku kembali membuka mata. Sebuah suara terdengar dari belakangku.


"Kau sudah pulang?" Itu suara perempuan.